Menjalani
kehidupan sebagai mahasiswa memang sebuah transformasi pola pikir
besar-besaran. Banyak ideologi baru tumbuh, atau setidaknya cara pandang
terhadap hal-hal lain menjadi berubah. Tidak pelik lagi, ini pun terjadi pada
diri gw. Semangat membuat target-target gila, bermimpi tanpa batas, dan berani
berpetualang. Semakin mendekati kelulusan, anehnya gw justru semakin samar
dengan tujuan utama yang ingin gw capai. Apa sih yang sebenernya gw mau? Abis
lulus kuliah, terus mau ke mana, jadi apa?
Kali ini gw mau
berbagi pengalaman gw dalam menghadapi kegamangan yang umum terjadi pada setiap
mahasiswa tingkat akhir hingga memasuki status fresh graduate. Serius, bahkan
saat udah lulus pun gw masih gamang dengan masa depan gw. Memang yang namanya
merencanakan masa depan itu gampang, tapi realisasinya yang “cukup” sulit. Sulit,
tapi mungkin berhasil.
Disclaimer: postingan ini bakal puanjang, terinspirasi dari kisah pribadi yang mungkin gak semenarik kisah-kisah di sinetron India
Bermula
dari…
Masa-masa saat
mahasiswa tahun pertama adalah masa di mana gw menerima banyak siraman rohani
yang mencerahkan mata batin gw *apa sih…* maksudnya, gw banyak dapet ilmu dan
insight dari berbagai macem sumber, misalnya: seminar, ceramah dosen, workshop,
bacaan, film, tokoh-tokoh di organisasi, dll. Secara, semangat muda masih
menggebu-gebu dan gw kebawa sama labelling kampus gw yang konon katanya
pencetak generasi unggul bangsa. Gw mulai membuat idealisme sendiri. Dengan
percaya diri, gw nulis 100 hal yg mau gw lakuin di dalam hidup gw. Dan gw pun
udah bisa milih “profesi” atau mau jadi apa sih gw selepas lulus nanti. Gw
termasuk orang yang suka baca buku atau artikel elektronik yang bertemakan
pengembangan diri. Contohnya karya-karya Ahmad Rifa’i Rif’an dan Prof. Rhenald
Kasali. Saat itu gw mencoba memaknai diri gw sendiri, dengan referensi
bacaan-bacaan tersebut pastinya. Jadilah, gw mengidentifikasi minat n bakat gw
secara real dan terlepas dari opini siapapun dan rintangan apapun: gw mau jadi
sociopreneur.
Ini dilandasi dari panggilan hati gw yang pengen membantu orang
lain yang kondisinya susah. Gw mau membuat orang lain jadi sejahtera, bahagia,
dan menumpas kemiskinan dan kebodohan. Secara spesifik, gw bermimpi bisa
tinggal di daerah Indonesia yang masih terpencil dan mendirikan sebuah NGO
untuk memberdayakan masyarakat di sana. Mungkin bisa dibilang itu mimpi yang
gak terlalu muluk, tapi pastinya sebuah mimpi yang sangat berani karena berisiko
tinggi. Keputusan itu bisa membuat perubahan yang drastis di hidup gw, bahkan
keluarga gw. Idealisme itu masih terjaga sampe gw memasuki tahun pertengahan
kuliah, dan ini semua berubah ketika gw udah masuk tahun ke-4 alias mulai
semester 7.
Berani bermimpi
berarti menanggung konsekuensi untuk berani merealisasikannya. Sayangnya,
realiasi kadang terbentur oleh banyak faktor, baik itu hambatan internal maupun
eksternal. Kadang pula, pikiran kita sebetulnya belum yakin betul akan pilihan
tersebut dan masih mengembara untuk menemukan tujuan yang benar-benar cocok.
Memasuki tahun
ke-4 kuliah, rasanya idealisme gw mulai turun level satu persatu. Yang tadinya
gw bilang “ogah ah jadi pegawai”, akhirnya mulai bilang “gak papa kali ya
dicoba…” yang tadinya udah fix mau bergabung ke NGO, mulai mikir ulang lagi. Yang
tadinya mau effort maksimal buat nyari beasiswa S2 ke luar negeri, mulai bilang
“dalam negeri it’s okay”, malahan “kerja dulu aja deh”. Huft, gw ngerasa kayak
layang-layang yang gampang terbawa angin. Gak bisa stay still di satu jalur.
