Saat liburan akhir
semester 3 kemarin, tepatnya hari Kamis tanggal 8 Januari 2015, saya dan tiga
orang teman satu jurusan di kampus melakukan jalan-jalan + penelitian ceria ke Taman Wisata Alam Angke Kapuk.
Tempat apa tuuh? Taman Wisata Alam Angke Kapuk merupakan tempat konservasi
mangrove (bakau) sekaligus wisata berbasis lingkungan yang dikelola oleh
swasta. Fyi, di lokasi yang tidak begitu jauh dari sana juga terdapat Suaka
Margasatwa Muara Angke milik pemerintah. Cuman setelah review dari beberapa
blog orang lain, katanya yang milik pemerintah itu kurang bagus. Alhasil kami
hanya mengunjungi Taman Wisata Alam Angke Kapuk nya saja ^.^
Taman wisata yang lebih
familiar dengan sebutan taman mangrove ini berlokasi di Kapuk Muara, Pantai
Indah Kapuk, Jakarta Utara. Kami memulai perjalanan jam 08.00 WIB menggunakan commuter line dari Stasiun Pondok Cina.
Berikut tahapan transportasi versi kami
:
- Commuter line Stasiun Pondok Cina – Stasiun Jakarta Kota : Rp 4.000 à 1 jam
- Masuk koridor Transjakarta (Rp 3.500). tapi tunggu.. kita bukan akan naik Transjakarta, melainkan BKTB jurusan Monas-PIK. BKTB ini beroperasi di dalam jalur Transjakarta dan bersinggungan dengan 2 koridor Transjakarta, yaitu Blok M-Kota (koridor 1) dan Pluit-Tanjung Priok (koridor 12). Di dalam BKTB, kami ditanya akan turun di mana oleh sang kernet. Saya bilang turun di sekolah Budha Tzu Chi, dan kami pun dikenakan tarif Rp 2.500/orang. à 1 jam
- Jalan kaki dari depan sekolah Budha Tzu Chi. Begitu turun sudah kelihatan papan penunjuk arah menuju taman mangrove
Di pintu masuk taman
mangrove kami membeli tiket seharga Rp 25.000/orang. Setelah diberi karcis,
saya baru tahu bahwa ternyata ada 2 lembar karcis yang dimana 1 lembar berupa
harga masuk seharga Rp 5.000 dan 1 lembar lainnya berupa harga paket wisata
sebesar Rp 20.000, jadi jika ditotal menjadi Rp 25.000. selain itu tas kami
juga diperiksa untuk memastikan kami tidak membawa kamera digital atau DSLR
yang memang dilarang oleh pihak pengelola.
Selang beberapa meter
dari pintu masuk, kami disuguhkan dengan bangunan masjid yang asri dan tenang
sekali, namanya Masjid Al-Hikmah.
Masjid ini seluruh
interiornya terbuat dari kayu, bahkan sampai ke tempat wudhu dan kamar mandinya
saya bilang cukup sukses menciptakan suasana alam.
Mangrove dan Ekosistemnya
Ada bebebrapa jenis mangrove yang hidup –dan mungkin dibiakkan—di sini. Untuk
mempermudah pengunjung mengetahuinya, dipasang papan keterangan pada badan
mangrove.
Ternyata anak mangrove perlu dipasang pada bambu terlebih
dahulu sebelum bisa tumbuh secara independen.
Saya agak kecewa
sebenarnya, karena informasi yang disediakan di tempat ini kurang dapat
memuaskan dahaga pengunjung yang ingin belajar mengenai mangrove. Seperti cara
penanamannya, habitat yang sesuai, fungsi mangrove terhadap ekosistem, dsb
tidak diberikan oleh pihak Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Padahal yang saya
lihat pengunjung yang mendominasi adalah kalangan pelajar atau anak muda, yang
mungkin membutuhkan informasi verbal untuk lebih menjelaskan apa yang kami
lihat di sana.
Salah satu fasilitas yang
ditawarkan pihak pengelola adalah pondok kemah, tapi saya tidak tau berapa
tarifnya :D
Salah satu view yang
paling saya suka di sini adalah perpaduan dari pondok kemah, jembatan kayu, dan
ekosistem mangrove. Really a nice spot for taking photos :D
Selain pondok kemah juga
ada fasilitas perahu dayung, speed boat, dan menanam mangrove dengan tarif
berbeda-beda.
Ini adalah penampakan
mangrove yang ditanam oleh pihak yang namanya tertera di papan kayu di atasnya
Jalur ketika hendak
menanam mangrove
Saat tengah mengelilingi
taman, kami pun penasaran dengan sebuah jalan yang menuju ke pantai. Akhirnya
kami pun menyusuri jalan yang ternyata cukup panjang, sekitar 20 menit kami
menempuhnya.
Semakin dekat ke arah pantai, jalanan yang kami lewati
hanyalah jalanan bambu yang terbentang di atas lahan mangrove seperti ini. di
tanah itu ada banyak sekali kepiting air tawar yang malu-malu kalo didekati,
hihihi. Lihat, lubang-lubang di tanah tersebut adalah rumah mereka :D
Dan akhirnya kami pun tiba di pantaiii! Pemandangannya biasa
aja, tapi bagusnya di sana ada beberapa ekor burung yang ukurannya cukup besar
dan indah, ada yang warnanya putih dan ada yang hitam (gak tau namanya, mungkin
camar?)
That’s all!
Untuk perjalanan pulang, kami berjalan kaki lagi sampai depan
sekolah Budha Tzu Chi. Setelah tiba di jalan raya, kami naik angkot U11 (Rp 5k)
di sini tanya aja abangnya kalo mau ke Jakarta Kota gimana. Nanti si abang akan
nurunin di tempat ada angkot 06. Lalu kami naik angkot 06 yang mengantarkan
langsung sampe Jakarta Kota (Rp 5k)
Kesimpulan :
Tempatnya cukup bagus, apalagi
kalo buat spot foto-foto. Bagi yang menginginkan ketenangan maka sangat
disarankan untuk datang kesini, karena akan banyak area yang bisa kamu jelajahi
sambil merenung atau memuhasabahi diri :’) Di lihat dari segi ekowisata sudah
cukup baik, tapi kurang dalam menyediakan informasi terkait konservasi mangrove
itu sendiri. Biayanya yang cukup mahal (untuk ukuran kantong saya) kurang
sebanding dengan fasilitas yang dapat kita nikmati. Dari segi kebersihan
lingkungannya juga masih sangat perlu ditingkatkan.
Saya memberi skor 77 dari
skala 100
Salam jalan-jalan!
Salam jalan-jalan!
















