Pages

Slowing the Steps

15 Maret 2021

Beberapa minggu belakangan ini, aku merasakan beban berat di kepalaku. Beban yang terakumulasi dari masalah personal dan tekanan pekerjaan yang sedang gila-gilanya di awal tahun. Berbarengan dengan itu, kondisi lelah fisik akibat working from 7-9 (yes, I spend 13 hours a day to work in average) membuatku akhirnya terkonfirmasi positif terpapar Covid-19. Singkat cerita, situasi ini membawaku menghabiskan 10 hari isolasi mandiri di sebuah tempat. Mengurung diri dari lingkungan luar, mengubah pola rutinitas yang sudah terbiasa, bukan hal mudah. Meskipun terdengar sebagai hal yang cukup menyenangkan, istirahat dalam waktu isolasi mandiri ini perlahan membuatku bosan setengah mati. sudah 2 season drama korea kulumat dalam 5 hari pertama, selebihnya aku bingung ingin berbuat apa lagi. Kata mereka, lakukanlah hal yang bisa membuat bahagia sehingga imunitas tubuh meningkat. Tapi kalau aku menuruti itu, waktu isoman ku hanya akan diisi untuk menontoni drama yang kadang bikin stress juga karena tokoh-tokohnya yang bikin geram, haha.

Until one day my mind turn to its sanity. Aku berpikir kenapa nggak aku manfaatkan waktu luang ini untuk melakukan hal-hal yang selama ini aku ingin lakukan tapi selalu tertunda karena alasan tidak ada waktu. That Aha moment drove myself to start opening laptop which I didn’t think to open it before, except if there’s emergency work. Kala aku menekan tombol power, berbagai hal langsung terlintas di benakku: membenahi file-file di storage ku, menginstall software penting yang belum ada di laptop, belajar untuk persiapan TOEFL, dan sebagainya. Ah, ternyata banyak sekali hal yang bisa kulakukan, dan itupun bukan hal yang memberatkan pikiranku. Justru aku senang melakukannya, tapi tidak terpikirkan karena aku terlalu dimabukkan oleh drama yang sebenarnya… apa ya manfaatnya? Ternyata benar bahwa waktu luang itu merupakan salah satu bentuk ujian, tidak mudah ternyata untuk bisa mengatur waktu luang. Ada kemungkinan bahwa justru diri kita yang akan diatur oleh waktu luang.

Di sela-sela waktu yang terlalu luang ini, kusempatkan diri untuk berkontemplasi akan hal-hal yang telah kulalui belakangan ini. Mencoba untuk menggali lebih dalam, mencari akar dari setiap cabang permasalahan. Teringat Kembali akan salah satu episode dari channel YouTube Greatmind dalam seri Weak Ties-nya, yang berjudul Burnout. Rasanya, apa-apa yang kualami sama persis dengan kondisi yang dijelaskan dalam video tersebut, dan aku menyadari bahwa penyebab kepalaku “sakit” akhir-akhir ini adalah karena aku mengalami burnout. Singkatnya, pikiran dan fisik yang terlalu diforsir melebihi kapasitasnya. Mungkin bagi orang workaholic, overwork bisa dianggap sebagai rutinitas yang bisa ia nikmati. Tapi tidak semua orang menganggap work time se-joyful itu. Ada api semangat yang bisa memantik potensi seseorang, namun ada juga yang justru bisa membakar orang lain. Ditambah lagi dengan tempo fast-living dan multi-tasking yang diterapkan, aku merasa semakin tercekik dalam lingkungan keseharianku. Betapa sedihnya Ketika ada seseorang yang berkata kepadaku suatu hari “jangan kerja terus, hidup bukan Cuma buat di kantor doang” hell yeah I agree with that but…. i trapped in that condition and currently still looking for the way out.


So, how to get out of it?


1.       Identify things you should say “No” for

Sadar bahwa aku adalah tipikal people-pleaser dan ga enakan, kerap kali hal apapun yang diminta orang lain ku “iya”-kan semua. Sebenarnya ide ini sejalan dengan keyakinanku bahwa hidup adalah proses pembelajaran, sehingga setiap hal yang datang adalah challenge untuk mengupgrade diri. Tapi kini aku sadar bahwa ide itu tetap harus di-adjust dengan kondisi masing-masing individu. Jika kamu orang yang capable untuk handle many things at once, dan memang se-powerful itu, ga ada masalah untuk meng-iyakan banyak hal. Karena nyatanya memang ada orang yang tidak bisa “tidak sibuk” karena itulah yang membuatnya happy. Namun kalau diri kita adalah tipe yang mencari balance untuk hal-hal lain, harus lebih pintar mengatur mana porsi yang bisa kita sediakan untuk setiap kegiatan. I choose to make things balance, so I should prioritize what really matters. Lantas, gimana cara untuk mengatakan “tidak” bagi orang yang ga enakan? Coba untuk menolak dengan yakin, sertakan alasan dengan cara yang baik tanpa menyinggung atau terkesan eksklusif. Semangat mencoba, lama-lama akan terbiasa 😊

 

2.   Create your own rules/ life commandments

Aku menyadari bahwa memegang prinsip hidup itu sangat penting, karena hidup di antara masyarakat yang memiliki beragam cara pandang bisa mengikis value yang sudah kita pegang sebelumnya. Ini berarti harus diawali terlebih dahulu dengan membangun “values” atau nilai-nilai hidup yang menjadi landasan kita dalam menjalani kehidupan, yang bisa menjadi guide saat kita kehilangan arah. Seperti misalnya, aku mempelajari ilmu finansial dari buku maupun video serta membaca pengalaman-pengalaman hidup orang lain tentang manajemen keuangan, dampaknya adalah aku memahami value penting tentang finansial sehingga aku berprinsip bahwa aku tidak akan berhutang demi gaya hidup semata. Nah, hal-hal seperti ini tentunya ada banyak sekali seiring pengalaman hidup kita yang bertambah setiap harinya. Supaya nggak lupa, ada baiknya values hidup yang kita temukan di setiap perjalanan itu ditulis menjadi semacam your own rules lists. Dengan prinsip yang kita pegang teguh, maka karakter diri akan semakin kuat dan tidak mudah “diapusi”.

 

Dalam hal pekerjaan, value yang aku pegang adalah bahwa aku bekerja untuk penghidupan, bukan hidup untuk bekerja. Sehingga dalam 24 dalam sehari, aku tidak akan membiarkan semua waktuku tersita untuk memikirkan pekerjaan. Tentunya itu di luar tanggung jawab yang harus diselesaikan ya. Selain itu, Kembali kepada filosofi apa yang bisa aku lakukan dalam posisiku ini? Tentunya melakukan tugas sebaik-baiknya, tanpa motif tertentu. Fokuslah kepada apa manfaat yang bisa aku beri, bukan apa yang akan aku terima dari pekerjaan ini.

 

Sementara dua poin itu dulu, sebetulnya ada lagi sih, tapi karena suatu hal tertentu, aku akan lanjutkan nanti ya 😊

Read more ...

Cerita Akhir Tahun

28 Desember 2019
Aku baru sadar kalau tahun 2019 ini belum pernah buat tulisan lagi :')
entahlah, kalau dibilang gak punya waktu, sebenernya ada juga sih waktu luang untuk bisa mneghasilkan tulisan. tapi sekalinya punya waktu, rasanya aku mau melakukan hal-hal yang gak perlu bikin aku mikir, huehehe. karena di kerjaan udah mikir terus, aku merasa kalau otakku sudah mulai jompo, jadi harus di treatment biar kembali remaja lagi hehehe. caranya ya itu, kalau istirahat paling nonton youtube, film, paling bener ya baca buku tapi ga ditulis ulasannya. beda kalo dulu masih ada kemauan nulis poin-poin penting dari buku yang dibaca, sekarang cuma dibaca aja sambil berdoa supaya bisa diinget terus hikmahnya hahaha #sebuahkemunduran.

Soooo, how was this year?
Aku mencoba menyimpulkan tahun ini dengan sebuah kata yang bisa mewakili mostly part of the year: STRUGGLING YEAR
begitu baanyak kejadian yang bisa dikategorikan sebagai cobaan dan ujian yang memicu tumpahnya air mata, tapi sekaligus sebagai penempa diri ini menjadi sosok yang lebih kuat. aku belajar banyak dari ketidakpuasan, penolakan, kehilangan, dan hal-hal sendu lainnya. Tahun ini memberikanku masa di mana aku berada di titik terbawah dalam hidupku, namun ketika aku menengok kembali ke masa itu, aku menjadi lebih mengenal diriku sendiri #ceileeh. Ketika kamu jatuh, kamu bisa tahu seberapa tangguhnya dirimu. begitulah kira-kira. dan aku sekarang tahu kalau aku begitu tangguh.. wkwkwk .. luph luph myself deh pokoknya. I would like to give myself a standing applause :)

Oh ya, tahun ini juga menjadi sebuah turning point buatku, karena aku banyak berkontemplasi dan merenungi (ya kan emang kontemplasi itu artinya merenungi) hal-hal yang sebenernya aku mau dan aku gak mau. batasan-batasan apa aja yang boleh aku peduliin, karena selama ini aku terlalu banyak peduli sama banyak hal. harus bisa measure your ability dan bisa ngomong "cukup" atau "tidak" pada hal-hal yang membebani.. kesimpulannya sih, aku mau mulai nerapin minimalist lifestyle. dan aku mau mulai nerapin ke mindset aku dulu. mulai membuang hal-hal gak penting yang ada di pikiran. membuang sampah-sampah yang menumpuk di hati dan tubuh. hidup lebih sederhana tapi berarti.. untuk lifestyle yang lebih ke kelihatan dari luar, sementara belum diterapin, karena gaya hidup ini sangat sulit untuk diubah, gak papa perlahan yang penting berproses.

Salah satu langkah lainnya yang aku terapin adalah aku berhenti main instagram, facebook dan twitter. untuk IG, akunnya aku deactivated jadi gak bisa kubuka sama sekali. sementara fb dan twitter, akunnya masih aktif tapi hampir sama sekali gak pernah aku buka kecuali ada hal penting yang cuma bisa dicari tau lewat dua socmed itu. keputusan ini muncul karena aku cukup terganggu dengan ramainya netijen yang memperlihatkan kehidupannya, dan aku mulai membanding-bandingkan. padahal aku juga tau sih kalo yang mereka posting pasti cuma bagian happy-happy nya aja. yah, daripada aku ngabisin waktu buat liatin idup orang, atau malah mempublikasi hidup sendiri, mending waktunya buat yang lain aja~ eh tapi aku masih suka bikin WA story sih, hahaha, ini juga mau mulai aku kurangin deh. kalo bisa sih keep my live just for myself aja, dan gak semua hal harus diketahuin orang kan ;)

Semoga tahun depan bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, dan bisa lebih sering nulis di dini lagi. Aamiin.
Read more ...

Future

28 Desember 2019

Aku bangkit dari bangku taman kota yang sudah kusinggahi sejak 15 menit yang lalu. Tangan kananku masih menggenggam segelas kopi yang kubeli di minimarket dekat stasiun, sengaja kuhemat supaya bisa kuminum sambil berjalan nanti. Sepertinya berjalan sambil menyeruput kopi hangat akan memberi sensasi ala-ala winter di luar negeri, pikirku. Ah, imajinasiku jadi membayangkan kehidupan di negeri empat musim. Andai saja aku tidak terjebak di tempat ini, andai saja dulu aku tidak memilih keputusan itu, mungkin sekarang aku sedang berada di tempat yang bisa membuatku bahagia- a place that I sould be belong. Hei, memang kamu tahu kalau itu akan membuatmu bahagia? Salah satu sisi hatiku menentang imajinasiku dengan rasionalitasnya. Lho, sepertinya aku yang salah. Bukan imajinasiku yang terlalu liar, namun hatiku lah yang terlalu melankolis.
U should accept who you are now, ha. U’ve been here, there’s no a u-turn. Bibirku spontan tertarik ke kedua arah, bukan tersenyum, melainkan meringis.


Jam tanganku sudah menunjukkan waktu pukul 07.40. kakiku mulai menaikkan kecepatannya kala mengingat tinggal 20 menit tersisa untuk tiba di auditorium tempat akan dimulainya kelas pagi ini. Sedangkan aku masih harus mengejar satu bus dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Nasib memiliki rumah dan kampus yang lintas provinsi, dan membutuhkan tiga moda transportasi berbeda: kereta, bus, dan ojek. Sudah berkali-kali aku memohon restu untuk mengambil kost yang lebih dekat dengan kampus, namun mamah dengan segala teorinya tidak merestui itikadku. Baginya, selama masih bisa pulang ke rumah, itu masih jauh lebih baik ketimbang menjadi anak kost. Begitulah, sekali mamah bertitah akupun tidak mampu membantahnya, meskipun raga ini setiap harinya menjerit karena tidak mendapat perlakuan manusiawi di dalam kereta lintas kota. Mau enak? Naik taksi aja sana! Begitulah omel ibu-ibu yang tidak terima jika disalahkan atas ketidaknyamanan penumpang lainnya. Ada benarnya, tapi tetap saja semua harus saling menghargai kan? Jaga sikapmu, dan jaga ucapanmu.


Masih setengah jalan untuk tiba di halte bus yang akan datang dalam waktu 3 menit lagi. Aku berlari. Kopi di tangan kananku meluap dari tutupnya akibat goncangan yang kuberikan. Biarlah semua menumpahi tanganku, bahkan ini masih lebih baik dibandingkan luapan emosi dari dosen yang akan mengisi kelas pagi ini jika aku terlambat. Mau bagaimana lagi? Tamu bulananku sedang dalam masa puncaknya, perutku nyeri tidak karuan sehingga 15 menit tadi kuhabiskan dengan duduk di bangku taman hingga aku kuat berdiri lagi. Kalau alasan ini sampai tidak bisa diterima, kuyakin bapak itu akan menjomblo selamanya karena tidak bisa memahami kondisi perempuan. Kadang aku tak habis pikir dengan orang yang terlalu emosional seperti itu. Semua mahasiswanya harus membuat tugas dengan sempurna, jika tidak maka dia akan menggila. Pernah sekali dia tidak masuk mengajar karena pernah ada anak yang tidur di kelasnya, dan anak tersebut tidak diluluskan untuk satu semester di kelasnya. Benar-benar seseorang dengan daya ingat mengagumkan. Dan pengingat yang baik dengan sifat pendendam sungguhlah menakutkan. Mengingat hal tersebut, aku menaikkan lagi kecepatan lariku.


Dari kejauhan kulihat bus yang kutuju sudah mendekati halte. Seluruh hasil jogging ku setiap minggu sungguh berguna di saat-saat seperti ini. Syukurlah, tepat sebelum pintu bus ditutup aku sudah melompat ke dalamnya. Dengan terhuyung aku melangkah menuju sudut jendela, mencari sandaran. Entah apa yang berada di luar sana, bus yang melaju kencang tiba-tiba direm mendadak. Aku sontak terpental hingga kepalaku membentur sandaran kursi penumpang, dan seluruh pandanganku menjadi hitam.


Aku terbangun di tempat yang tak asing. Sebuah kasur dengan seprei kodok, persis seperti seprei yang sudah kubuang setahun lalu karena warnanya telah lusuh. Lho, mengapa seprei ini masih terpasang sekarang? Dan kamarku. Hei, mengapa kamarku seperti ini? di depanku terpampang schedule board yang berisikan berbagai kegiatanku selama sebulan ini. Mulai dari kegiatan akademis, organisasi, dan perkumpulan lainnya. Aku terjerembab di atas kasurku. Sepertinya jadwalku tidak sepadat ini. Aku termangu kala melihat sebuah tanggal dengan sebuah agenda yang sangat familiar. Tanggal 20 Agustus 2013: Ospek fakultas, kumpul jam 7 pagi. Bisakah ini kupercaya? Aku kembali ke masa di mana aku masih menjalani orientasi mahasiswa S1. Tepatnya mundur ke 6 tahun yang lalu…

Read more ...

Double “Wono” Experience

29 Maret 2018
Tulisan ini asli late post banget. Gw udah nulis dari taun lalu tapi belum kelar sepenuhnya, dan barulah gw rampungkan sekarang alih-alih ngisi waktu luang menunggu panggilan kerja. So, kali ini gw akan bercerita tentang perjalanan menyambangi dua daerah “Wono” yang terjadi saat gw masih berstatus mahasiswi bahagia nan mempesona *prett*.
Let’s cekidot~


Bagi mahasiswa Geografi, jalan-jalan adalah kebutuhan semi primer. Bukan sekadar untuk have fun, tapi juga untuk melatih insting sebagai seorang geographer *tsah*. Perjalanan ini dilakukan pada pertengahan Agustus 2016 (liburan semester genap) bersama temen-temen gw. Kami menyambangi dua kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki awalan kata serupa, yaitu Wonogiri dan Wonosobo. fyi, kata wono memiliki makna hutan dalam bahasa Jawa. Meskipun sama-sama berhutan, tapi karakteristik hutan yang mereka miliki berbeda. Biar lebih enak ceritanya, gw bakal pecah tulisan ini jadi dua sub-judul.


Wonogiri

Lokasi Wonogiri terhadap Jawa

Perjalanan ke Wonogiri ini pada dasarnya dilakukan dalam rangka menjalankan penelitian “ala-ala” dari organisasi di kampus kami. Sebut saja organisasi itu bernama Kelompok Studi Geografi UI atau disingkat KSG UI. Penelitian itu berjudul Potensi Ekowisata pada Wilayah Karst Gunungsewu di Kabupaten Wonogiri.

Karst? what the he** is that?

Karst adalah bentukan muka bumi yang terbentuk dari pelarutan batu gamping atau batuan lainnya yang mengandung CaCO3. Gampangnya sih, ketika kita liat tanah kapur atau batuan kapur, maka wilayah itu bisa jadi merupakan bentukan karst. Bisa jadi lho ya.. karena karst butuh proses yang lama untuk terbentuk, jadi nggak semua wilayah dengan batuan gamping atau kapur bisa dibilang wilayah karst. Bentukan karst contohnya adalah gua (termasuk interiornya), bukit karst, menara karst, dolina, uvala, dsb.

Nah, Wonogiri ini termasuk dalam wilayah karst terbesar di Pulau Jawa, yang dinamakan wilayah karst Gunungsewu. Karst Gunungsewu merupakan bentangalam karst yang memanjang di sebelah selatan Jawa dan meliputi 3 kabupaten, yaitu: Gunungkidul (Provinsi DIY), Wonogiri (Provinsi Jateng), dan Pacitan (Provinsi Jatim). Gunungsewu ini keren banget guys kalo dilihat lewat foto udara. Tapi jangan salah ya.. Gunungsewu ini bukan nama gunung, melainkan sebutan untuk wilayah karst yang dicirikan dengan banyaknya gugusan bukit karst di wilayah tersebut, makanya seakan-akan kayak ada “seribu gunung” (sewu=gunung).


Melihat dari keunikan bentangalam karst itulah, anak-anak dari organisasi gw memutuskan buat ngadain penelitian di daerah karst. Berhubung ketua dari organisasi kami saat itu punya sanak sodara di Wonogiri, maka jadilah kita spesifikan wilayah penelitian kita di Wonogiri aja. Poin plusnya juga kita dapet supporting system berupa tempat menginap dan lebih gampang juga buat berinteraksi dengan masyarakat di sana.

Untuk mencapai Wonogiri, kita naik kereta dan turun di Stasiun Purwosari yang berada di Surakarta. Dari sana, kita lanjut naik bus ke Wonogiri. Perjalanan naik bus di Wonogiri ini mantap banget. Jalurnya naik turun kayak di puncak, mana abangnya ngebut pula. Rasa ngantuk gw gak bisa tersalurkan karena badan gw sering terpental mengikuti alur jalan.


Survei lapang!

Hari berikutnya, survei lapang pun dimulai. Ini nih kesukaan gw. kita dibagi perkelompok berdasarkan geomer (wilayah penelitian) yang berbeda-beda. Waktu itu gw ber-7 dengan temen-temen gw, mendapat geomer di Kecamatan Pracimantoro, tepatnya kebagian 3 desa, yaitu: Desa Glinggang, Desa Wonodadi dan Desa Tubokarto. Tujuan kita adalah mencari obyek fisik karst baik yang udah dikembangkan menjadi objek wisata maupun yang belum (atau memang tidak), dan juga mewawancarai masyarakat setempat untuk melengkapi variabel sosial-budaya.

Sepanjang survei berjalan, kita menemukan obyek fisik karst berupa gua, mata air, dan dolina (secara lokal disebut dengan luweng). Meskipun kita menemui sejumlah gua, baru satu gua yang sudah dikembangkan menjadi objek wisata. Namanya gua Kencono Putri yang berada di Desa Wonodadi.
Sebelumnya mohon maap ya karena ada insiden hape ilang, foto-foto yang gw simpen selama penelitian jadi hilang semua :( ini sisa yang ada di kamera action dan hasil snapshot-an video


Di depan gua nemu ini


Interior Gua Kencono Putri, ada banyak stalaktit dan stalagmit

Sayangnya, objek wisata ini pun udah menurun eksistensinya dan mulai kehabisan pengunjung. Padahal gua ini punya endokarst yang lengkap dan fasilitas pendukung yang cukup memadai seperti toilet dan akses yang dekat dengan jalan raya. Sebagaimana kepercayaan orang Indonesia pada umumnya, sebagian dari mereka masih menganggap gua sebagai tempat yang keramat. Banyak yang mendatangi gua untuk menyampaikan hajat, meminta kesuksesan, dll. Pun juga di gua Kencono Putri ini. Di dalem gua ini kami menemukan beberapa titik yang diberikan sesajen. Selain itu, di luar gua juga ada larangan bagi perempuan haid untuk memasuki gua. Hm, apa ya alasannya?

Warning sign di depan pintu masuk gua


Selama survei, kami banyak bertanya pada warga mengenai keberadaan obyek karst di sekitar tempat tinggal mereka. Kami juga mendatangi kantor kelurahan setempat untuk tanya-tanya dengan aparatur desa. Di sini gw terharu banget karena di salah satu kantor kelurahan, kami dibeliin nasi bungkus buat makan siang. Dijamu selayaknya tamu banget deh. Mereka juga nganterin kita ke tempat sebuah luweng yang letaknya lumayan terpencil di dalem hutan. Bahkan mereka juga minjemin motor buat kita pake ke salah satu gua. Tapi karena motornya kurang, mereka minta anak-anak yang lagi pada maen di kelurahan buat nganterin kita pake motor mereka. Pengalaman gak terlupakan deh pokoknya!


Luweng

Susah banget buat ngambil gambar ini karena luwengya terletak di tengah-tengah hutan

Nah, gw sebenernya ga bisa mastiin apakah ini dolina ataukah gua vertikal. Yang jelas, lubang ini dalem banget dan ada air di bawahnya. Masyarakat setempat cerita kalo di daerah ini ada harimau jadi-jadian yang kadang menampakkan diri, dan luweng itu adalah rumah harimau tersebut. Menarik kan?

Pantai

KSG UI's birthday celebration at Pantai Nampu

Setelah selesai dengan kegiatan survei, kita semua caw ke Pantai Nampu buat ngerayain ulang taun organisasi kita tertjintah. Aksesnya harus pake kendaraan pribadi. Jalannya bergelombang, berliku dan rada sempit semakin mendekati pantai. Pantainya bagus, tipikal pantai terbuka yang dihiasi dengan karang landai di area shoreline. Ada gugusan bukit juga di sebelah timurnya.


Museum Karst

Objek wisata ketjeh terbaru abad ini: Museum Karst Indonesia!
Gak ada foto tersisa dari tempat ini, so gw comot gambar dari solopos.com

Kawasan karst Gunungsewu ini merupakan kawasan geopark yang udah diakui secara internasional, maka penting buat kawasan ini untuk punya fasilitas penunjang yang mumpuni. Museum karst ini berada di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. Didesain secara apik, pengunjung bisa memuaskan dahaga mereka tentang seluk beluk karst. Kita bisa melihat replika, peraga, gambar, diorama, dan menikmati pemutaran film pendek tentang kawasan karst Gunungsewu. Ini semua bisa kita nikmati secara GRATIS! Menurut gw, Museum Karst Indonesia adalah museum terbaik yang pernah gw kunjungi sampai saat ini. Worth to try!

Petualangan gw di Wonogiri ditutup dengan kesan yang sangat baik karena masyarakat di sana sangat ramah. Kalo mau ke kamar mandi, tinggal dateng ke rumah siapapun dan sang pemilik rumah akan sangat welcome. Pada malam terakhir, kita melakukan sosialisasi kecil-kecilan yang dirangkap dengan pesta tujuh belasan masyarakat, lalu dipererat dengan acara makan bersama. Sungguh, kehangatan masyarakat yang kayak gini ternyata masih nyata adanya *terharu*.

Selesai kegiatan di Wonogiri, gw dengan 5 orang temen memang udah berencana untuk mampir ke rumah salah satu dari mereka yang orang asli Wonosobo. Jadilah kami berenam, sekelompok wanita berhati sutra, bermental baja, berstamina kuda; bertekad menjelajahi Wonosobo sampai dengkul tak sanggup lagi. Yuhuuuuu.


Wonoso-wow!

Target utama kami ke Wonosobo ini adalah buat menjejakkan kaki di puncak Gunung Prau. Ya, gunung yang menjanjikan panorama langit dan lautan awan di depan mata ini harus kami tapaki. Bagi gw pribadi, ini adalah pertama kalinya mendaki gunung sampe puncak. Meskipun dulu waktu masih maba ada beberapa kegiatan ekskursi ke kawasan Gunung Salak, tapi kita cuma mendaki sampe lereng gunung. Sampe lereng aja itu rasanya capek banget. Ya, buat ukuran pemula itu udah jadi gambaran seberapa besar usaha yang harus dilakukan buat sampai ke puncak. Pasti berkali-kali lipat lebih capek dari itu. Beberapa tips yang bisa gw kasih sebelum memulai kegiatan berat (in this case, mountaineering) adalah :

  1. Jogging! Perbanyak olahraga sebelum memulai perjalanan berat. Biarkan otot dan tubuh kita terbiasa dengan kerja keras sehinggga nanti gak “kaget”. Nah, cara yang paling enak itu adalah jogging, baik itu pagi hari atau sore hari.
  2. Perlancar pencernaan. Ini penting BGT. Gak mau kan nanti di tengah gunung tiba-tiba butuh ngeluarin “itu”. Ada temen gw yang kalo bepergian ke gunung suka bawa diapet atau entrostop (obat pengeras feses), jadi buat penahan biar gak BAB. Gw kurang tau sih apakah tindakan itu aman di mata kesehatan. Tapi gw ngerasa……. Itu gak baik, karena mengganggu sistem alami tubuh. Kasian juga kalo harusnya lancar jadi dihambat. Persepsi gw aja sih hehehe.
  3. Baju Hangat bawa yang lengkap! Mulai dari jaket tebal, sleeping bag, sarung tangan, kaos kaki, pokoknya jangan ada yang terlewat deh. Gw pun awalnya agak menganggap enteng keperluan ini dengan alasan males bawa yang berat-berat (but seriously, kalo naik gunung harus siap ribet demi keamanan dan kenyamanan), karena di puncak, apalagi pas malem hari, bakal dingin banget. Jangan sampe kena hipotermia dan ngebahayain diri sendiri, atau malah ngerepotin orang lain.
  4. Bikin manajemen perjalanan. Ini adalah hal mendasar yang selalu diajarin oleh para senior gw di kampus kalo mau melakukan perjalanan ke alam liar *tsah*. Percaya deh, hal apapun kalo terarah dan termanage bakal mempermudah tujuan kita. Jadi, manajemen perjalanan yang gw maksud adalah:
- bikin target mau ke mana aja dan kapan, atau bisa dibilang rundown kasar perjalanan
- targetin jam maksimal buat tiba di puncak. Usahain banget udah mendirikan tenda sebelum malam, jadi begitu udara dingin bisa langsung berjubel di dalem tenda
- bikin list APA aja yang mau dibawa dan SIAPA yang membawa, pastiin tiap barang dibawa oleh orang yang tepat. Misal, makanan dan minuman jangan dipusatkan di tas satu orang, melainkan setiap orang harus bawa supaya menghindari kemungkinan terburuk: kelaparan/kehausan di tengah jalan


OTW to Prau

Jalur yang kita gunakan adalah via Patak Banteng. Untuk menuju basecamp Patak Banteng, kami diantar oleh sanak famili temen gw dengan mobil. Di sekitar basecamp banyak terdapat tempat penyewaan alat-alat outdoor, kami juga menyewa tenda di sini. Setelah memastikan semuanya siap, kami memulai pendakian sekitar jam 15.30 WIB. Trek paling awal yang kita lalui adalah jalur anak tangga yang puanjang abis. setelah itu dilanjutkan dengan tanjakan aspal yang landai-landai curam. Kemudian, trek yang sebenarnya pun dimulai. Gak ada lagi aspal ditemui, melainkan tanjakan alami dari tanah yang semakin tinggi menjadi semakin curam. Suhu pun semakin turun sehingga nafas jadi sedikit sulit. Tapi pemandangannya mantap djiwa!

Up up

Waktu itu, jadi kita secara gak sengaja “mencar” jadi dua grup, yaitu grup pendiri tenda dan grup jalan santai (wkwk). Bukan santai juga sih, tapi meyesuaikan kemampuan trekking temen yang lain. Kalo grup pendiri tenda ini punya misi buat sampe ke puncak sebelum matahari terbenam, maka diutuslah gw dan seorang temen buat mengemban tugas suci tersebut. sedangkan yang lain jalan lebih lama, yang penting semua tetap kuat dan sampe puncak bareng-bareng. Waktu itu gw dan satu temen gw udah berhasil diriin tenda, tapi temen-temen yang lain belum sampe juga.

Malem pun tiba, kita gak punya modal penerangan apapun selain hape temen gw. Fyi, hape gw hilang waktu perjalanan dari Wonogiri ke Wonosobo *hiks*. Pikiran gw udah gak tenang, apalagi trekking di saat malam itu berkali-kali lipat tantangannya. Capek, ditambah gelap dan dingin. Tapi kekhawatiran gw seketika berubah jadi bahagia dan haru ketika mereka tiba. Kalo gak salah waktu itu udah di atas jam 19.00 WIB. Salah satu dari mereka tadinya udah nyerah dan minta ditinggal aja, tapi the power of friendship bisa bikin mereka sampe di puncak bareng-bareng. Dan kocaknya mereka cuma bawa satu headlamp buat dipake berempat. Salute for you guys!

Maafkan kamera yang tidak pro. aslinya bagus banget!

Kita pun menikmati suasana malam yang super romantis di puncak Prau. Beneran, saat itu cuacanya lagi bagus banget. Bulan terpahat bulat sempurna, bergantung tepat di atas lautan awan. Kerlip bintang menjadi atap kami semua. Di sebelah bulan, Gunung Sindoro-Sumbing berdiri dengan perkasa. Ah, aku bahkan betah menatap pemandangan itu hingga pagi –jika saja udaranya tak sedingin suhu dalam kulkas –sambil berbincang ria bersama para sahabat. Bagi orang yang biasa hidup di dataran rendah tanpa AC *kayak gw*, suhu udara malam itu membuat ingin masuk saja ke dalam tenda dan berkemul sleeping bag. Ekspektasi awal yang mau begadang sambil ngeliat pemandangan akhirnya dikubur dalam-dalam. Ketika kami tidur (berjubel) di dalam tenda, gw ngerasa angin di puncak gunung bener-bener kenceng saat tengah malam. Tenda kita serasa dihantam buat dirobohin, padahal ternyata itu ulah angin.

Then the sun rise! Hati gw gak henti-henti berdecak kagum liat sunrise ini. Subhanallah. Mulai dari semburat jingga yang muncul secara halus, perlahan menyinari lautan awan. Kemudian, sinar terang mentari mulai muncul ke permukaan, yang tiap detiknya sangat berharga bahkan untuk ditinggal menoleh barang sebentar. Langit jingga perlahan bertransformasi menjadi biru jernih, menciptakan penerangan sempurna untuk berswafoto-ria. Suhu udara mulai naik hingga memberi sensasi hangat-hangat sejuk.
Indescribable view


Foto pake bendera biar kek anak-anak now

Setelah puas foto-foto, kita masak sarapan. Kala itu kita bikin nasi goreng ala anak gunung yang kemudian kita beri nama “nasi goreng berdebu”. Karena emang di sini banyak angin dan debu-debu pegunungan pada masuk ke nasi goreng kita, katanya sih memberi rasa petualangan.

Fried rice with dust sauce
Kita melihat penghuni tenda sebelah, kayaknya kok gak serempong kita. Wkwk, diketawain aja deh. Mereka ngasih sejumlah bacang (makanan sejenis lontong) ke kita, padahal makanan kita juga udah bejibun. Kita kira bakal banyak makan di sini, nyatanya kaga. Tapi… pengalaman masak di pagi itu adalah pengalaman masak terindah buat gw :’) kapan lagi ya bisa kayak gitu?


Sayonara, Prau

Kemudian kita turun gunung sekitar jam 08.30 WIB. Emang dasar cewe-cewe (sok) strong, setelah itu kita berencana langsung caw jalan-jalan lagi ke Dieng. Kita dijemput lagi sama sodara temen gw dan dianterin ke Dieng. Kok gak ngebolang aja? Menurut temen gw, akses kendaraan di daerah sana cukup sulit jadi mobilitas kami lebih baik dianter-jemput oleh sodara dia aja. Hehehe, jadi enak. Akhirnya tanpa mandi dan masih dengan baju yang sama dengan kemarin, kita menyusuri spot-spot asik di kawasan wisata Dieng. Ternyata di kawasan Dieng ini ada banyak atraksi berbeda, dan beberapa berbayar-beberapa gratis. Kita sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi sikap hemat maka dengan pasti hanya akan memasuki spot-spot wisata yang gretong.

Telaga Warna

Awalnya gw berekspektasi kalo telaga ini bakal berwarna hijau tosca bergradasi biru seperti gambar-gambar yang muncul di google, tapi ternyata kalau diliat dari dekat justru gak terlihat gradasi warnanya. Seharusnya kita liat dari tempat yang tinggi. Karena kita udah kepalang turun ke tepi danau, yaudahlah kita menyusuri danau aja. Jadilah kita jalan-jalan mengitari hampir setengah putaran danau, karena gak tau lagi mau kemana wkwk.

Yuhu


Di sekitar danau, ada area rawa yang terlihat seperti daratan berumput. Namun ketika diinjak, kita bisa tenggelam. Temen gw kemarin jadi korbannya. Kocak banget deh. Karena dia petakilan, dia loncat-loncat ke daerah rawa yang dia kira itu daratan padat. Eh ternyata dia gak bisa balik lagi karena terkepung sama tanah rawa. Kita udah panik mau minta tolong orang, terus udah nyari-nyari kayu gede buat dijadiin jembatan. Akhirnya, dia bisa loncat lagi ke tempat daratan setelah memberanikan diri masuk ke dalam rawa. Hasilnya adalah celana dia terendam rawa hingga selutut lebih. Ngeri juga kan, gw udah mikir aneh-aneh “jangan-jangan itu lumpur hidup?” tapi gw masih ga tau seperti apakah sebenarnya lumpur hidup itu.


Kawah Sikidang

Spot lain yang kita sambangi adalah Kawah Sikidang. Untuk mencapainya, kita perlu menuruni sebuah lereng yang tidak terlalu terjal. Begitu tiba, kita akan menemui daratan yang cukup luas dan landai. Kolam kawahnya dipagari. Kawah ini aktif mengeluarkan gas belerang sehingga gw perlu menahan napas ketika mendekati area ini.

Penyebab kemacetan

Telah terpenuhinya target-target wisata kami menandakan kami harus pulang ke habitat masing-masing. Kami menumpang bus jurusan Wonosobo-Jakarta untuk pulang. Ternyata oh ternyata… banyaak jalanan di sepanjang Jawa Tengah sedang dipenuhi rombongan arak-arakan 17 Agustus-an. Sebenernya sewaktu perjalanan Wonogiri-Wonosobo juga kami menemui banyak arak-arakan di jalan, jadi ini semacam parade anak-anak sekolah yang memakai kostum unik dan membawa berbagai properti sambil diarak. Mereka kreatif banget, tema yang diusung macem-macem. Sepanjang perjalanan sih gw terhibur karena bisa ngeledekin anak-anak yang kalo di-dadah-in dari jendela jadi salting gitu. Wkwk. Tapi… ini bikin jalanan macet parah. Well, ternyata masih ada imbasnya dengan perjalanan pulang kita ke Jakarta. Yasudahlah hanya bisa bersabar.

Pulang


Akhirnya bus pun sampai. Kita memilih turun di Terminal Bogor karena kita berencana naik commuter line dari Stasiun Bogor. Dari Terminal kita naik angkot menuju Stasiun Bogor. Saat itu dini hari, dan kaki kita semua pada tremor. Ngakak parah. Saat menaiki JPO di depan St Bogor, kita kayak orang mabok yang gak bisa jalan. Dengan susah payah, kita akhirnya bisa rebahan di lantai St Bogor. First time, gw ngerasain nginep ala backpacker di St Bogor bareng temen-temen. Haha gak bisa dilupain deh pokoknya! Capek, tapi kita semua bahagia :D
Oh iya, makasih banyak buat Mbak Melin dan keluarga yang udah mensponsori petualangan Wonosobo ini~
Bersama Nenek-nya Mba Mels di kebun salak


Read more ...

Rasionalitas vs Idealisme

26 Maret 2018
Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa memang sebuah transformasi pola pikir besar-besaran. Banyak ideologi baru tumbuh, atau setidaknya cara pandang terhadap hal-hal lain menjadi berubah. Tidak pelik lagi, ini pun terjadi pada diri gw. Semangat membuat target-target gila, bermimpi tanpa batas, dan berani berpetualang. Semakin mendekati kelulusan, anehnya gw justru semakin samar dengan tujuan utama yang ingin gw capai. Apa sih yang sebenernya gw mau? Abis lulus kuliah, terus mau ke mana, jadi apa?

Kali ini gw mau berbagi pengalaman gw dalam menghadapi kegamangan yang umum terjadi pada setiap mahasiswa tingkat akhir hingga memasuki status fresh graduate. Serius, bahkan saat udah lulus pun gw masih gamang dengan masa depan gw. Memang yang namanya merencanakan masa depan itu gampang, tapi realisasinya yang “cukup” sulit. Sulit, tapi mungkin berhasil.

Disclaimer: postingan ini bakal puanjang, terinspirasi dari kisah pribadi yang mungkin gak semenarik kisah-kisah di sinetron India

Bermula dari…

Masa-masa saat mahasiswa tahun pertama adalah masa di mana gw menerima banyak siraman rohani yang mencerahkan mata batin gw *apa sih…* maksudnya, gw banyak dapet ilmu dan insight dari berbagai macem sumber, misalnya: seminar, ceramah dosen, workshop, bacaan, film, tokoh-tokoh di organisasi, dll. Secara, semangat muda masih menggebu-gebu dan gw kebawa sama labelling kampus gw yang konon katanya pencetak generasi unggul bangsa. Gw mulai membuat idealisme sendiri. Dengan percaya diri, gw nulis 100 hal yg mau gw lakuin di dalam hidup gw. Dan gw pun udah bisa milih “profesi” atau mau jadi apa sih gw selepas lulus nanti. Gw termasuk orang yang suka baca buku atau artikel elektronik yang bertemakan pengembangan diri. Contohnya karya-karya Ahmad Rifa’i Rif’an dan Prof. Rhenald Kasali. Saat itu gw mencoba memaknai diri gw sendiri, dengan referensi bacaan-bacaan tersebut pastinya. Jadilah, gw mengidentifikasi minat n bakat gw secara real dan terlepas dari opini siapapun dan rintangan apapun: gw mau jadi sociopreneur.

Ini dilandasi dari panggilan hati gw yang pengen membantu orang lain yang kondisinya susah. Gw mau membuat orang lain jadi sejahtera, bahagia, dan menumpas kemiskinan dan kebodohan. Secara spesifik, gw bermimpi bisa tinggal di daerah Indonesia yang masih terpencil dan mendirikan sebuah NGO untuk memberdayakan masyarakat di sana. Mungkin bisa dibilang itu mimpi yang gak terlalu muluk, tapi pastinya sebuah mimpi yang sangat berani karena berisiko tinggi. Keputusan itu bisa membuat perubahan yang drastis di hidup gw, bahkan keluarga gw. Idealisme itu masih terjaga sampe gw memasuki tahun pertengahan kuliah, dan ini semua berubah ketika gw udah masuk tahun ke-4 alias mulai semester 7.

Berani bermimpi berarti menanggung konsekuensi untuk berani merealisasikannya. Sayangnya, realiasi kadang terbentur oleh banyak faktor, baik itu hambatan internal maupun eksternal. Kadang pula, pikiran kita sebetulnya belum yakin betul akan pilihan tersebut dan masih mengembara untuk menemukan tujuan yang benar-benar cocok.

Memasuki tahun ke-4 kuliah, rasanya idealisme gw mulai turun level satu persatu. Yang tadinya gw bilang “ogah ah jadi pegawai”, akhirnya mulai bilang “gak papa kali ya dicoba…” yang tadinya udah fix mau bergabung ke NGO, mulai mikir ulang lagi. Yang tadinya mau effort maksimal buat nyari beasiswa S2 ke luar negeri, mulai bilang “dalam negeri it’s okay”, malahan “kerja dulu aja deh”. Huft, gw ngerasa kayak layang-layang yang gampang terbawa angin. Gak bisa stay still di satu jalur.

Karena gw ngerasa kayak gak punya pendirian, akhirnya gw tegasin ke diri gw sendiri kalo gw harus tetapin batasan. Maksudnya, inilah prinsip utama yg gw rujuk sebelum membuat keputusan dan… selama gw masih berada dalam koridor yang udah gw tetapin batasannya, so jalanin aja.

Dan batasan yang gw pakai adalah:

1. Q.S Al-Baqarah: 216

“Boleh jadi kamu kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Well, semoga gw gak salah menafsirkan ayat ini. Menurut gw, ayat ini bisa dijadikan landasan buat gak terlalu fanatik dengan suatu goal. Kalo gitu effortnya jadi setengah-setengah dong? Bukan. Tapi, persiapkan lebih dari satu life plan. Tentunya semua manusia punya passion, dan gw yakin passion itu gak cuma satu. Ketika kita menetapkan sebuah goal berlandaskan sebuah passion, maka kejarlah goal itu. Namun, ketika ternyata gak berhasil, itu bukan akhir dari dunia. Masih ada passion lain yang bisa kita kembangkan dan kita kejar. Karena sesunggunhya Allah lebih mengetahui mana yang terbaik. Gw udah pernah mengalami kegagalan kayak gini dan ayat inilah yang menjadi obat pereda depresi gw. It works really well.

That’s why, selain menjadi sociopreneur maka gw juga membuat berbagai plan lainnya. Tinggal nunggu kesempatan mana yang terbuka lebih lebar.

2. Ridho orang tua

Ini! Sejak dulu, setiap gw mau apa-apa pasti lapor ke orang tua adalah hal terakhir yang gw lakukan. Karena gw rada males kalo harus jelasin panjang lebar ke sesuatu yang belum pasti, makanya gw biasanya nunggu sampe sesuatu itu fix jadi barulah gw lapor ke bonyok. Terutama nyokap, pasti nanya macem-macem.
Contoh kasus: waktu itu gw daftar program mengajar (semacam program Indonesia Mengajar) di daerah Lampung, karena seleksinya panjang dan gw belom tau bakal lolos atau ga, gw jalanin deh tu prosesnya sampe ternyata gw dinyatakan lolos dan bakal jadi pengajar volunteer di Lampung selama setahun. Wih seneng dong pastinya gw. Setelah keluar pengumuman, baru deh gw minta ijin ke nyokap. Ternyata doi gak setuju abis, malah marahin gw kenapa main daftar-daftar aja tanpa minta ijin dulu sih. Hm, gw sedih banget karena melewatkan kesempatan itu. Tapi gw jadi dapet pelajaran berharga, bahwa sikap gw yang menaruh restu orang tua di langkah terakhir itu salah besar. Udah banyak yang bilang sebenernya kan, ridho Allah ada pada ridho orang tua. Dasar gw nya aja ndablek. Gak lagi-lagi deh. Jangan ditiru ya gaes. Minta restu ortu lah sebelum memulai sesuatu, supaya mereka turut mendoakan kita mendapat kelancaran.

3. “Kesempatan gak datang dua kali”

Ini merupakan hukum alam yang udah diketahui banyak orang. Mencoba sebuah kesempatan kadang diasumsikan sebagai mencari peruntungan. Siapa tau berhasil, gitu kan? Tapi bukan ini prinsip utama gw. Memang, gw udah punya goal awal, tapi bukan berarti gw menutup kemungkinan yang lain, karena landasan utama gw adalah apa yang gw tulis di poin 1. So, setiap ada kesempatan yang datang, biasanya akan gw ambil.

But! Bukan berarti mengambil semua kesempatan dengan membabi-buta, tetep difilter yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Dan lagi, mengambil kesempatan itu bukanlah mencari peruntungan. Gw pernah baca sebuah statement (lupa siapa yang nulis) dan gw setuju banget, bunyinya

“Keberuntungan itu datang ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”

Ini berarti, kesempatan gak ada artinya kalo kitanya juga gak siap. Maka, ada baiknya untuk kita selalu berbenah diri dan mempersiapkan diri yang terbaik, maka ketika kesempatan datang kita bisa menyambutnya dengan siap.

Gw inget perkataan kakak pertama gw yang pernah berpesan sama gw, intinya “jangan takut buat mengambil setiap kesempatan baru, karena kesempatan itu bikin kita berkembang”. So, seiring dengan waktu bergulir maka biasanya akan muncul kesempatan yang datang dari berbagai arah. Maka gw beraniin diri untuk mencoba dan mengatakan “ya” ketika kesempatan datang. Mungkin juga kan, itu rencana tak terduga dari Allah. Meskipun kesempatan itu mengharuskan kita keluar dari comfort zone, nikmatin aja. Anggaplah itu tantangan, kalo lolos, kita jadi pemenang. Life begins when we leave our comfort zone, right?


Sebuah kisah nyata

Balik ke kisah pribadi lagi yak… btw ni postingan kayaknya panjang banget yak.. rapopo lah ya. Jadi, balik lagi ketika gw udah mulai menurunkan level idealisme gw. Akhirnya gw memutuskan untuk mengikuti arus kehidupan sejenak, seenggaknya untuk ngeliat ada apa di ujung jalan nanti. Takdir apa yang akan gw temui?

Jaman-jaman skripsian, gw mikir kalo skripsi gw bakal B aja. Judul bikin ndiri, semua pake biaya ndiri, paling wilayah penelitiannya juga deket-deket aja. Tapi, sebuah kesempatan membawa gw untuk ikut sebuah penelitian hibah yang ternyata membuat rencana skripsi gw berubah 180 derajat. Berawal dari situ, gw mulai kenal dengan komunitas masyarakat adat yang hidup di daerah yang… let’s say cukup terpencil di Indonesia. Gw mulai berpikir kalo ini bisa jadi pembuka jalan untuk merealisasikan mimpi lama gw buat jadi sociopreneur, ditambah lagi dosen pembimbing gw juga menolong membuka jalan-jalan berikutnya. Alhamdulillah, gw mulai antusias lagi dan ngerasa kalo inilah masa depan gw. tapi, jalan kenyataan memang tidak selalu mulus. Pun akhirnya, karena berbagai hal gw juga gak menjalankan realisasi mimpi itu sepenuhnya.

Tebar jaring

Lalu rencana gw pindah lagi buat preparing S2 sebelum wisuda. Saat itu urusan skripsi udah hampir selesai, tinggal urus wisuda dll. Gw punya banyak waktu luang yang gw rasa sayang kalo dilewatkan cuma buat preparing S2 (gw pikir ini bisa dikerjain secara paralel dengan kegiatan lain). So, gw mulai gencar cari kegiatan macem-macem wkwk. Yang penting gak nganggur deh, karena gw jadi rese kalo nganggur. Akhirnya dalam satu waktu berdekatan, gw daftar ke 3 kegiatan berbeda. Pertama, kegiatan volunteer mengajar yang gw ceritain pada poin 2 di atas. Kedua, kegiatan yang awalnya gw kira training namun ternyata itu job offering. Ketiga, program short course di Thailand yang udah gw ceritain di postingan sebelumnya.

Mulai kerja

Karena saat itu kegiatan pertama dan ketiga masih dalam proses seleksi, gw pun menjalani kegiatan kedua which is kerja jadi freelancer. Jadi, kerjaan freelance ini mengharuskan gw untuk dateng ke kantornya sesuai dengan office hours karyawan. Berhubung udah gak ada kuliah juga, jadi fine fine aja sih. Berlokasi di Tebet, kantor gw ini adalah sebuah start-up company yang bergerak di bidang pendidikan. Isinya mayoritas anak muda dengan ide-ide segar, pembawaan kasual, dan kreativitas tinggi. Sistemnya kontrak per sekian bulan, dan selama masih ada pekerjaan maka akan terus diperpanjang.

Following the mainstream: seleksi CPNS

Kemudian gw terusik lagi dengan kesempatan baru yaitu lowongan CPNS 2017. Kali ini nyokap gw mendukung penuh gw buat ikutan, heu. Awalnya bingung parah menentukan formasi mana dan kementerian/lembaga mana yang mau gw pilih. Kemudian gw memprioritaskan peluang, barulah minat. Akhirnya gw daftar juga ke suatu formasi CPNS di sebuah kementerian yang menyediakan kuota cukup banyak untuk formasi yang sesuai dengan background pendidikan gw. Untuk regionnya, gw pilih Jakarta karena nyokap gw gak ngebolehin gw merantau. “mendingan gak usah jadi PNS kalo nanti kerjanya jauh” begitu ucap doi, yaudah gw mah nurut bae. Padahal peluang buat keterima di kantor wilayah itu lebih gede dibanding kantor pusat, begitu analisis gw (dan ternyata betul).

Seleksi CPNS berbeda-beda alurnya tiap kementerian/lembaga. Gw daftar di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Selanjutnya kita singkat jadi ATR/BPN. Alurnya adalah melewati seleksi administrasi yang mengharuskan gw mengirim berkas seperti kartu pendaftaran, surat lamaran, FC ijazah dll. Setelah lolos, kemudian seleksi Tes Kemampuan Dasar (TKD). Kalo ini, semua kementerian/lembaga pasti melewati tes ini, dan soalnya sama yaitu semacam Tes Potensi Akademik (TPA). Sistemnya berbasis input elektronik menggunakan komputer, atau yang disebut dengan CAT. TKD sendiri memiliki bobot 40% dan terdiri dari 3 jenis soal, yaitu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Nanti skor masing-masing akan dijumlah dan jika memenuhi passing grade maka dinyatakan lolos. Nah, buat passing gradenya bisa disearching di tempat laen deh ya karena ini bukan website khusus membahas CPNS hehe. Waktu itu gw belajar dari soal-soal tes CPNS yang ada di website-website. Terus ada yang nyediain simulasi gratis juga. Nyari tips n trick buat memecahkan berbagai tipe soal, terutama tipe TIU karena kadang gw rada lemot orangnya. Setelah semua usaha terasa cukup, selanjutnya tinggal tawakkal.

Jika TKD lolos, maka masuk ke seleksi selanjutnya yaitu Tes Kemampuan Bidang (TKB) yang memiliki bobot 60%. Saat itu gw bener-bener have no idea bakal kayak apa soal TKB nya Kementerian ATR/BPN. Alhasil gw tanya-tanya temen gw yang pernah kerja di ATR/BPN, di sana kerjanya butuh pengetahuan apa dan gw pun belajar sesuai kompetensi yang doi bilang.

Ternyata… jeng jeng. Soal yang keluar tidak sesuai ekspektasi samsek bung. Soalnya persis kayak SBMPTN atau soal OSN Geografi. Tipikal gak begitu susah sebenernya, tapi… kalo udah lupa materinya dan apalagi kalo gak pernah belajar itu sebelomnya, pasti gak bisa jawab. Udah gitu, ada 1 soal yang cacat gitu, soalnya gak lengkap dan gak bisa dijawab apa-apa, tapi terhitungnya salah -_-

Btw, hasil TKD gw saat itu adalah 240 dan TKD nya 370. Skor tersebut mengantarkan gw ke peringkat 11 dari peserta yang diterima sebanyak 10 orang. 1 lagi! Nyesek abis. Gw nangis. Tapi yasudahlah mungkin emang bukan jalan gw. yang penting udah usaha maksimal. Nah ini salah satu hal yang suka bikin gw kesel (haha) yaitu ketika seseorang berhasil tapi dia malah bilang “padahal gw gak belajar loh”, “padahal gw cuma baca H-10 menit ujian” atau semacam itu. Kesannya…. Hmmm, tidak menghargai orang lain yang berjuang. Pasti kan yang denger sedih. Seenggaknya tunjukin kalo lo juga berjuang, jadi semua merasa diperlakukan secara fair.

Seorang temen bilang kalo posisi gw di hasil akhir itu masih ada kemungkinan naik, karena biasanya nanti ada yang mengundurkan diri atau ga melanjutkan pemberkasan akhir. Kalo bener ada, maka gw bisa naik peringkat dan jadi CPNS. Tapi gw ragu, siapa sih yang mau ngelepas kesempatan jadi PNS di Jakarta? Apalagi udah ngelewatin semua seleksinya gini.. humm, but who knows.

Makanya, jangan gatel!

Lalu.. waktu bergulir. Sebenernya agak gak baik juga sih “kegatelan” daftar berbagai kegiatan dalam satu waktu gini. Pasti pada akhirnya gw harus memilih satu kegiatan aja dan melepas yang lainnya. Setelah gw dilarang untuk menjadi pengajar volunteer di Lampung, maka kini plan gw mengerucut jadi 2: menunggu kepastian dari CPNS atau ikut short course ke Thai. Setelah ditunggu berbulan-bulan, tuh CPNS gak ada pengumuman apa-apa, so gw mulai memfokuskan diri untuk ikut short course. Gw mikir lagi, kalo gw ikut kegiatan ini maka artinya selama 3 bulan gw bisa mendapat banyak hal baru namun sekaligus kehilangan berbagai kesempatan juga di Indonesia. Akhirnya gw memilih menjalani 3 bulan untuk mendapat hal-hal baru yang gw harap bisa jadi investasi buat masa depan gw. Goal gw selanjutnya adalah membuat gw able to speak and listen in english CLEARLY.

Selama 3 bulan itu gw harus bisa mendapat kemajuan yang progresif, maka selain belajar bahasa Inggris gw juga nyambi menulis proposal rencana penelitian untuk apply S2 di Kyoto University dll. Rencana gw selanjutnya adalah sepulang dari course ini, gw udah mengantongi LoA dari universitas luar negeri.

Kabar tak terduga

Belum setengah masa program short course gw jalani, gw mendapat sebuah kabar yang membuat mata membelalak. Ternyata bener kata temen gw. Ada kandidat CPNS yang mengundurkan diri di formasi gw, alhasil gw dan satu orang naik posisi untuk menjadi peserta pengganti. Gw mendapat email dari ATR/BPN pada tanggal 17 Januari 2018 dan sedihnya gw baru membuka email itu pada tanggal 31 januari 2018. Soalnya selama di Thai gw gak pake layanan internet, dan kita punya beberapa kegiatan field trip jadi akses internet gw terbatas. Well, kisah ini emang sulit dipercaya dan mengandung banyak drama.

Seharusnya gw melakukan pemberkasan akhir pada tanggal 19 Januari. Gw tanya deh tuh lewat email, kasus gw ini bisa ditolerir ga. Tapi gak dibales-bales emailnya. Makin gamang aja gw. Di rumah, keluarga gw pada kecewa banget begitu gw kasih tau. Sampe akhirnya nyokap gw bilang “yaudah, belum rejeki kamu”. Ya Allah, kenapa takdir-Mu begitu berliku-liku untukku? Batinku sedih. Karena sedih dan bingung dan agak kesel, mood gw sempet kacau sewaktu masih dalam program course. Hingga akhirnya gw memutuskan untuk give up dan merelakan harapan itu pergi. Gw mau fokus untuk short course ini. hingga akhirnya pada suatu hari, seorang temen ngechat gw, setelah gw ceritain kisah gw ini dia meng-encourage gw buat memperjuangkan kesempatan itu.

Gw pun inget sama filsosofi yang gw pegang, “kesempatan gak dateng dua kali.” Now or never. Oke akhirnya gw dibantu sama temen gw itu mulai menghubungi orang bagian kepegawaian langsung, bahkan gw minta abang gw buat ke kantor ATR/BPN dan menemui pihak kepegawaian. Alhamdulillah.. ternyata gw diperbolehkan menyusul. Betul ternyata, sekali dapet kesempatan harusnya kita perjuangin semaksimal mungkin, karena dengan berjuang maksimal maka gak akan ada yang kita sesali nantinya ;)

Itulah alasan kenapa gw mengakhiri program course gw di tengah jalan dan pulang ke Indonesia.. sebetulnya sedih banget, tapi seneng banget juga. Setelah pulang pun gw langsung cepet mengurus kelengkapan berkas yang dibutuhkan seperti SKCK, keterangan sehat, bebas narkoba, dll. Dua hari lamanya waktu yang gw habiskan untuk mengurus berkas-berkas tersebut, dan akhirnya gw serahkan langsung ke kantor ATR/BPN.


Memang, kita gak pernah tau ke mana takdir akan membawa kita. Semoga setiap perjalanan yang kita ambil ini mengantarkan kita ke muara yang indah ya J
Read more ...

Sawasdee Ka!

18 Februari 2018

Awal tahun 2018 ini menjadi momentum yang sangat spesial bagi gw. Alhamdulillah, gw mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah program internasional dengan tema yang linear dengan minat gw: social service. Siapa sangka, keinginan gw sejak masa kuliah untuk keluar menembus batas negara sendiri ternyata baru terwujud sesaat setelah gw menjadi sarjana. Jadi inget, dulu gw pernah bikin target untuk mengikuti kegiatan di luar negeri minimal sekali sebelum lulus. Eh ternyata gak kesampean, dan Allah udah ngatur ini semua di waktu yang (gw yakini) jauh lebih tepat, yaitu sekarang. Asal mula gimana gw bisa dapetin kesempatan ini lumayan panjang ceritanya. Diawali dari dosen pembimbing gw yang bertemu dengan academic director dari sebuah NGO (non-governmental organization) di Thailand dalam suatu acara. Kebetulan NGO tersebut punya sebuah program english course yang udah berjalan sejak 2 tahun lalu, diadakan setiap tahun. Nah, tahun 2018 ini adalah tahun ketiga untuk program tersebut. Dosen gw ditawarkan untuk memberi rekomendasi satu orang Indonesia untuk mengikuti program tersebut, berhubung sebelumnya belum pernah ada peserta dari Indonesia maka orang ini nantinya berpeluang besar mendapat full scholarship untuk mengikuti program tersebut selama 3 bulan di Thailand. How lucky I was, sang dospem menawarkan kesempatan itu ke gw. Mulai lah gw menjalin komunikasi langsung dengan sang academic director, dan gw menjalani proses seleksi yang terdiri dari pengisian formulir; membuat motivation letter; dan wawancara tatap muka via Skype. Kira-kira 3 bulan melewati tahap tersebut, gw secara resmi dinyatakan sebagai peserta dari program tersebut dan mendapat beasiswa yang mencakup tuition fee and full accomodation selama menjalani program.

Kegiatan yang gw ikuti itu basic nya adalah sebuah english course, namun dikemas dalam bentuk yang sangat aplikatif khusus untuk membentuk jiwa kepemimpinan demi memberdayakan komunitas di lingkungan sosial kita masing-masing. Wedew bahasa gw kayak berat banget yak, tapi sebenarnya ini fun banget kok, dan sangat berfaedah pastinya. Nama resmi dari program ini adalah “School of English for Engaged Social Service”. Tujuan utama dari program ini yaitu supaya semua peserta bisa menguasai bahasa Inggris dan mengaplikasikannya sebagai sarana untuk melakukan kerja sosial. Kegiatan ini diselenggarakan oleh INEB Institute, sebuah NGO yang bergerak di bidang Engaging Buddhism di Thailand. INEB sendiri merupakan sub-organisasi dari sebuah NGO induk yang bernama NSF (lupa kepanjangannya, karena berbahasa Thai).

Mencoba flashback sedikit, sempet ada kekhawatiran sebelum gw meng-iya-kan tawaran ini. Tentunya gw tau kalau sejak beberapa tahun belakangan ini sedang ada ketegangan antara umat Buddhist dan Muslim di Myanmar, meskipun menurut gw kasus ini juga menyangkut persoalan etnis. Myanmar berbatasan secara langsung dengan daratan Thailand, dan penduduk Thailand juga mayoritas merupakan Buddhist. Bisa diliat kan korelasinya? Sang academic director meyakinkan gw kalau komunitas buddhist di Thailand ini adalah komunitas yang sangat terbuka dan toleran. Dia menjamin hal itu. Masih agak ragu, gw pun membuka Google Maps. Ternyata jarak Provinsi Nakhon Nayok (daerah tempat kegiatan yang gw ikuti) dengan Myanmar (terutama Rakhine, daerah konflik) cukup jauh, dengan kata lain insyaAllah gw gak terkena imbas langsung dari konfilk tersebut. Huah, betapa leganya hati ini. Segeralah gw merancang persiapan untuk berangkat ke Thai di awal Januari 2018.

VISA Preparation
Sebagai bocah yang belom pernah ke luar negeri sebelumnya, gw melakukan banyak riset via Google untuk membuat visa yang sesuai dengan perjalanan gw. Karena program ini gak terdaftar secara resmi sebagai kegiatan pendidikan Thai, gw pun berstatus sebagai “turis” (not student or anything else) yang mau tinggal di Thai selama 90 hari. Satu-satunya pilihan visa untuk gw adalah tourist visa. Sayangnya visa ini hanya valid sampe 60 hari, dan gw harus perpanjang untuk 30 hari sisanya di kantor imigrasi di Thai nanti. So, gw mengurus visa tourist ini di Kedubes Thailand untuk Indonesia, yang beralamat di sini. Syarat untuk membuat visa ini bisa dibuka di website Thai Embassy. Pastikan untuk udah melengkapi semua syaratnya sebelum kesini, supaya gak mondar-mandir nantinya. Untuk visa jenis tourist, penting untuk membawa bukti pemesanan tiket pesawat PP, bukti kemampuan finansial dengan print out buku tabungan, dan bukti booking penginapan/ alamat orang lokal yang menjamin akomodasi kamu selama di sana (in this case, bawa juga bukti identitas orang tersebut serta bukti surat akta rumah orang tersebut). untuk bikin visa ini gw dikenakan biaya Rp 560k. kira-kira 3 hari, visa ini pun siap kita ambil. Oh ya, perhatikan juga ya jam untuk pembuatan visa dan pengambilan visa, karena pihak embassy udah mengatur jadwalnya. Untuk perpanjangan izin tinggal di Thai, kita bisa dateng langsung ke kantor imigrasi manapun yang ada di Thai dan membayar 1900 baht untuk perpanjangan tinggal selama 30 hari. 1 baht kalo dirupiahkan kira-kira Rp 450.



Flight

Ada dua bandara di Bangkok, yaitu Suvarnabhumi (BKK) *untuk penerbangan full service* dan Don Mueang (DMK) *untuk penerbangan mid-low cost*. Perjalanan CGK-DMK via direct flight memakan waktu 3 jam lebih, atau hampir 4 jam. Penerbangan internasional lebih ketat, pastikan ga bawa cairan KE ATAS KABIN dengan volume >100 ml di setiap wadahnya. Karena gw lupa akan hal ini, terpaksa saat itu petugas bandara DMK menyita body lotion yang gw beli dari sebuah koperasi masyarakat di Thai T_T

Gw berangkat ke Thai pada tanggal 6 Januari 2018. Kalo sesuai jadwal sih, gw akan stay di sana sampai 5 April 2018. Oh ya, Bangkok punya zona waktu yang sama kayak WIB, jadi gak perlu ubah-ubah jam kalo kamu berasal dari time zone UTC+7 seperti Jakarta dan sekitarnya :D

Setibanya di bandara DMK, kita bisa beli sim card lokal untuk turis (kalo emang butuh cepet) tapi kalo ga butuh sih mending beli di luar bandara aja, misal di 7-eleven. Di bandara ini juga tersedia akses WiFi gratis. Setelah connect ke WiFi bandara, kita akan ter-direct ke sebuah portal untuk meregistrasi identitas kita via nomor paspor. Dan…tara! Nikmatilah internet kencang untuk 2 jam (kalo ga salah) dan hanya untuk sekali pakai. Jadi, kita gak bisa registrasi lagi dengan nomor paspor yang sama di hari itu juga.


Wongsanit Ashram
Selama program ini berlangsung, kami punya sebuah base camp utama yang menjadi “asrama” sehari-hari, meskipun kita gak selalu stay di sana juga sih. Tapi mayoritas waktu kita dihabiskan di tempat ini: Wongsanit Ashram. Tempat ini merupakan sebuah area yang memiliki banyak fasilitas dan kerap disewakan untuk kegiatan-kegiatan pelatihan dan sebagainya. Untuk mencapai Ashram dari Bangkok, butuh waktu sekitar 1,5-2 jam dengan mobil. Ashram ini seperti sebuah desa kecil yang berada di Provinsi Nakhon Nayok, dengan visinya adalah “less consumerism” serta “living in harmony with nature”. Mereka punya ladang sendiri, yang hasilnya mereka masak dan hidangkan untuk makan para tamu. Setiap kegiatan ada bangunannya masing-masing, seperti kamar tidur; kelas; perpustakaan; ruang makan; dll. Mereka juga gak memakai kulkas, AC, dan perangkat “modern” lainnya karena sesuai dengan prinsipnya: less consumerism.

Office building in the Ashram

Prinsip-prinsip ajaran Buddha diaplikasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari di sini. Salah satu contohnya adalah dapur di sini hanya memasak makanan vegetarian, karena salah satu prinsip utama dalam ajaran Buddha adalah “do not kill”. Sejak saat itu pun gw banyak belajar hal baru tentang ajaran Buddha. Dan gw juga baru tau kalau para biksu (monk) punya banyak banget larangan (precepts) yang mereka taati. Rasanya gw gatel banget buat nulisin semua ilmu baru yang gw dapet dari sini! tapi postingan ini khusus buat pengalaman umum dulu aja deh ya. Insya Allah gw akan tulis hal-hal laen di postingan selanjutnya, kalo lagi mood hahah.

Back to the topic about Ashram, tempat ini merupakan kawasan rawa yang dipisahkan oleh sungai besar untuk menuju jalan utama. Jadi, kita harus naik semacam getek yang ditarik dengan katrol secara manual untuk bisa mencapai Ashram dari jalan utama, begitupun sebaliknya. Karena berupa rawa, di dalam kawasan ini juga terdapat banyak danau dan genangan air statis yang memicu suburnya perkembangbiakkan nyamuk. Wah, pokoknya kalau kesini harus selalu sedia mosquito repellent dan balsem pereda gigitan serangga! Meskipun nyamuk-nyamuk itu membuat gw kzl, suasana di sini asri dan menenangkan banget. Berasa hidup di desa, jauh dari keramaian, gak ada masalah, gak mikirin yang aneh-aneh deh wkwk. Kita semua sepakat kalo hidup kita berubah drastis semenjak tinggal di Ashram itu. Bagi masyarakat kota, kita terbiasa untuk bergerak secara cepat dengan jadwal yang padat. Namun begitu menjalani kehidupan di sana, semuanya terasa melambat dan tenang. Kita punya banyak waktu luang untuk berpikir, merenung, meditasi, dan hal-hal lain yang biasanya sulit kita lakukan sehari-hari. Mantap deh :D


"Getek"


The classroom


Friends
Peserta dari kegiatan ini ada 16 orang, yang tersebar dari berbagai negara: Thailand, Myanmar, Laos, India, Korea Selatan, dan Indonesia. Kami di sini berstatus sebagai student, dengan dibantu oleh 2 orang teacher yang berasal dari US, dan 4 orang tutor yang berasal dari Canada, Malaysia dan India. Sebagai satu-satunya orang Indonesia dan satu-satunya muslim di sini, gw termotivasi untuk merepresentasikan komunitas gw sebaik mungkin. Banyak dari mereka yang belum mengenal Indonesia dan Islam secara mendalam, dan gw merasa sangat tertantang untuk mempromosikan budaya Indonesia. Kita sering bertukar cerita dan nilai-nilai yang berasal dari kebudayaan masing-masing. Misalnya, mereka nanya apa tujuan gw make hijab dan kenapa Islam punya larangan ini-itu. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih pas-pasan, gw mencoba menjelaskan sebisa gw. Pun sebaliknya, gw suka bertanya tentang nilai-nilai Buddha yang belum gw tau ke mereka. Saling bertukar cerita dan penjelasan tentang budaya dari berbagai negara&agama membuat gw sangat bersyukur bisa ada di sana. Ditambah lagi, mereka punya sifat yang sangat sangat baik. Mereka selalu menawarkan bantuan dan perhatian, bahkan meskipun komunikasi kami belum begitu lancar karena keterbatasan kosakata yang dikuasai atau dialek yang sangat kental. Kekhawatiran gw akan adanya diskrimasi pun sirna. Mereka semua adalah keluarga yang menjaga gw selama gw berada jauh dari rumah. Apalagi posisi gw adalah sebagai peserta dengan usia termuda, gw bener-bener diperlakukan secara baik layaknya seorang adik :’)


Some of them




Namun kebersamaan kita ternyata hanya bisa sampai minggu ke-5. Dengan berat hati, gw harus mengakhiri program dan pulang ke Indonesia pada tanggal 10 Februari 2018. Alasan kenapa gw pulang akan gw ceritain di post selanjutnya, karena postingan ini udah terlalu panjang~
Read more ...