Karena gw
ngerasa kayak gak punya pendirian, akhirnya gw tegasin ke diri gw sendiri kalo
gw harus tetapin batasan. Maksudnya, inilah prinsip utama yg gw rujuk sebelum
membuat keputusan dan… selama gw masih berada dalam koridor yang udah gw
tetapin batasannya, so jalanin aja.
Dan batasan yang gw pakai adalah:
1. Q.S Al-Baqarah: 216
“Boleh jadi kamu kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Well, semoga gw gak salah menafsirkan ayat ini. Menurut gw, ayat ini
bisa dijadikan landasan buat gak terlalu fanatik dengan suatu goal. Kalo gitu
effortnya jadi setengah-setengah dong? Bukan. Tapi, persiapkan lebih dari satu
life plan. Tentunya semua manusia punya passion, dan gw yakin passion itu gak cuma
satu. Ketika kita menetapkan sebuah goal berlandaskan sebuah passion, maka
kejarlah goal itu. Namun, ketika ternyata gak berhasil, itu bukan akhir dari dunia.
Masih ada passion lain yang bisa kita kembangkan dan kita kejar. Karena sesunggunhya
Allah lebih mengetahui mana yang terbaik. Gw udah pernah mengalami kegagalan
kayak gini dan ayat inilah yang menjadi obat pereda depresi gw. It works really
well.
That’s why, selain menjadi sociopreneur maka gw juga membuat
berbagai plan lainnya. Tinggal nunggu kesempatan mana yang terbuka lebih lebar.
2. Ridho orang tua
Ini! Sejak dulu, setiap gw mau apa-apa pasti lapor ke orang tua
adalah hal terakhir yang gw lakukan. Karena gw rada males kalo harus jelasin
panjang lebar ke sesuatu yang belum pasti, makanya gw biasanya nunggu sampe
sesuatu itu fix jadi barulah gw lapor ke bonyok. Terutama nyokap, pasti nanya
macem-macem.
Contoh kasus: waktu itu gw daftar program mengajar (semacam
program Indonesia Mengajar) di daerah Lampung, karena seleksinya panjang dan gw
belom tau bakal lolos atau ga, gw jalanin deh tu prosesnya sampe ternyata gw
dinyatakan lolos dan bakal jadi pengajar volunteer di Lampung selama setahun. Wih
seneng dong pastinya gw. Setelah keluar pengumuman, baru deh gw minta ijin ke
nyokap. Ternyata doi gak setuju abis, malah marahin gw kenapa main
daftar-daftar aja tanpa minta ijin dulu sih. Hm, gw sedih banget karena
melewatkan kesempatan itu. Tapi gw jadi dapet pelajaran berharga, bahwa sikap
gw yang menaruh restu orang tua di langkah terakhir itu salah besar. Udah banyak
yang bilang sebenernya kan, ridho Allah ada pada ridho orang tua. Dasar gw nya
aja ndablek. Gak lagi-lagi deh. Jangan ditiru ya gaes. Minta restu ortu lah
sebelum memulai sesuatu, supaya mereka turut mendoakan kita mendapat
kelancaran.
3. “Kesempatan gak datang dua kali”
Ini merupakan hukum alam yang udah diketahui banyak orang. Mencoba sebuah
kesempatan kadang diasumsikan sebagai mencari peruntungan. Siapa tau berhasil, gitu
kan? Tapi bukan ini prinsip utama gw. Memang, gw udah punya goal awal, tapi
bukan berarti gw menutup kemungkinan yang lain, karena landasan utama gw adalah
apa yang gw tulis di poin 1. So, setiap ada kesempatan yang datang, biasanya
akan gw ambil.
But! Bukan berarti mengambil semua kesempatan dengan
membabi-buta, tetep difilter yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Dan lagi,
mengambil kesempatan itu bukanlah mencari peruntungan. Gw pernah baca sebuah
statement (lupa siapa yang nulis) dan gw setuju banget, bunyinya
“Keberuntungan
itu datang ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”
Ini berarti, kesempatan
gak ada artinya kalo kitanya juga gak siap. Maka, ada baiknya untuk kita selalu
berbenah diri dan mempersiapkan diri yang terbaik, maka ketika kesempatan datang
kita bisa menyambutnya dengan siap.
Gw inget perkataan kakak pertama gw yang pernah berpesan sama gw,
intinya “jangan takut buat mengambil setiap kesempatan baru, karena kesempatan
itu bikin kita berkembang”. So, seiring dengan waktu bergulir maka biasanya
akan muncul kesempatan yang datang dari berbagai arah. Maka gw beraniin diri
untuk mencoba dan mengatakan “ya” ketika kesempatan datang. Mungkin juga kan,
itu rencana tak terduga dari Allah. Meskipun kesempatan itu mengharuskan kita keluar
dari comfort zone, nikmatin aja. Anggaplah itu tantangan, kalo lolos, kita jadi
pemenang. Life begins when we leave our comfort zone, right?
Sebuah kisah
nyata
Balik ke kisah
pribadi lagi yak… btw ni postingan kayaknya panjang banget yak.. rapopo lah ya.
Jadi, balik lagi ketika gw udah mulai menurunkan level idealisme gw. Akhirnya
gw memutuskan untuk mengikuti arus kehidupan sejenak, seenggaknya untuk ngeliat
ada apa di ujung jalan nanti. Takdir apa yang akan gw temui?
Jaman-jaman
skripsian, gw mikir kalo skripsi gw bakal B aja. Judul bikin ndiri, semua pake
biaya ndiri, paling wilayah penelitiannya juga deket-deket aja. Tapi, sebuah
kesempatan membawa gw untuk ikut sebuah penelitian hibah yang ternyata membuat
rencana skripsi gw berubah 180 derajat. Berawal dari situ, gw mulai kenal
dengan komunitas masyarakat adat yang hidup di daerah yang… let’s say cukup
terpencil di Indonesia. Gw mulai berpikir kalo ini bisa jadi pembuka jalan
untuk merealisasikan mimpi lama gw buat jadi sociopreneur, ditambah lagi dosen
pembimbing gw juga menolong membuka jalan-jalan berikutnya. Alhamdulillah, gw mulai
antusias lagi dan ngerasa kalo inilah masa depan gw. tapi, jalan kenyataan
memang tidak selalu mulus. Pun akhirnya, karena berbagai hal gw juga gak
menjalankan realisasi mimpi itu sepenuhnya.
Tebar jaring
Lalu rencana gw
pindah lagi buat preparing S2 sebelum wisuda. Saat itu urusan skripsi udah
hampir selesai, tinggal urus wisuda dll. Gw punya banyak waktu luang yang gw
rasa sayang kalo dilewatkan cuma buat preparing S2 (gw pikir ini bisa dikerjain
secara paralel dengan kegiatan lain). So, gw mulai gencar cari kegiatan
macem-macem wkwk. Yang penting gak nganggur deh, karena gw jadi rese kalo
nganggur. Akhirnya dalam satu waktu berdekatan, gw daftar ke 3 kegiatan
berbeda. Pertama, kegiatan volunteer mengajar yang gw ceritain pada poin 2 di
atas. Kedua, kegiatan yang awalnya gw kira training namun ternyata itu job
offering. Ketiga, program short course di Thailand yang udah gw ceritain di
postingan sebelumnya.
Mulai kerja
Karena saat itu kegiatan
pertama dan ketiga masih dalam proses seleksi, gw pun menjalani kegiatan kedua which
is kerja jadi freelancer. Jadi, kerjaan freelance ini mengharuskan gw untuk
dateng ke kantornya sesuai dengan office hours karyawan. Berhubung udah gak ada
kuliah juga, jadi fine fine aja sih. Berlokasi di Tebet, kantor gw ini adalah
sebuah start-up company yang bergerak di bidang pendidikan. Isinya mayoritas anak
muda dengan ide-ide segar, pembawaan kasual, dan kreativitas tinggi. Sistemnya kontrak
per sekian bulan, dan selama masih ada pekerjaan maka akan terus diperpanjang.
Following the
mainstream: seleksi CPNS
Kemudian gw
terusik lagi dengan kesempatan baru yaitu lowongan CPNS 2017. Kali ini nyokap
gw mendukung penuh gw buat ikutan, heu. Awalnya bingung parah menentukan
formasi mana dan kementerian/lembaga mana yang mau gw pilih. Kemudian gw
memprioritaskan peluang, barulah minat. Akhirnya gw daftar juga ke suatu
formasi CPNS di sebuah kementerian yang menyediakan kuota cukup banyak untuk
formasi yang sesuai dengan background pendidikan gw. Untuk regionnya, gw pilih
Jakarta karena nyokap gw gak ngebolehin gw merantau. “mendingan gak usah jadi
PNS kalo nanti kerjanya jauh” begitu ucap doi, yaudah gw mah nurut bae. Padahal
peluang buat keterima di kantor wilayah itu lebih gede dibanding kantor pusat,
begitu analisis gw (dan ternyata betul).
Seleksi CPNS
berbeda-beda alurnya tiap kementerian/lembaga. Gw daftar di Kementerian Agraria
dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Selanjutnya kita singkat jadi
ATR/BPN. Alurnya adalah melewati seleksi administrasi yang mengharuskan gw
mengirim berkas seperti kartu pendaftaran, surat lamaran, FC ijazah dll. Setelah
lolos, kemudian seleksi Tes Kemampuan Dasar (TKD). Kalo ini, semua
kementerian/lembaga pasti melewati tes ini, dan soalnya sama yaitu semacam Tes
Potensi Akademik (TPA). Sistemnya berbasis input elektronik menggunakan komputer,
atau yang disebut dengan CAT. TKD sendiri memiliki bobot 40% dan terdiri dari 3
jenis soal, yaitu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), Tes
Karakteristik Pribadi (TKP). Nanti skor masing-masing akan dijumlah dan jika memenuhi
passing grade maka dinyatakan lolos. Nah, buat passing gradenya bisa
disearching di tempat laen deh ya karena ini bukan website khusus membahas CPNS
hehe. Waktu itu gw belajar dari soal-soal tes CPNS yang ada di website-website.
Terus ada yang nyediain simulasi gratis juga. Nyari tips n trick buat
memecahkan berbagai tipe soal, terutama tipe TIU karena kadang gw rada lemot
orangnya. Setelah semua usaha terasa cukup, selanjutnya tinggal tawakkal.
Jika TKD lolos,
maka masuk ke seleksi selanjutnya yaitu Tes Kemampuan Bidang (TKB) yang
memiliki bobot 60%. Saat itu gw bener-bener have no idea bakal kayak apa soal TKB
nya Kementerian ATR/BPN. Alhasil gw tanya-tanya temen gw yang pernah kerja di
ATR/BPN, di sana kerjanya butuh pengetahuan apa dan gw pun belajar sesuai
kompetensi yang doi bilang.
Ternyata… jeng jeng. Soal yang keluar tidak sesuai
ekspektasi samsek bung. Soalnya persis kayak SBMPTN atau soal OSN Geografi. Tipikal
gak begitu susah sebenernya, tapi… kalo udah lupa materinya dan apalagi kalo
gak pernah belajar itu sebelomnya, pasti gak bisa jawab. Udah gitu, ada 1 soal yang
cacat gitu, soalnya gak lengkap dan gak bisa dijawab apa-apa, tapi terhitungnya
salah -_-
Btw, hasil TKD
gw saat itu adalah 240 dan TKD nya 370. Skor tersebut mengantarkan gw ke
peringkat 11 dari peserta yang diterima sebanyak 10 orang. 1 lagi! Nyesek abis.
Gw nangis. Tapi yasudahlah mungkin emang bukan jalan gw. yang penting udah
usaha maksimal. Nah ini salah satu hal yang suka bikin gw kesel (haha) yaitu
ketika seseorang berhasil tapi dia malah bilang “padahal gw gak belajar loh”, “padahal
gw cuma baca H-10 menit ujian” atau semacam itu. Kesannya…. Hmmm, tidak
menghargai orang lain yang berjuang. Pasti kan yang denger sedih. Seenggaknya tunjukin
kalo lo juga berjuang, jadi semua merasa diperlakukan secara fair.
Seorang temen
bilang kalo posisi gw di hasil akhir itu masih ada kemungkinan naik, karena
biasanya nanti ada yang mengundurkan diri atau ga melanjutkan pemberkasan
akhir. Kalo bener ada, maka gw bisa naik peringkat dan jadi CPNS. Tapi gw ragu,
siapa sih yang mau ngelepas kesempatan jadi PNS di Jakarta? Apalagi udah
ngelewatin semua seleksinya gini.. humm, but who knows.
Makanya, jangan gatel!
Lalu.. waktu
bergulir. Sebenernya agak gak baik juga sih “kegatelan” daftar berbagai
kegiatan dalam satu waktu gini. Pasti pada akhirnya gw harus memilih satu
kegiatan aja dan melepas yang lainnya. Setelah gw dilarang untuk menjadi
pengajar volunteer di Lampung, maka kini plan gw mengerucut jadi 2: menunggu
kepastian dari CPNS atau ikut short course ke Thai. Setelah ditunggu
berbulan-bulan, tuh CPNS gak ada pengumuman apa-apa, so gw mulai memfokuskan
diri untuk ikut short course. Gw mikir lagi, kalo gw ikut kegiatan ini maka
artinya selama 3 bulan gw bisa mendapat banyak hal baru namun sekaligus
kehilangan berbagai kesempatan juga di Indonesia. Akhirnya gw memilih menjalani
3 bulan untuk mendapat hal-hal baru yang gw harap bisa jadi investasi buat masa
depan gw. Goal gw selanjutnya adalah membuat gw able to speak and listen in
english CLEARLY.
Selama 3 bulan itu gw harus bisa mendapat kemajuan yang
progresif, maka selain belajar bahasa Inggris gw juga nyambi menulis proposal
rencana penelitian untuk apply S2 di Kyoto University dll. Rencana gw
selanjutnya adalah sepulang dari course ini, gw udah mengantongi LoA dari
universitas luar negeri.
Kabar tak terduga
Belum setengah
masa program short course gw jalani, gw mendapat sebuah kabar yang membuat mata
membelalak. Ternyata bener kata temen gw. Ada kandidat CPNS yang mengundurkan
diri di formasi gw, alhasil gw dan satu orang naik posisi untuk menjadi peserta
pengganti. Gw mendapat email dari ATR/BPN pada tanggal 17 Januari 2018 dan
sedihnya gw baru membuka email itu pada tanggal 31 januari 2018. Soalnya selama
di Thai gw gak pake layanan internet, dan kita punya beberapa kegiatan field
trip jadi akses internet gw terbatas. Well, kisah ini emang sulit dipercaya dan
mengandung banyak drama.
Seharusnya gw melakukan pemberkasan akhir pada tanggal
19 Januari. Gw tanya deh tuh lewat email, kasus gw ini bisa ditolerir ga. Tapi gak
dibales-bales emailnya. Makin gamang aja gw. Di rumah, keluarga gw pada kecewa
banget begitu gw kasih tau. Sampe akhirnya nyokap gw bilang “yaudah, belum
rejeki kamu”. Ya Allah, kenapa takdir-Mu begitu berliku-liku untukku? Batinku sedih.
Karena sedih dan bingung dan agak kesel, mood gw sempet kacau sewaktu masih
dalam program course. Hingga akhirnya gw memutuskan untuk give up dan merelakan
harapan itu pergi. Gw mau fokus untuk short course ini. hingga akhirnya pada
suatu hari, seorang temen ngechat gw, setelah gw ceritain kisah gw ini dia
meng-encourage gw buat memperjuangkan kesempatan itu.
Gw pun inget sama
filsosofi yang gw pegang, “kesempatan gak dateng dua kali.” Now or never. Oke akhirnya
gw dibantu sama temen gw itu mulai menghubungi orang bagian kepegawaian
langsung, bahkan gw minta abang gw buat ke kantor ATR/BPN dan menemui pihak
kepegawaian. Alhamdulillah.. ternyata gw diperbolehkan menyusul. Betul ternyata,
sekali dapet kesempatan harusnya kita perjuangin semaksimal mungkin, karena
dengan berjuang maksimal maka gak akan ada yang kita sesali nantinya ;)
Itulah alasan
kenapa gw mengakhiri program course gw di tengah jalan dan pulang ke
Indonesia.. sebetulnya sedih banget, tapi seneng banget juga. Setelah pulang
pun gw langsung cepet mengurus kelengkapan berkas yang dibutuhkan seperti SKCK,
keterangan sehat, bebas narkoba, dll. Dua hari lamanya waktu yang gw habiskan
untuk mengurus berkas-berkas tersebut, dan akhirnya gw serahkan langsung ke
kantor ATR/BPN.
Memang, kita gak
pernah tau ke mana takdir akan membawa kita. Semoga setiap perjalanan yang kita
ambil ini mengantarkan kita ke muara yang indah ya J