Pages

MPKT A

2 April 2014


Ceritanya itu besok UTS MPKTA, tapi karena gak suka materinya jadi males belajar. Mungkin buku yang berjudul “Karakter, Filsafat, Logika, dan Etika” ini sudah membuat gw terlampau jenuh dalam menyerap esensi yang amat sangat tersirat di dalamnya. Hahah apalah ._.  oleh karena udah males baca lagi, maka kali ini saya akan menulisnya dalam bentuk rangkuman semi acak-acakan. Well, sebenernya itulah gaya belajar saya  selama ini. kalo Cuma baca dan ngapalin itu susah buat diingat jangka panjang, jadi harus ditulis dulu O:)

Buat apa sih kita sekolah? Sering banget dulu diri sendiri nanya kaya gitu—ke diri sendiri juga—dan biasanya diri sendiri cuma jawab, ‘biar dapet kerja yang bagus dan jadi orang sukses’. Alhasil sekolah isinya Cuma gitu-gitu aja. Orientasi kita seakan-akan Cuma buat mencetak angka di atas kertas. Yang dimana angka itu nantinya—bisa jadi—merupakan penentu harga diri kita di mata orang lain. Bergaul sih tetep, berorganisasi juga tetep. Tapi yang jadi momok menakutkan bagi gw selama sekolah ya itu, apabila gw ga dapat nilai yang bagus dan dianggap ‘bodoh’. Ya, betapa para siswa di negeri ini kebanyakan masih jadi korban kurikulum. Termasuk gw sendiri. Oke, dan waktu pun pada akhirnya terus bergulir. Gw bukan lagi seorang siswa, tapi udah setingkat lebih atas dari itu. Udah bebas dari belenggu ‘bagus-bagusan nilai’ kah sekarang? Nyatanya belum. Lantas gw kembali ke pertanyaan awal, apa Cuma ini, tujuan kita belajar (read: apa Cuma sebatas ini tujuan pendidikan)?
Setelah gw dapet Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi A (Sosial Humaniora) di kampus, gw menemukan hal yang menarik. Ternyata sudah banyak tokoh yang membahas tentang esensi dari pendidikan. Kita ambil satu contoh, yaitu Ki Hadjar Dewantara. Beliau mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia merdeka. Pada pembahasan awal buku ini juga menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses menjadi dan menentukan diri sebagai pribadi. 

Dari sini sudah dapat ditarik bahwa subjektivitas manusia merupakan target utama dari pendidikan. Dengan pendidikan, diharapkan dapat terbentuk karakter yang kuat pada diri tiap individu, dimana karakter itu menentukan sikap, pola pikir, dan cara dia menjalani hidup dengan kemandiriannya.
Nah, terus persoalannya meluas lagi nih. Lalu, karakter yang kuat itu gimana cara membangunnya? Oke, perlu kalian tahu dulu. Bahwa karakter itu adalah kepribadian yang udah diproses sama diri sendiri sebelum ditampilkan keluar. Kepribadian bukan karakter. Begitupun sebaliknya. Kepribadian itu kaya what u described ur own self, sedangkan karakter itu what people described u. Yah kurang lebihnya gitu. Coba perhatikan diri kalian baik-baik, apa yang menjadikan kalian unik? Ada lagi nih tokoh Peterson dan Seligman yang mengurutkan tahap dalam mencari keutamaan pada diri seseorang. Yang pertama itu Tema Situasional. Bisa dibilang ini adalah pandangan pertama yang dilihat orang lain pada si orang tsb.. atau maksudnya karakter seseorang yang nampak pada situasi tertentu. Contoh : si A terlihat jalan sambil menunduk. Yang kedua itu Kekuatan Karakter. Disini karakter seseorang tsb sudah cukup sering ditampilkan pada beberapa situasi yg berbeda. Contoh : setiap ngobrol dgn orang lain si A lebih banyak nunduk, saat di kelas juga nunduk. Yang terakhir yaitu Keutamaan. Udah terbukti bahwa karakter tsb merupakan keunikan si individu tsb. Contoh : si A emang orang yg sangat pemalu. So.. penting banget buat ngenalin apa keutamaan yang ada pada diri kita, lalu seleksi mana keutamaan yang memberi manfaat pada diri sendiri & orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar