Um, maafkan saya yang jarang banget ngupdate blog ini T_T padahal tulisan ini udah dibuat dari lama, bahkan beberapa minggu setelah kegiatan ini terlaksana, tapi masih suka lupa buat posting ini di blog. Alhasil, yah meskipun udah telat bingit tapi semoga tetap bermanfaat ya isinya!
Pada 26-30 April 2015 lalu, saya dan teman-teman Geografi UI angkatan 2013 melaksanakan Kuliah Kerja Lapang yang pertama di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sukabumi memang udah jadi langganan tiap KKL 1 dari tahun ke tahun. Kenapa? Karena merupakan KKL yang pertama, maka wilayah kerja kita gak akan jauh-jauh dari Jawa Barat. Sukabumi dipilih karena dari sisi geologi dan geomorfologinya bisa dibilang cukup unik dan bervariasi, ditambah lokasinya dekat dari Depok. Nah, misi utama kita di KKL 1 ini adalah survey dan verifikasi data di lapangan. Di mana ada kata ‘lapangan’, maka artinya adalah jalan-jalan... yeeayyyy ^o^
Di sini saya bukan mau nyeritain aktivitas selama KKL lah ya. Cuma mau ngereview objek-objek alam yang saya temuin selama di sana dari kacamata seorang geograf pemula seperti saya.. hahah. Oke, langsung aja gan.
1. Pasir Bongkok
Pasir Bongkok adalah sebuah bukit kapur yang batuannya termasuk dalam formasi Walad. Di sini merupakan tempat penambangan kapur skala besar, terbukti dengan adanya alat berat pengeruk kapur yang sedang bekerja. Dari atas bukit ini terbentang pemandangan Plateau Jampang di sebelah selatan dengan aliran Sungai Citatih.
2. Amfiteater Raksasa Lembah Ciletuh
Panorama Lembah Ciletuh dan Plateau Jampang
Tahu horst dan graben?
Yak, inilah penampakan asli dari horst dan graben yang ada di Indonesia.
Awal mulanya, kawasan tersebut seluruhnya merupakan dataran tinggi (plateau) yang bernama Plateau Jampang. Aktivitas geologi yang terjadi selama ribuan tahun lalu menyebabkan sebagian dari plateau ini ambruk dan membentuk kawasan baru berbentuk lembah karena ketinggiannya kini jauh di bawah plateau. Bagian yang ambruk (graben) ini dinamakan Lembah Ciletuh. Sedangkan Plateau Jampang yang masih berdiri mengapit graben merupakan horst nya. Jadi, amfiteater raksasa lembah ciletuh ini terdiri dari Lembah Ciletuh yang diapit oleh Plateu Jampang. Bentangalam ini berbentuk tapal kuda raksasa dan merupakan amfitater alam terbesar yang ada di Indonesia.
“Hamparan lembah yang menghijau dengan rumah-rumah tampak bagaikan titik-titik kecoklatan dan perkampungan seperti gerumbul kehijauan menyembul dari hamparan sawah. Di kiri-kanan dan belakang lembah raksasa ini tampak dinding atau gawir tegak ditutupi hutan yang lebat. Sedangkan di depannya, membayang laut lepas Samudera Indonesia”-papan informasi Panenjoan
A girl who enchanted with the view
Lembah Ciletuh secara administratif berada di Dusun Ciseureuh, Kecamatan Tamanjaya, Sukabumi. Sedangkan tempat saya berdiri saat itu disebut dengan kawasan Panenjoan yang dalam bahasa Sunda berarti ‘tempat melihat/memandang’ yang berada di Desa Tamanjaya, Kecamatan Tamanjaya. Lembah Ciletuh yang merupakan dataran rendah menjadi kawasan pertanian. Oleh karena itu, dari tempat saya berdiri dapat dilihat penggunaan tanah yang mendominasi di sana adalah sawah. Permukiman hanya ada sedikit dan mayoritas mereka adalah petani yang menggarap sawah di sana.
Oh ya, jadi ceritanya kelompok saya kebagian untuk survey di Dusun Ciseureuh yang mana adalah Lembah Ciletuh itu. u know what? Untuk mencapai tempat itu dari Panenjoan menempuh perjalanan ruar biasa. Selain ga ada kendaraan *untungnya kita dapet tebengan berupa pick up* ternyata jalanannya rusak parah dan juauuh. Alhamdulillah orang Sukabumi mah baik-baik pisan, berkat bantuan warga lokal kami pun bisa kembali ke basecamp.
Ini pemandangan saat saya berada di lembah
Saat berada di Lembah Ciletuh, saya dapat melihat cukup banyak air terjun (curug) yang berada di dinding Plateau Jampang. It means proses geologi di Plateau Jampang tergolong cukup aktif sehingga menyebabkan patahan-patahan yang kemudian menjadi aliran air terjun.
Salah satu curug yang terlihat dari Lembah Ciletuh
3. Ci Leutuh
Ini adalah Sungai Leutuh atau lebih dikenal dengan Ci Leutuh (dalam geografi, ‘Ci’ berarti ‘sungai’).
4. Pantai Ujunggenteng
Pantai ini terletak di Kecamatan Ciracap. Pantai pada sisi ini memiliki ombak yang relatif tenang sehingga cocok untuk sekedar menikmati panorama air dan langit yang menyatu dalam warna biru. Namun sayang pasir di sini banyak mengandung serpihan karang sehingga tidak nyaman untuk berjalan tanpa alas kaki.
Tukik said : “tunggu akuuu gaeees”
Pantai ini berkarakteristik landai dan memiliki ombak besar plus ganas. Itulah kenapa cocok sebagai tempat pelepasan tukik karena dapat menyeret mereka ke laut dengan cepat. Pasir di sini super lembut dan bersih. Dan yang paling fantastis, pemandangan sunset di sini daebak! Beruntung sekali kita mengunjunginya pas sore hari :3
5. Curug Cikaso
Curug Cikaso terletak di Desa Cibitung, Kecamatan Cibitung.
Curug Cikaso terdiri dari 3 air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 80 m. Karena letak salah satu air terjun menghadap ke arah yang berbeda maka saya hanya bisa mengambil gambar dari 2 air terjun saja.
Curug ini sendiri memiliki nama asli Curug Luhur, namun lebih terkenal dengan nama Cikaso karena air yang mengalir di sana berasal dari sungai Cikaso.
Curug ini berada di dalam kawasan karst sehingga batuan yang bereaksi dengan air menimbulkan warna hijau toska pada air.
Ini adalah warna aliran Ci Kaso yang berada di dekat curug, semakin jauh dari curug warna aliran Ci Kaso berubah menjadi coklat seperti sungai di Indonesia pada umumnya.
oke, itulah penjelasan *super* singkat dari saya. ga tau deh ini namanya cerita perjalanan, atau apalah :p pokoknya setiap mengunjungi tempat yang menurut saya "make sense" maka insya Allah akan saya share di blog ini. sekiaaaan.










