Pages

Taman Wisata Alam Angke Kapuk : Ketenteraman di ujung utara Jakarta

3 Maret 2015
Saat liburan akhir semester 3 kemarin, tepatnya hari Kamis tanggal 8 Januari 2015, saya dan tiga orang teman satu jurusan di kampus melakukan jalan-jalan + penelitian ceria ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Tempat apa tuuh? Taman Wisata Alam Angke Kapuk merupakan tempat konservasi mangrove (bakau) sekaligus wisata berbasis lingkungan yang dikelola oleh swasta. Fyi, di lokasi yang tidak begitu jauh dari sana juga terdapat Suaka Margasatwa Muara Angke milik pemerintah. Cuman setelah review dari beberapa blog orang lain, katanya yang milik pemerintah itu kurang bagus. Alhasil kami hanya mengunjungi Taman Wisata Alam Angke Kapuk nya saja ^.^

Taman wisata yang lebih familiar dengan sebutan taman mangrove ini berlokasi di Kapuk Muara, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Kami memulai perjalanan jam 08.00 WIB menggunakan commuter line dari Stasiun Pondok Cina. Berikut tahapan transportasi  versi kami :

  • Commuter line Stasiun Pondok Cina – Stasiun Jakarta Kota : Rp 4.000 à 1 jam
  •  Masuk koridor Transjakarta (Rp 3.500). tapi tunggu.. kita bukan akan naik Transjakarta, melainkan BKTB jurusan Monas-PIK. BKTB ini beroperasi di dalam jalur Transjakarta dan bersinggungan dengan 2 koridor Transjakarta, yaitu Blok M-Kota (koridor 1) dan Pluit-Tanjung Priok (koridor 12). Di dalam BKTB, kami ditanya akan turun di mana oleh sang kernet. Saya bilang turun di sekolah Budha Tzu Chi, dan kami pun dikenakan tarif Rp 2.500/orang. à 1 jam
  •  Jalan kaki dari depan sekolah Budha Tzu Chi. Begitu turun sudah kelihatan papan penunjuk arah menuju taman mangrove

Di pintu masuk taman mangrove kami membeli tiket seharga Rp 25.000/orang. Setelah diberi karcis, saya baru tahu bahwa ternyata ada 2 lembar karcis yang dimana 1 lembar berupa harga masuk seharga Rp 5.000 dan 1 lembar lainnya berupa harga paket wisata sebesar Rp 20.000, jadi jika ditotal menjadi Rp 25.000. selain itu tas kami juga diperiksa untuk memastikan kami tidak membawa kamera digital atau DSLR yang memang dilarang oleh pihak pengelola.


Selang beberapa meter dari pintu masuk, kami disuguhkan dengan bangunan masjid yang asri dan tenang sekali, namanya Masjid Al-Hikmah.



Masjid ini seluruh interiornya terbuat dari kayu, bahkan sampai ke tempat wudhu dan kamar mandinya saya bilang cukup sukses menciptakan suasana alam.


Mangrove dan Ekosistemnya

Ada bebebrapa jenis mangrove yang hidup  –dan mungkin dibiakkan—di sini. Untuk mempermudah pengunjung mengetahuinya, dipasang papan keterangan pada badan mangrove.






Ternyata anak mangrove perlu dipasang pada bambu terlebih dahulu sebelum bisa tumbuh secara independen.


Saya agak kecewa sebenarnya, karena informasi yang disediakan di tempat ini kurang dapat memuaskan dahaga pengunjung yang ingin belajar mengenai mangrove. Seperti cara penanamannya, habitat yang sesuai, fungsi mangrove terhadap ekosistem, dsb tidak diberikan oleh pihak Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Padahal yang saya lihat pengunjung yang mendominasi adalah kalangan pelajar atau anak muda, yang mungkin membutuhkan informasi verbal untuk lebih menjelaskan apa yang kami lihat di sana.



Salah satu fasilitas yang ditawarkan pihak pengelola adalah pondok kemah, tapi saya tidak tau berapa tarifnya :D






Salah satu view yang paling saya suka di sini adalah perpaduan dari pondok kemah, jembatan kayu, dan ekosistem mangrove. Really a nice spot for taking photos :D



Selain pondok kemah juga ada fasilitas perahu dayung, speed boat, dan menanam mangrove dengan tarif berbeda-beda.
Ini adalah penampakan mangrove yang ditanam oleh pihak yang namanya tertera di papan kayu di atasnya

Jalur ketika hendak menanam mangrove







Saat tengah mengelilingi taman, kami pun penasaran dengan sebuah jalan yang menuju ke pantai. Akhirnya kami pun menyusuri jalan yang ternyata cukup panjang, sekitar 20 menit kami menempuhnya.






Semakin dekat ke arah pantai, jalanan yang kami lewati hanyalah jalanan bambu yang terbentang di atas lahan mangrove seperti ini. di tanah itu ada banyak sekali kepiting air tawar yang malu-malu kalo didekati, hihihi. Lihat, lubang-lubang di tanah tersebut adalah rumah mereka :D



Dan akhirnya kami pun tiba di pantaiii! Pemandangannya biasa aja, tapi bagusnya di sana ada beberapa ekor burung yang ukurannya cukup besar dan indah, ada yang warnanya putih dan ada yang hitam (gak tau namanya, mungkin camar?)







That’s all!

Untuk perjalanan pulang, kami berjalan kaki lagi sampai depan sekolah Budha Tzu Chi. Setelah tiba di jalan raya, kami naik angkot U11 (Rp 5k) di sini tanya aja abangnya kalo mau ke Jakarta Kota gimana. Nanti si abang akan nurunin di tempat ada angkot 06. Lalu kami naik angkot 06 yang mengantarkan langsung sampe Jakarta Kota (Rp 5k)

Kesimpulan :
Tempatnya cukup bagus, apalagi kalo buat spot foto-foto. Bagi yang menginginkan ketenangan maka sangat disarankan untuk datang kesini, karena akan banyak area yang bisa kamu jelajahi sambil merenung atau memuhasabahi diri :’) Di lihat dari segi ekowisata sudah cukup baik, tapi kurang dalam menyediakan informasi terkait konservasi mangrove itu sendiri. Biayanya yang cukup mahal (untuk ukuran kantong saya) kurang sebanding dengan fasilitas yang dapat kita nikmati. Dari segi kebersihan lingkungannya juga masih sangat perlu ditingkatkan.

Saya memberi skor 77 dari skala 100


Salam jalan-jalan!
Read more ...