Perjalanan dalam mendapatkan bangku kuliah merupakan perjalanan paling
indah yang pernah saya rasakan sampai sekarang. Mungkin karena saya telah
merasakan perjuangan dengan berbagai cara, yang tidak semua mahasiswa lainnya
rasakan. Indah, dalam arti banyak hikmah yang saya dapatkan, indah, karena saya
merasakan betapa Allah menjawab doa hamba-Nya dengan sesuatu yang paling baik,
yang tidak kita duga sebelumnya.
Saya lulus dari SMAN 99 Jakarta pada tahun 2013. Dari awal saya sudah
mengincar salah satu jurusan di FMIPA UI *sebut saja dia Mawar*, dan dengan
mantapnya saya memilih Mawar sebagai satu-satunya pilihan saat seleksi SNMPTN.
Di SNMPTN ini, saya mendaftar sebagai calon penerima beasiswa Bidikmisi yang
dikelola oleh DIKTI, dan tentunya itu memerlukan syarat yang tidak sedikit.
pada akhirnya, semua berjalan cukup lancar dan dengan mengucap basmalah serta
rasa optimis saya pun men-submit pilihan saya itu.
Mundur beberapa minggu sebelum form SNMPTN saya disubmit, saya masih
dilanda kegalauan dengan salah satu sekolah kedinasan yang konsen dalam bidang
meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Sebut saja dia Akademi Meteorologi dan
Geofisika (AMG). Entah mengapa walaupun saya cinta dengan ilmu kesehatan tapi
saya juga cinta dengan ilmu bumi, dan itu cukup bertolak karena ilmu bumi lebih
didalami di jurusan IPS sewaktu di SMA, sedangkan saya IPA. Tapi setelah usaha
meng-kepo sana-sini dan pertimbangan banyak hal, saya tidak jadi mendaftar ke
sana. Terlebih lagi saat saya tau bahwa tinggi badan saya kurang memenuhi
syarat. Akhirnya dengan berat hati saya saat itu melepaskan cia-cita sebagai
seorang peneliti BMKG.
Orang tua, terutama Ibu saya sangat cemas jika nantinya saya tidak dapat
universitas negeri. Itulah sebabnya Ibu saya mendorong agar saya mendaftar di
salah satu kampus di bawah naungan kementerian RI yang *katanya* syarat
masuknya cukup mudah dan biayanya terjangkau *sebut saja kampus P*. Alhasil saya
pun mendaftar bersama-sama teman lainnya yang memang ingin mendaftar ke sana
juga, saat itu syarat utama kami adalah nilai rapor selama SMA yang nantinya
akan diseleksi. Setelah serangkaian syarat saya jalankan, pengumuman menyatakan
bahwa saya dan beberapa teman saya Alhamdulillah lulus. Setelah menjalankan
serangkaian prosedur lanjutan, secara resmi saya dinyatakan diterima sebagai
mahasiswa kampus P bahkan sudah mau dibuatkan jaket almamater dan KTM.
Waktu selama menunggu pengumuman SNMPTN saat itu bagaikan penantian takdir
hidup atau mati. saya sudah merasa malas untuk belajar karena saya memang tidak
begitu niat ikut SBMPTN atau SIMAK UI, dan saya sudah merasa aman dengan
pilihan saya di SNMPTN ditambah lagi sudah ada kampus yang menerima. Bisikan
setan untuk meninggalkan belajar terus saja saya ikuti dengan bodohnya. Hingga
pada akhirnya saya mendapat pencerahan dari lubuk hati terdalam untuk
memperjuangkan UI sesuai cita-cita dan passion
saya. Mulai saat itu, saya mulai intensif ikut program sukses SBMPTN di tempat
bimbel saya yang berinisial NF, padahal program yang saya ikuti adalah sukses
UN yang masa belajarnya sudah habis, tapi saya dan teman-teman lainnya
diperbolehkan ikut yang SBMPTN secara cuma-cuma, hehe. Dengan mata tercekat
saat itu saya baru tahu tipe soal SBMPTN, kemudian frustasi tingkat tinggi pun
terjadi. Saya menyesal, kemaren-kemaren
ke mana aja lu, ha? Sedangkan waktu untuk belajar sudah tak tersisa banyak.
Hari di mana status peng-gantung-an berakhir pun tiba. Hasil SNMPTN
diumumkan. Takut, penasaran, bahagia, bergabung menjadi suatu larutan yang
meresap ke semua organ tubuh saya. Koneksi internet yang parah jeleknya membuat
saya kesulitan membuka hasil seleksi, bahkan saya pun belum mengetahui nasib
sendiri ketika teman-teman saya sudah mulai memberi kabar bahagia di berbagai media
sosial. Hingga akhirnya saya berhasil membuka akun saya dan hasilnya sangat
fail. “maaf, anda tidak dinyatakan lulus SNMPTN” kurang lebih begitu kalimat
yang saya ingat tertulis di sana. Sedih pake banget, merasa berdosa sama Ibu
karena terlihat jelas wajah kecewa beliau yang juga melihat hasil tersebut. It’s okay... It’s not the end yet,
pikiran saya mencoba merangkai berbagai kata mutiara untuk dijadikan status di
Facebook. Menyemangati dan menenangkan diri sendiri, itu sih tujuannya. tapi
hal itu pun urung saya lakukan, hahaha. Saya tidak mau mendapat comment iba
dari teman-teman saya yang berhasil lulus, karena mereka tidak tahu bagaimana
sedihnya dan kata-kata semangat dari mereka tidak mempan menghilangkan
kesedihan saya saat itu. Akhirnya, terucap kesimpulan yang akhirnya saya
putuskan : harus lolos SBMPTN!
Dengan usaha maksimal versi saya, akhirnya ujian SBMPTN pun telah dilewati.
Lokasi saya adalah di sebuah SMP negeri di Jakarta Pusat, cukup jauh dari
tempat tinggal saya di Depok. sebelum hari eksekusi, saya bener-bener bingung
bagaimana cara mendaftar SBMPTN hingga akhirnya saya pun membeli nomor peserta
dengan cara nebeng teman. Barulah setelah itu saya diberi tahu bahwa yang
mengikuti jalur Bidikmisi bisa memperoleh nomor peserta secara khusus dan
gratis, alhasil di SBMPTN ini saya mendaftar sebagai mahasiswa S1 reguler tanpa
Bidikmisi. Saya tidak memiliki niatan mengikuti SIMAK UI sama sekali. Biayanya
tidak sedikit, saya tidak mau meminta uang orang tua lagi untuk sesuatu yang
mungkin nantinya akan berujung pada hal yang membuat mereka kecewa. Jadi SBMPTN
merupakan penentuan akhir apakah saya akan masuk UI atau tidak. Kalau tidak
lolos lagi ya sudah, saya dengan hati ikhlas akan masuk kampus yang sudah
menerima saya apa adanya hehehe.
Sungguh pertolongan Allah akan datang di saat yang tak diduga-duga. Suatu
hari teman saya memberi tahu bahwa SIMAK UI juga bisa untuk jalur pelamar
beasiswa Bidikmisi. Sistemnya sama seperti SBMPTN, nantinya si pelamar akan
diberi PIN yang bisa untuk mendaftar SIMAK UI secara gratis. Anehnya saya kok
kurang update banget ya saat itu? Wkwk. Akhirnya saya pun mendaftar SIMAK UI
dengan hati gembira tanpa beban. Ibaratnya saya sudah memberikan hati saya sama
si kampus P, jadi mau UI nerima saya atau tidak nantinya saya sudah tidak
peduli, hahaha *evil laugh*. Mulai saat itu saya mulai searching model soal
SIMAK UI dan ternyata makin lucu saja soalnya. Saya akhirnya berguru pada Prof.
Google dan catatan bimbel saya untuk memecahkan tebak-tebakan tersebut.
Berbeda dengan ujian SBMPTN, saya lebih merasa rileks di ujian SIMAK ini.
mungkin karena separuh hati saya sudah tidak begitu menginginkan UI lagi, atau
karena soalnya yang lebih bersahabat? Entahlah. Intinya setelah ujian selesai
saya benar-benar memohon doa untuk diberikan yang terbaik, kampus manapun itu
akan saya terima. Oh iya, pilihan prodi saya di SIMAK UI dan SBMPTN sama semua,
yaitu ketiganya dari FMIPA UI. di urutan pertama tentu saja si Mawar yang saya
kejar-kejar sedari awal. Dan karena saya masih ada perasaan dengan ilmu bumi,
saya pun memilih jurusan G di plihan ketiga.
Pengumuman SBMPTN membuat saya deg-degan. Ada perasaan pesimis tapi ada
juga perasaan optimis. Pada akhirnya saya pun mendapatkan kata “maaf” untuk
kedua kalinya, dan kembali saya kecewa. Saya berpikir bahwa wajar saja saya
tidak lolos, saya memang merasa sangat kurang bisa pada satu mata ujian bahkan
saya prediksi saya dapat skor minus di mata ujian tersebut. Tidak lama setelah
itu pengumuman SIMAK UI pun datang. Kali ini saya sudah tidak berminat karena
pikiran saya sudah jelek duluan, “ah paling
UI minta maaf lagi”. Selang 30 menit dari waktu pengumuman saya akhirnya
membuka akun SIMAK saya, dan ternyata kali ini warna font nya tidak berwarna
merah alias bukan kalimat maaf seperti dulu. Alhamdulilah saya dinyatakan lolos
di pilihan ketiga yaitu pada jurusan G yang cukup saya inginkan. Dengan
diterimanya saya melalui jalur SIMAK, maka saya juga memiliki peluang untuk
lulus sebagai penerima beasiswa Bidikmisi. Saya benar-benar terharu, begitupun
keluarga dan teman-teman saya yang mengetahui kabar tersebut. Sujud syukur Ibu
saya menandakan betapa bahagianya beliau mengetahui kedua anaknya berkesempatan
menjadi mahasiswa di PTN terfavorit di negeri ini. saya pun bahagia, dan
bersyukur sekali akan jalan yang digariskan Allah kepada saya. Apalagi tak lama
setelah itu, saya pun segera melalui tahapan registrasi sebagai mahasiswa baru
dan telah resmi menjadi mahasiswa Univeritas Indonesia dengan status penerima
beasiswa Bidikmisi.
Sekarang, awal bulan Januari di tahun 2015. Sebentar lagi saya akan memasuki
semester 4 sebagai mahasiswi jurusan Geografi FMIPA UI. rasa syukur ini masih,
dan tak akan hilang, menjadi pemotivasi utama saya dalam menuntut ilmu di sini.
Insya Allah, yang telah diberikan oleh-Nya adalah yang terbaik. Meski
kelihatannya gagal berkali-kali, tapi ketika saya melihat ke masa itu lagi
ternyata banyak hikmah yang dapat saya ambil. Penguat iman sekaligus pelajaran
hidup yang tak akan pernah saya dapatkan di kampus manapun.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar