Pages

Sawasdee Ka!

18 Februari 2018

Awal tahun 2018 ini menjadi momentum yang sangat spesial bagi gw. Alhamdulillah, gw mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah program internasional dengan tema yang linear dengan minat gw: social service. Siapa sangka, keinginan gw sejak masa kuliah untuk keluar menembus batas negara sendiri ternyata baru terwujud sesaat setelah gw menjadi sarjana. Jadi inget, dulu gw pernah bikin target untuk mengikuti kegiatan di luar negeri minimal sekali sebelum lulus. Eh ternyata gak kesampean, dan Allah udah ngatur ini semua di waktu yang (gw yakini) jauh lebih tepat, yaitu sekarang. Asal mula gimana gw bisa dapetin kesempatan ini lumayan panjang ceritanya. Diawali dari dosen pembimbing gw yang bertemu dengan academic director dari sebuah NGO (non-governmental organization) di Thailand dalam suatu acara. Kebetulan NGO tersebut punya sebuah program english course yang udah berjalan sejak 2 tahun lalu, diadakan setiap tahun. Nah, tahun 2018 ini adalah tahun ketiga untuk program tersebut. Dosen gw ditawarkan untuk memberi rekomendasi satu orang Indonesia untuk mengikuti program tersebut, berhubung sebelumnya belum pernah ada peserta dari Indonesia maka orang ini nantinya berpeluang besar mendapat full scholarship untuk mengikuti program tersebut selama 3 bulan di Thailand. How lucky I was, sang dospem menawarkan kesempatan itu ke gw. Mulai lah gw menjalin komunikasi langsung dengan sang academic director, dan gw menjalani proses seleksi yang terdiri dari pengisian formulir; membuat motivation letter; dan wawancara tatap muka via Skype. Kira-kira 3 bulan melewati tahap tersebut, gw secara resmi dinyatakan sebagai peserta dari program tersebut dan mendapat beasiswa yang mencakup tuition fee and full accomodation selama menjalani program.

Kegiatan yang gw ikuti itu basic nya adalah sebuah english course, namun dikemas dalam bentuk yang sangat aplikatif khusus untuk membentuk jiwa kepemimpinan demi memberdayakan komunitas di lingkungan sosial kita masing-masing. Wedew bahasa gw kayak berat banget yak, tapi sebenarnya ini fun banget kok, dan sangat berfaedah pastinya. Nama resmi dari program ini adalah “School of English for Engaged Social Service”. Tujuan utama dari program ini yaitu supaya semua peserta bisa menguasai bahasa Inggris dan mengaplikasikannya sebagai sarana untuk melakukan kerja sosial. Kegiatan ini diselenggarakan oleh INEB Institute, sebuah NGO yang bergerak di bidang Engaging Buddhism di Thailand. INEB sendiri merupakan sub-organisasi dari sebuah NGO induk yang bernama NSF (lupa kepanjangannya, karena berbahasa Thai).

Mencoba flashback sedikit, sempet ada kekhawatiran sebelum gw meng-iya-kan tawaran ini. Tentunya gw tau kalau sejak beberapa tahun belakangan ini sedang ada ketegangan antara umat Buddhist dan Muslim di Myanmar, meskipun menurut gw kasus ini juga menyangkut persoalan etnis. Myanmar berbatasan secara langsung dengan daratan Thailand, dan penduduk Thailand juga mayoritas merupakan Buddhist. Bisa diliat kan korelasinya? Sang academic director meyakinkan gw kalau komunitas buddhist di Thailand ini adalah komunitas yang sangat terbuka dan toleran. Dia menjamin hal itu. Masih agak ragu, gw pun membuka Google Maps. Ternyata jarak Provinsi Nakhon Nayok (daerah tempat kegiatan yang gw ikuti) dengan Myanmar (terutama Rakhine, daerah konflik) cukup jauh, dengan kata lain insyaAllah gw gak terkena imbas langsung dari konfilk tersebut. Huah, betapa leganya hati ini. Segeralah gw merancang persiapan untuk berangkat ke Thai di awal Januari 2018.

VISA Preparation
Sebagai bocah yang belom pernah ke luar negeri sebelumnya, gw melakukan banyak riset via Google untuk membuat visa yang sesuai dengan perjalanan gw. Karena program ini gak terdaftar secara resmi sebagai kegiatan pendidikan Thai, gw pun berstatus sebagai “turis” (not student or anything else) yang mau tinggal di Thai selama 90 hari. Satu-satunya pilihan visa untuk gw adalah tourist visa. Sayangnya visa ini hanya valid sampe 60 hari, dan gw harus perpanjang untuk 30 hari sisanya di kantor imigrasi di Thai nanti. So, gw mengurus visa tourist ini di Kedubes Thailand untuk Indonesia, yang beralamat di sini. Syarat untuk membuat visa ini bisa dibuka di website Thai Embassy. Pastikan untuk udah melengkapi semua syaratnya sebelum kesini, supaya gak mondar-mandir nantinya. Untuk visa jenis tourist, penting untuk membawa bukti pemesanan tiket pesawat PP, bukti kemampuan finansial dengan print out buku tabungan, dan bukti booking penginapan/ alamat orang lokal yang menjamin akomodasi kamu selama di sana (in this case, bawa juga bukti identitas orang tersebut serta bukti surat akta rumah orang tersebut). untuk bikin visa ini gw dikenakan biaya Rp 560k. kira-kira 3 hari, visa ini pun siap kita ambil. Oh ya, perhatikan juga ya jam untuk pembuatan visa dan pengambilan visa, karena pihak embassy udah mengatur jadwalnya. Untuk perpanjangan izin tinggal di Thai, kita bisa dateng langsung ke kantor imigrasi manapun yang ada di Thai dan membayar 1900 baht untuk perpanjangan tinggal selama 30 hari. 1 baht kalo dirupiahkan kira-kira Rp 450.



Flight

Ada dua bandara di Bangkok, yaitu Suvarnabhumi (BKK) *untuk penerbangan full service* dan Don Mueang (DMK) *untuk penerbangan mid-low cost*. Perjalanan CGK-DMK via direct flight memakan waktu 3 jam lebih, atau hampir 4 jam. Penerbangan internasional lebih ketat, pastikan ga bawa cairan KE ATAS KABIN dengan volume >100 ml di setiap wadahnya. Karena gw lupa akan hal ini, terpaksa saat itu petugas bandara DMK menyita body lotion yang gw beli dari sebuah koperasi masyarakat di Thai T_T

Gw berangkat ke Thai pada tanggal 6 Januari 2018. Kalo sesuai jadwal sih, gw akan stay di sana sampai 5 April 2018. Oh ya, Bangkok punya zona waktu yang sama kayak WIB, jadi gak perlu ubah-ubah jam kalo kamu berasal dari time zone UTC+7 seperti Jakarta dan sekitarnya :D

Setibanya di bandara DMK, kita bisa beli sim card lokal untuk turis (kalo emang butuh cepet) tapi kalo ga butuh sih mending beli di luar bandara aja, misal di 7-eleven. Di bandara ini juga tersedia akses WiFi gratis. Setelah connect ke WiFi bandara, kita akan ter-direct ke sebuah portal untuk meregistrasi identitas kita via nomor paspor. Dan…tara! Nikmatilah internet kencang untuk 2 jam (kalo ga salah) dan hanya untuk sekali pakai. Jadi, kita gak bisa registrasi lagi dengan nomor paspor yang sama di hari itu juga.


Wongsanit Ashram
Selama program ini berlangsung, kami punya sebuah base camp utama yang menjadi “asrama” sehari-hari, meskipun kita gak selalu stay di sana juga sih. Tapi mayoritas waktu kita dihabiskan di tempat ini: Wongsanit Ashram. Tempat ini merupakan sebuah area yang memiliki banyak fasilitas dan kerap disewakan untuk kegiatan-kegiatan pelatihan dan sebagainya. Untuk mencapai Ashram dari Bangkok, butuh waktu sekitar 1,5-2 jam dengan mobil. Ashram ini seperti sebuah desa kecil yang berada di Provinsi Nakhon Nayok, dengan visinya adalah “less consumerism” serta “living in harmony with nature”. Mereka punya ladang sendiri, yang hasilnya mereka masak dan hidangkan untuk makan para tamu. Setiap kegiatan ada bangunannya masing-masing, seperti kamar tidur; kelas; perpustakaan; ruang makan; dll. Mereka juga gak memakai kulkas, AC, dan perangkat “modern” lainnya karena sesuai dengan prinsipnya: less consumerism.

Office building in the Ashram

Prinsip-prinsip ajaran Buddha diaplikasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari di sini. Salah satu contohnya adalah dapur di sini hanya memasak makanan vegetarian, karena salah satu prinsip utama dalam ajaran Buddha adalah “do not kill”. Sejak saat itu pun gw banyak belajar hal baru tentang ajaran Buddha. Dan gw juga baru tau kalau para biksu (monk) punya banyak banget larangan (precepts) yang mereka taati. Rasanya gw gatel banget buat nulisin semua ilmu baru yang gw dapet dari sini! tapi postingan ini khusus buat pengalaman umum dulu aja deh ya. Insya Allah gw akan tulis hal-hal laen di postingan selanjutnya, kalo lagi mood hahah.

Back to the topic about Ashram, tempat ini merupakan kawasan rawa yang dipisahkan oleh sungai besar untuk menuju jalan utama. Jadi, kita harus naik semacam getek yang ditarik dengan katrol secara manual untuk bisa mencapai Ashram dari jalan utama, begitupun sebaliknya. Karena berupa rawa, di dalam kawasan ini juga terdapat banyak danau dan genangan air statis yang memicu suburnya perkembangbiakkan nyamuk. Wah, pokoknya kalau kesini harus selalu sedia mosquito repellent dan balsem pereda gigitan serangga! Meskipun nyamuk-nyamuk itu membuat gw kzl, suasana di sini asri dan menenangkan banget. Berasa hidup di desa, jauh dari keramaian, gak ada masalah, gak mikirin yang aneh-aneh deh wkwk. Kita semua sepakat kalo hidup kita berubah drastis semenjak tinggal di Ashram itu. Bagi masyarakat kota, kita terbiasa untuk bergerak secara cepat dengan jadwal yang padat. Namun begitu menjalani kehidupan di sana, semuanya terasa melambat dan tenang. Kita punya banyak waktu luang untuk berpikir, merenung, meditasi, dan hal-hal lain yang biasanya sulit kita lakukan sehari-hari. Mantap deh :D


"Getek"


The classroom


Friends
Peserta dari kegiatan ini ada 16 orang, yang tersebar dari berbagai negara: Thailand, Myanmar, Laos, India, Korea Selatan, dan Indonesia. Kami di sini berstatus sebagai student, dengan dibantu oleh 2 orang teacher yang berasal dari US, dan 4 orang tutor yang berasal dari Canada, Malaysia dan India. Sebagai satu-satunya orang Indonesia dan satu-satunya muslim di sini, gw termotivasi untuk merepresentasikan komunitas gw sebaik mungkin. Banyak dari mereka yang belum mengenal Indonesia dan Islam secara mendalam, dan gw merasa sangat tertantang untuk mempromosikan budaya Indonesia. Kita sering bertukar cerita dan nilai-nilai yang berasal dari kebudayaan masing-masing. Misalnya, mereka nanya apa tujuan gw make hijab dan kenapa Islam punya larangan ini-itu. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih pas-pasan, gw mencoba menjelaskan sebisa gw. Pun sebaliknya, gw suka bertanya tentang nilai-nilai Buddha yang belum gw tau ke mereka. Saling bertukar cerita dan penjelasan tentang budaya dari berbagai negara&agama membuat gw sangat bersyukur bisa ada di sana. Ditambah lagi, mereka punya sifat yang sangat sangat baik. Mereka selalu menawarkan bantuan dan perhatian, bahkan meskipun komunikasi kami belum begitu lancar karena keterbatasan kosakata yang dikuasai atau dialek yang sangat kental. Kekhawatiran gw akan adanya diskrimasi pun sirna. Mereka semua adalah keluarga yang menjaga gw selama gw berada jauh dari rumah. Apalagi posisi gw adalah sebagai peserta dengan usia termuda, gw bener-bener diperlakukan secara baik layaknya seorang adik :’)


Some of them




Namun kebersamaan kita ternyata hanya bisa sampai minggu ke-5. Dengan berat hati, gw harus mengakhiri program dan pulang ke Indonesia pada tanggal 10 Februari 2018. Alasan kenapa gw pulang akan gw ceritain di post selanjutnya, karena postingan ini udah terlalu panjang~
Read more ...