Pages

Adventuring Jogja! #1

5 Februari 2017
Ini adalah catatan perjalanan gw dan seorang temen yang berencana menaklukan tempat-tempat hits di Jogja dengan bermodal dengkul (memaksimalkan apapun yg gretong), namun ternyata tidak semudah waktu searching di internet. Nginep di masjid, angkringan, sempat terlintas di benak kami untuk menekan pengeluaran, but.. my mom told me that it wasn’t proper for girls. Finally we blacklisted that option haha.

Perjalanan gw dimulai dari Stasiun Pondok Cina menuju Stasiun Pasar Senen pada tanggal 17 Januari 2017. Naik commuter line dari Pocin ke Ps Senen ada beberapa pilihan, tapi gw milih rute yang lumayan lebih cepet tapi harus transit dua kali, yaitu di Manggarai (naik lagi ke arah Jatinegara) dan dari Jatinegara naik lagi yang ke arah Bogor, nanti turun di Ps Senen. Kereta yang gw naiki adalah Bengawan dengan departure time 11.30 WIB (harga tiket: Rp 74k). saat itu ada yg bikin gw kaget, yaitu adanya “pramugari” di St Pasar Senen yang menyambut penumpang yang akan naik. Apakah itu baru atau sudah lama, yang jelas gw baru liat dan sebuah kemajuan dari KAI sih menurut gw. Kami tiba di St Lempuyangan pukul 20.00 WIB dan mencari taksi menuju Kabupaten Bantul. Jadi, berhubung gw punya saudara di Bantul dan ortu gw pun lagi di sana, alhasil gw dan ma friend bakal nginep di sana selama 3 malem (Alhamdulillah bisa ngirit T.T). rumah saudara gw berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul sehingga yaa lumayan jauh lah dari Kota Jogja sekitar 1 jam perjalanan dengan taksi. Fyi ya, begitu keluar dari Lempuyangan bakal ada banyak supir taksi atau mobil plat hitam yang menawarkan jasanya, tapi kita gak langsung memesan di situ. Kami makan dulu di jejeran warung makan di depan stasiun, barulah kami menghampiri kerumunan supir taksi yg lagi berbincang ria. We were so lucky that time, coz the driver’s home was in same area as our destination. Jadi kami kena ongkos lebih murah yaitu 100k (biasanya bokap gw kena 150k).


"To walk in nature is to witness a thousand miracles" -Mary Davis


Day 1

Cuaca di Bantul sedang tidak menentu, namun kata ibu gw lebih sering hujan dari kemarin. Gw and ma fren pun meluncur ke spot terdekat dari rumah saudara gw, yaitu Pantai Depok. Apa? Jadi di Jogja juga ada Depok? Yep, gw juga bingung dengan toponimi daerah-daerah di Indonesia yang punya banyak kembaran. Untuk mencapai Pantai Depok kami menaiki motor dengan waktu tempuh hanya @5 menit. Pantai ini punya karakteristik gelombang yang kuat dan bergulung-gulung. Material pasirnya berwarna hitam, sepertinya dipengaruhi oleh batuan vulkanik dari Gn Merapi. Karena pasirnya hitam, air pantainya pun cukup keruh. Pantai ini kurang terkenal dengan atraksi keindahan alamnya, namun lebih dikenal akan kuliner lautnya karena di pantai ini banyak nelayan yang melaut mencari ikan dan langsung diolah di tempat makan yang banyak berdiri di kawasan pantai ini. Emak gw bahkan selalu mempromosikan ikan bawal bakar Pantai Depok kalo doi habis pulkam ckck. Untuk masuk ke pantai ini hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 3k. Satu hal yang selalu jadi permasalahan dan sangat disayangkan dari kawasan wisata pantai adalah banyaknya sampah di atas pasir. Sampah dari laut diperparah oleh wisatawan atau mungkin juga warga lokal (?) yang masih luput akan sampahnya sendiri. So please, people. Watch your waste. Kan jadi ga ada indah-indahnya pantai kalo tiap jengkal mata memandang ketemu sampah melulu L

karena kepagian, pengunjungnya cuma kita

Seiring matahari mulai meninggi, ternyata hari ini cukup cerah tjoy! Gw n ma fren gak menyia-nyiakan waktu ini untuk pergi ke spot idaman utama kita yaitu Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus yang berlokasi di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul. Namun, alamat yang lebih sering digunakan adalah Imogiri, sehingga kita dapat mengikuti arah menuju kawasan Imogiri. Kedua objek wisata ini terbilang baru dan hits sebagai spot foto yang kece gile. Kami pun menerjang jalan yang begelombang menuju Mangunan dengan si motor bebek sewaan (fyi, nyewa motor di sini Rp 25k/hari), dengan modal peta handmade yang dibuat oleh kakak sepupu gw. Namun nyatanya kami masih butuh bertanya kepada warga sekitar karena jalannya cukup jauh dan membingungkan. Perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan dari rumah sodara gw (Parangtritis) sekitar 1 jam. Jalan yang kami lewati saat berangkat bener-bener keren! Backgroundnya berupa gugusan bukit hijau dengan langit biru bersih, ditambah jalanan aspal yang mulus lebar dan lengang (namun bergelombang dan banyak tikungan tajam). Begitu sampai di kawasan Imogiri suasananya sejuk dan hijau-hijau seger seperti di dalam hutan. Tiket masuk Kebun Buah Mangunan adalah Rp 5k. Untuk sebuah kawasan wisata yang baru, ini sudah cukup lengkap. Ada landmark (papan nama besar), tempat makan, toilet, parkir, dan banyak tempat duduk untuk wisatawan yang lelah karena di dalam kawasan ini kita seperti trekking. Untuk mendapat spot foto yang bagus, kita harus mencapai tempat yang sesuai dan disitulah usaha kita semakin besar.



Pemandangan dari puncak ini keren banget. Perbukitan membentang seluas memata memandang, dengan kanopi hijau tua yang saling merapat. Sungai Oyo membelah perbukitan dengan warnanya yang coklat, kontras, seakan memberi nadi kehidupan bagi dua ekosistem terestrial dan akuatik yang hidup saling berdampingan. Gw membayangkan khidmatnya tempat ini di kala subuh atau malam, ketika tak banyak interupsi suara manusia. Pasti bakal tenang banget kalo kita mendengarkan suara alam itu sendiri, yang disampaikan melalui banyak cara, contohnya gesekan daun, hembusan angin, dsb.
sebaik-baik pemandangan adalah yang dilihat langsung oleh mata

Kawasan Imogiri ini merupakan kawasan wisata yang terdiri dari beberapa objek wisata, di antaranya ada Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus yang menjadi target kita selanjutnya. Dari Kebun Buah Mangunan, kita naik motor lagi @5 menit dan tibalah di area hutan pinus berstatus lindung dengan tegakan pohon yang i bet it about more than 20 m. Untuk masuk, kita bayar parkir lagi sebesar Rp 3k. Untuk make toilet bayar lagi sayangnya huhu (Rp 2k). Dalam area ini ada tempat parkir, tempat makan, toilet, mushola, dan hutan pinus tentunya. Di dalam area hutan terdapat cukup banyak tempat duduk dari kayu. Gw pribadi merekomendasikan kalian untuk menggunakan kamera yang punya angle luas (fish eye) atau pro kamera sekalipun, karena kalo pake kamera biasa (apalagi kalo skill fotografinya juga biasa, macem gw ini) hasil fotonya akan biasa-biasa aja. Objek pohon pinus ini bagus banget kalo bisa dapet sudut yang pas, sayang kan kalo cuma dapet foto sama batangnya doang.

setinggi langit

Day 2

It seemed like would be rainy all day. Alhamdulillah kemarin kita udah kesampean ke spot hits yang jauh pas cuacanya cerah. Alhasil hari ini kita main ke spot yang cukup dekat dari rumah sodara gw juga, yaitu Pantai Parangtritis dkk. Jalanan menuju pantai parangtritis ini ketje parah. Pohon cemara pantai yang lagi menghijau karena di musim hujan ternyata menghasilkan view artsy kayak di luar negeri, beda banget waktu gw ke sini pas musim kemarau yang mana cuma ada ranting gundul macem di padang pasir. Tempat ini juga jadi spot foto loh, apalagi jalanan aspal ini kalo lagi pagi masih lengang jadi bisa foto-foto sepuasnya. Mau tiduran di tengah jalan juga bisa. Kalo lagi rame, wah jangan harap bisa foto di tengah jalannya deh :’)

yg lebih bagus masih beberapa meter setelah ini

Pertama kita main dulu di Gumuk Pasir Parangkusumo. Parkir as always sebesar Rp 3k. Jadi kalo lewat jalan ini kita bakal melewati gumuk pasir dulu, baru tiba di pantai. Sebenernya gumuk pasir di kawasan Parangtritis ini luas banget, dan salah satunya adalah yang dijadikan objek wisata ini. Inilah yg gw suka dari jalan-jalan ke objek wisata alam, kita bisa menyaksikan kebesaran dari Yang Maha Kuasa melalui proses-proses yang gak bisa dimanipulasi oleh manusia. Contohnya gumuk pasir ini, hanya ada dua yang seperti ini di dunia, yaitu di Meksiko dan Parangtritis. Gumuk pasir Parangkusumo ini merupakan bentuk lahan aeolian (terbentuk dari proses-proses oleh angin). As we know, di selatan Jogja merupakan pantai selatan yang menghadap ke Samudera Hindia, with no barrier at all. Pantai ini juga menjadi muara dari sejumlah sungai besar yang ada di Jogja yang mengangkut sedimen-sedimen dari hulunya (termasuk sedimen dari Gn Merapi). Angin kuat yang berhembus ke arah utara selama jangka waktu yang sangat lama membuat sedimen-sedimen yang berada di pinggiran pantai ini berpindah. Bisa dibilang mereka loncat, menggelinding, atau terbang, mengikuti arah angin tersebut semakin masuk ke daratan. Pergerakan tersebut akhirnya terhenti ketika terdapat barrier (penghalang) berupa pepohonan, perbukitan, dsb yang menyebabkan area sepanjang barrier tersebut hingga ke pantai menjadi area perpindahan material pasir oleh angin. Setelahnya, angin “memahat” tumpukan pasir yang telah terakmulasi tersebut menjadi bentuk-bentuk tertentu. Di Parangkusumo ini, bentuk gumuk pasirnya adalah barchan (sabit) di mana terdapat dua sisi curam yang dipisahkan oleh satu puncak lengkung.

gak keliatan bentuk barchannya

Tempat ini pun menjual spot foto yang dramatis, seakan-akan berada di padang pasir tropis. Terdapat berbagai atribut foto, seperti simbol love raksasa yang dirangkai dari bunga artificial. Yang unik juga ada semacam telaga yang berada di tengah-tengah padang pasir. Entah air apa itu.

Selang beberapa ratus meter dari sini, kami telah tiba di Pantai Parangtritis. Pantai yang sudah sangat terkenal dan sepuh di deretan objek wisata jogja. Bayar lagi parkir Rp 3k (murah meriah yeayy). Pantai dengan gelombang kuat, slope pantai yang landai, tebing yang membingkai di sebelah timur, dan pasir hitam halus mirip seperti di Pantai Depok. Jika kamu mencari pantai yang bagus, meluncurlah lebih jauh yaitu ke daerah Gunung Kidul. Pantai di Bantul cenderung “tidak begitu indah” karena jenisnya merupakan pantai terbuka (menghadap samudera, tanpa barrier) ditambah sedimen vulkanik Gn Merapi yang menjadi materi utama penyusun pasir pantainya sehingga memberi warna yang gelap pada pasir dan pantai.

walking through the sandy beach

Namun hal baiknya adalah Parangtritis memiliki area backshore (area pasir) yang luas untuk beraneka ragam aktivitas seperti olahraga pantai, jelajah pantai dengan delman, dsb. Meskipun ada pos pengamatan penjaga pantai, namun saat itu  gw mendapati gak ada orang yang menjaganya. Sayang banget, padahal Parangtritis tergolong pantai rawan kecelakaan hanyut dan butuh pengawasan dari yang berwenang. Setau gw ada fenomena rip current di pantai ini, yang mana dapat menyebabkan orang terbawa arus ke arah laut dalam radius beberapa meter. Fenomena ini banyak ditemukan kok di pantai-pantai terbuka, dan bukan berkaitan dengan mitos nyai selatan :’)



Yap, jadi ceritanya besok gw n ma fren akan caw dari Bantul menuju Kota Jogja. so.... bersambung di post berikutnya ya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar