Ini adalah
catatan perjalanan gw dan seorang temen yang berencana menaklukan tempat-tempat
hits di Jogja dengan bermodal dengkul (memaksimalkan apapun yg gretong), namun
ternyata tidak semudah waktu searching di internet. Nginep di masjid,
angkringan, sempat terlintas di benak kami untuk menekan pengeluaran, but.. my
mom told me that it wasn’t proper for girls. Finally we blacklisted that option
haha.
Perjalanan gw
dimulai dari Stasiun Pondok Cina menuju Stasiun Pasar Senen pada tanggal 17 Januari 2017. Naik commuter line dari Pocin ke Ps Senen ada beberapa pilihan,
tapi gw milih rute yang lumayan lebih cepet tapi harus transit dua kali, yaitu
di Manggarai (naik lagi ke arah Jatinegara) dan dari Jatinegara naik lagi yang
ke arah Bogor, nanti turun di Ps Senen. Kereta yang gw naiki adalah Bengawan
dengan departure time 11.30 WIB (harga tiket: Rp 74k). saat itu ada yg bikin gw kaget, yaitu adanya “pramugari”
di St Pasar Senen yang menyambut penumpang yang akan naik. Apakah itu baru atau
sudah lama, yang jelas gw baru liat dan sebuah kemajuan dari KAI sih menurut
gw. Kami tiba di St Lempuyangan pukul 20.00 WIB dan mencari taksi menuju
Kabupaten Bantul. Jadi, berhubung gw punya saudara di Bantul dan ortu gw pun
lagi di sana, alhasil gw dan ma friend bakal nginep di sana selama 3 malem (Alhamdulillah
bisa ngirit T.T). rumah saudara gw berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek,
Kabupaten Bantul sehingga yaa lumayan jauh lah dari Kota Jogja sekitar 1 jam
perjalanan dengan taksi. Fyi ya, begitu keluar dari Lempuyangan bakal ada
banyak supir taksi atau mobil plat hitam yang menawarkan jasanya, tapi kita gak
langsung memesan di situ. Kami makan dulu di jejeran warung makan di depan
stasiun, barulah kami menghampiri kerumunan supir taksi yg lagi berbincang ria.
We were so lucky that time, coz the driver’s home was in same area as our
destination. Jadi kami kena ongkos lebih murah yaitu 100k (biasanya bokap gw
kena 150k).
"To walk in nature is to witness a thousand miracles" -Mary Davis
Day 1
Cuaca di Bantul
sedang tidak menentu, namun kata ibu gw lebih sering hujan dari kemarin. Gw and
ma fren pun meluncur ke spot terdekat dari rumah saudara gw, yaitu Pantai
Depok. Apa? Jadi di Jogja juga ada Depok? Yep, gw juga bingung dengan toponimi
daerah-daerah di Indonesia yang punya banyak kembaran. Untuk mencapai Pantai
Depok kami menaiki motor dengan waktu tempuh hanya @5 menit. Pantai ini punya
karakteristik gelombang yang kuat dan bergulung-gulung. Material pasirnya
berwarna hitam, sepertinya dipengaruhi oleh batuan vulkanik dari Gn Merapi. Karena
pasirnya hitam, air pantainya pun cukup keruh. Pantai ini kurang terkenal
dengan atraksi keindahan alamnya, namun lebih dikenal akan kuliner lautnya
karena di pantai ini banyak nelayan yang melaut mencari ikan dan langsung
diolah di tempat makan yang banyak berdiri di kawasan pantai ini. Emak gw bahkan
selalu mempromosikan ikan bawal bakar Pantai Depok kalo doi habis pulkam ckck. Untuk
masuk ke pantai ini hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 3k. Satu hal yang
selalu jadi permasalahan dan sangat disayangkan dari kawasan wisata pantai
adalah banyaknya sampah di atas pasir. Sampah dari laut diperparah oleh
wisatawan atau mungkin juga warga lokal (?) yang masih luput akan sampahnya
sendiri. So please, people. Watch your waste. Kan jadi ga ada indah-indahnya
pantai kalo tiap jengkal mata memandang ketemu sampah melulu L
![]() |
| karena kepagian, pengunjungnya cuma kita |
Seiring matahari
mulai meninggi, ternyata hari ini cukup cerah tjoy! Gw n ma fren gak
menyia-nyiakan waktu ini untuk pergi ke spot idaman utama kita yaitu Kebun Buah
Mangunan dan Hutan Pinus yang berlokasi di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo,
Bantul. Namun, alamat yang lebih sering digunakan adalah Imogiri, sehingga kita
dapat mengikuti arah menuju kawasan Imogiri. Kedua objek wisata ini terbilang
baru dan hits sebagai spot foto yang kece gile. Kami pun menerjang jalan yang
begelombang menuju Mangunan dengan si motor bebek sewaan (fyi, nyewa motor di
sini Rp 25k/hari), dengan modal peta handmade yang dibuat oleh kakak sepupu gw.
Namun nyatanya kami masih butuh bertanya kepada warga sekitar karena jalannya
cukup jauh dan membingungkan. Perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan dari rumah
sodara gw (Parangtritis) sekitar 1 jam. Jalan yang kami lewati saat berangkat
bener-bener keren! Backgroundnya berupa gugusan bukit hijau dengan langit biru
bersih, ditambah jalanan aspal yang mulus lebar dan lengang (namun bergelombang
dan banyak tikungan tajam). Begitu sampai di kawasan Imogiri suasananya sejuk
dan hijau-hijau seger seperti di dalam hutan. Tiket masuk Kebun Buah Mangunan
adalah Rp 5k. Untuk sebuah kawasan wisata yang baru, ini sudah cukup lengkap. Ada
landmark (papan nama besar), tempat makan, toilet, parkir, dan banyak tempat
duduk untuk wisatawan yang lelah karena di dalam kawasan ini kita seperti
trekking. Untuk mendapat spot foto yang bagus, kita harus mencapai tempat yang
sesuai dan disitulah usaha kita semakin besar.
Pemandangan dari
puncak ini keren banget. Perbukitan membentang seluas memata memandang, dengan
kanopi hijau tua yang saling merapat. Sungai Oyo membelah perbukitan dengan
warnanya yang coklat, kontras, seakan memberi nadi kehidupan bagi dua ekosistem
terestrial dan akuatik yang hidup saling berdampingan. Gw membayangkan
khidmatnya tempat ini di kala subuh atau malam, ketika tak banyak interupsi
suara manusia. Pasti bakal tenang banget kalo kita mendengarkan suara alam itu
sendiri, yang disampaikan melalui banyak cara, contohnya gesekan daun, hembusan
angin, dsb.
![]() |
| sebaik-baik pemandangan adalah yang dilihat langsung oleh mata |
Kawasan Imogiri
ini merupakan kawasan wisata yang terdiri dari beberapa objek wisata, di
antaranya ada Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus yang menjadi target kita
selanjutnya. Dari Kebun Buah Mangunan, kita naik motor lagi @5 menit dan tibalah
di area hutan pinus berstatus lindung dengan tegakan pohon yang i bet it about
more than 20 m. Untuk masuk, kita bayar parkir lagi sebesar Rp 3k. Untuk make
toilet bayar lagi sayangnya huhu (Rp 2k). Dalam area ini ada tempat parkir,
tempat makan, toilet, mushola, dan hutan pinus tentunya. Di dalam area hutan terdapat
cukup banyak tempat duduk dari kayu. Gw pribadi merekomendasikan kalian untuk
menggunakan kamera yang punya angle luas (fish eye) atau pro kamera sekalipun,
karena kalo pake kamera biasa (apalagi kalo skill fotografinya juga biasa, macem
gw ini) hasil fotonya akan biasa-biasa aja. Objek pohon pinus ini bagus banget
kalo bisa dapet sudut yang pas, sayang kan kalo cuma dapet foto sama batangnya
doang.
![]() |
| setinggi langit |
Day 2
It seemed like would
be rainy all day. Alhamdulillah kemarin kita udah kesampean ke spot hits yang
jauh pas cuacanya cerah. Alhasil hari ini kita main ke spot yang cukup dekat
dari rumah sodara gw juga, yaitu Pantai Parangtritis dkk. Jalanan menuju pantai
parangtritis ini ketje parah. Pohon cemara pantai yang lagi menghijau karena di
musim hujan ternyata menghasilkan view artsy kayak di luar negeri, beda banget
waktu gw ke sini pas musim kemarau yang mana cuma ada ranting gundul macem di
padang pasir. Tempat ini juga jadi spot foto loh, apalagi jalanan aspal ini
kalo lagi pagi masih lengang jadi bisa foto-foto sepuasnya. Mau tiduran di
tengah jalan juga bisa. Kalo lagi rame, wah jangan harap bisa foto di tengah
jalannya deh :’)
![]() |
| yg lebih bagus masih beberapa meter setelah ini |
Pertama kita main
dulu di Gumuk Pasir Parangkusumo. Parkir as always sebesar Rp 3k. Jadi kalo
lewat jalan ini kita bakal melewati gumuk pasir dulu, baru tiba di pantai. Sebenernya
gumuk pasir di kawasan Parangtritis ini luas banget, dan salah satunya adalah
yang dijadikan objek wisata ini. Inilah yg gw suka dari jalan-jalan ke objek
wisata alam, kita bisa menyaksikan kebesaran dari Yang Maha Kuasa melalui
proses-proses yang gak bisa dimanipulasi oleh manusia. Contohnya gumuk pasir
ini, hanya ada dua yang seperti ini di dunia, yaitu di Meksiko dan
Parangtritis. Gumuk pasir Parangkusumo ini merupakan bentuk lahan aeolian
(terbentuk dari proses-proses oleh angin). As we know, di selatan Jogja
merupakan pantai selatan yang menghadap ke Samudera Hindia, with no barrier at
all. Pantai ini juga menjadi muara dari sejumlah sungai besar yang ada di Jogja
yang mengangkut sedimen-sedimen dari hulunya (termasuk sedimen dari Gn Merapi).
Angin kuat yang berhembus ke arah utara selama jangka waktu yang sangat lama
membuat sedimen-sedimen yang berada di pinggiran pantai ini berpindah. Bisa dibilang
mereka loncat, menggelinding, atau terbang, mengikuti arah angin tersebut
semakin masuk ke daratan. Pergerakan tersebut akhirnya terhenti ketika terdapat
barrier (penghalang) berupa pepohonan, perbukitan, dsb yang menyebabkan area
sepanjang barrier tersebut hingga ke pantai menjadi area perpindahan material
pasir oleh angin. Setelahnya, angin “memahat” tumpukan pasir yang telah
terakmulasi tersebut menjadi bentuk-bentuk tertentu. Di Parangkusumo ini,
bentuk gumuk pasirnya adalah barchan (sabit) di mana terdapat dua sisi curam yang
dipisahkan oleh satu puncak lengkung.
![]() |
| gak keliatan bentuk barchannya |
Tempat ini pun
menjual spot foto yang dramatis, seakan-akan berada di padang pasir tropis. Terdapat
berbagai atribut foto, seperti simbol love raksasa yang dirangkai dari bunga
artificial. Yang unik juga ada semacam telaga yang berada di tengah-tengah
padang pasir. Entah air apa itu.
Selang beberapa
ratus meter dari sini, kami telah tiba di Pantai Parangtritis. Pantai yang
sudah sangat terkenal dan sepuh di deretan objek wisata jogja. Bayar lagi
parkir Rp 3k (murah meriah yeayy). Pantai dengan gelombang kuat, slope pantai
yang landai, tebing yang membingkai di sebelah timur, dan pasir hitam halus mirip
seperti di Pantai Depok. Jika kamu mencari pantai yang bagus, meluncurlah lebih
jauh yaitu ke daerah Gunung Kidul. Pantai di Bantul cenderung “tidak begitu
indah” karena jenisnya merupakan pantai terbuka (menghadap samudera, tanpa
barrier) ditambah sedimen vulkanik Gn Merapi yang menjadi materi utama penyusun
pasir pantainya sehingga memberi warna yang gelap pada pasir dan pantai.
![]() |
| walking through the sandy beach |
Namun hal
baiknya adalah Parangtritis memiliki area backshore (area pasir) yang luas
untuk beraneka ragam aktivitas seperti olahraga pantai, jelajah pantai dengan
delman, dsb. Meskipun ada pos pengamatan penjaga pantai, namun saat itu gw mendapati gak ada orang yang menjaganya. Sayang
banget, padahal Parangtritis tergolong pantai rawan kecelakaan hanyut dan butuh
pengawasan dari yang berwenang. Setau gw ada fenomena rip current di pantai
ini, yang mana dapat menyebabkan orang terbawa arus ke arah laut dalam radius
beberapa meter. Fenomena ini banyak ditemukan kok di pantai-pantai terbuka, dan
bukan berkaitan dengan mitos nyai selatan :’)
Yap, jadi
ceritanya besok gw n ma fren akan caw dari Bantul menuju Kota Jogja. so....
bersambung di post berikutnya ya :D






Tidak ada komentar:
Posting Komentar