Ceritanya itu besok UTS
MPKTA, tapi karena gak suka materinya jadi males belajar. Mungkin buku yang
berjudul “Karakter, Filsafat, Logika, dan Etika” ini sudah membuat gw terlampau
jenuh dalam menyerap esensi yang amat sangat tersirat di dalamnya. Hahah apalah
._. oleh karena udah males baca lagi,
maka kali ini saya akan menulisnya dalam bentuk rangkuman semi acak-acakan.
Well, sebenernya itulah gaya belajar saya selama ini. kalo Cuma baca dan ngapalin itu
susah buat diingat jangka panjang, jadi harus ditulis dulu O:)
Buat apa sih kita
sekolah? Sering banget dulu diri sendiri nanya kaya gitu—ke diri sendiri
juga—dan biasanya diri sendiri cuma jawab, ‘biar dapet kerja yang bagus dan
jadi orang sukses’. Alhasil sekolah isinya Cuma gitu-gitu aja. Orientasi kita
seakan-akan Cuma buat mencetak angka di atas kertas. Yang dimana angka itu
nantinya—bisa jadi—merupakan penentu harga diri kita di mata orang lain.
Bergaul sih tetep, berorganisasi juga tetep. Tapi yang jadi momok menakutkan
bagi gw selama sekolah ya itu, apabila gw ga dapat nilai yang bagus dan
dianggap ‘bodoh’. Ya, betapa para siswa di negeri ini kebanyakan masih jadi
korban kurikulum. Termasuk gw sendiri. Oke, dan waktu pun pada akhirnya terus
bergulir. Gw bukan lagi seorang siswa, tapi udah setingkat lebih atas dari itu.
Udah bebas dari belenggu ‘bagus-bagusan nilai’ kah sekarang? Nyatanya belum.
Lantas gw kembali ke pertanyaan awal, apa Cuma ini, tujuan kita belajar (read:
apa Cuma sebatas ini tujuan pendidikan)?
Setelah gw dapet Mata
Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi A (Sosial Humaniora) di kampus, gw
menemukan hal yang menarik. Ternyata sudah banyak tokoh yang membahas tentang
esensi dari pendidikan. Kita ambil satu contoh, yaitu Ki Hadjar Dewantara.
Beliau mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia
merdeka. Pada pembahasan awal buku ini juga menyebutkan bahwa pendidikan adalah
proses menjadi dan menentukan diri sebagai pribadi.
Dari sini sudah dapat
ditarik bahwa subjektivitas manusia merupakan target utama dari pendidikan.
Dengan pendidikan, diharapkan dapat terbentuk karakter yang kuat pada diri tiap
individu, dimana karakter itu menentukan sikap, pola pikir, dan cara dia
menjalani hidup dengan kemandiriannya.
Nah, terus persoalannya
meluas lagi nih. Lalu, karakter yang kuat itu gimana cara membangunnya? Oke,
perlu kalian tahu dulu. Bahwa karakter itu adalah kepribadian yang udah
diproses sama diri sendiri sebelum ditampilkan keluar. Kepribadian bukan
karakter. Begitupun sebaliknya. Kepribadian itu kaya what u described ur own self, sedangkan karakter itu what people described u. Yah kurang
lebihnya gitu. Coba perhatikan diri kalian baik-baik, apa yang menjadikan
kalian unik? Ada lagi nih tokoh Peterson dan Seligman yang mengurutkan tahap
dalam mencari keutamaan pada diri seseorang. Yang pertama itu Tema Situasional.
Bisa dibilang ini adalah pandangan pertama yang dilihat orang lain pada si
orang tsb.. atau maksudnya karakter seseorang yang nampak pada situasi
tertentu. Contoh : si A terlihat jalan sambil menunduk. Yang kedua itu Kekuatan
Karakter. Disini karakter seseorang tsb sudah cukup sering ditampilkan pada
beberapa situasi yg berbeda. Contoh : setiap ngobrol dgn orang lain si A lebih
banyak nunduk, saat di kelas juga nunduk. Yang terakhir yaitu Keutamaan. Udah terbukti
bahwa karakter tsb merupakan keunikan si individu tsb. Contoh : si A emang
orang yg sangat pemalu. So.. penting banget buat ngenalin apa keutamaan yang
ada pada diri kita, lalu seleksi mana keutamaan yang memberi manfaat pada diri
sendiri & orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar