Pages

Sisa-sisa masa maba

9 April 2014
kebetulan lagi buka-buka dokumen dan nemu artikel ini :D  oke, ini adalah tugas OKK pas jaman-jamannya maba masih bau kencur, yaitu mewawancarai tokoh mahasiswa tentang IKM UI. jadi inget temen-temen satu kelompok OKK yang sekarang udah jarang bgt contact-contacan :' hmm ada Arum dari Biologi, Nanda dari Psikologi, Zulham dari Psikologi, Nisa dari Ilmu Politik, Mujab dari Ilmu Politik, Dimas dari Hukum, Nauval dari Filsafat, dan terakhir Vega dari Ilmu Komputer tapi ga lama setelah itu dia pindah ke FKG UGM. kali ini gw cuma mau share artikelnya aja, cerita tentang OKK insya Allah akan dibahas di lain waktu B)
oh iya.. ini juga cuma bagian yg gw bikin sih, kalo tugas utuhnya ada sama temen gw yg Zulham itu karena bagian dia yg nyatuin dan ngeupload. tapi lumayan kok bisa ngebuka sedikit wawasan tentang IKM UI buat yg mau tau



MENGENAL IKM UI
IKM. Siapa tak tahu kepanjangannya? Bagi Sivitas Akademia UI tentunya tak asing lagi dan bahkan sudah hapal. Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia, kan? Namun, jika ditelaah apakah fungsinya?; bagaimana strukturnya?; apa sih dia sebenarnya? Tak banyak lagi yang tahu. Maka pada suatu kesempatan berharga, kelompok Lentera Perjuangan behasil menimba informasi seputar IKM UI kepada Hendriq Kusfanto yang menjabat sebagai wakil BPM Fakultas Farmasi.

Apakah IKM itu sebuah organisasi?
Bukan. IKM memiliki cakupan yang lebih luas lagi. Ia semacam sebuah negara dimana seluruh mahasiswa UI adalah rakyatnya, dan mewadahi berbagai kegiatan para mahasiswa UI.

Saya dengar ada istilah IKM aktif dan IKM pasif. Apa maksudnya?
Yang benar itu IKM aktif dan IKM biasa. Tidak ada yang pasif. Saat kita menjajaki status sebagai mahasiswa UI, maka otomatis kita sudah menjadi anggota IKM, namun baru berstatus ‘biasa’. Dengan menjalankan rangkaian prosedur seperti rajin mengikuti kegiatan-kegiatan kemahasiswaan dan mendapat rekomendasi dari fakultas, barulah kita masuk ke golongan ‘aktif’, inilah yang dimaksud dengan IKM biasa dan IKM aktif.

Apa ada keuntungan jika berstatus IKM aktif? Sekaligus adakah kerugian jika menjadi IKM biasa?
Dengan status aktif yang kita miliki, kita bisa bergabung dalam organisasi seperti BPM, BEM; kita bisa mengikuti kegiatan UKM yang disuka; dan sebagainya. Perlu diulang lagi bahwa IKM mewadahi segala aktivitas mahasiswa UI sehingga jika kita ingin bergabung ke dalam suatu aktivitas, maka syaratnya adalah dengan memiliki status aktif terlebih dahulu.
Disamping itu keuntungan menjadi aktif, banyak sekali. Tentunya dengan mengikuti berbagai kegiatan kita akan memiliki banyak pengalaman, jangkauan pergaulan yang luas, ‘bisa’ dikenal para dosen, dan sebagainya. Alangkah baiknya kita tidak menjadi mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah-pulang Kuliah-pulang) karena di momen kuliah ini banyak sekali kesempatan untuk menggali hal baru, mendalaminya, dan menjadi ahli didalamnya. Dengan menjadi aktif banyak manfaat yang akan mengantar kita menuju masa depan cerah. Lain halnya jika hanya menjadi ‘penonton’ dan tidak melakukan apa-apa. Jika yang ditanya mengenai kerugian menjadi IKM biasa, ya seperti memutarbalikkan keadaan diatas. Kurang memiliki pengalaman; pergaulan sebatas itu-itu saja, tinggal mencari antonimnya saja.   Untuk kerugian yang bersifat berat seperti terkena hukuman, tidak ada.


actually itu ga cocok dibilang artikel karena terlalu sedikit hehe :P semoga bermanfaat
Read more ...

MPKT A

2 April 2014


Ceritanya itu besok UTS MPKTA, tapi karena gak suka materinya jadi males belajar. Mungkin buku yang berjudul “Karakter, Filsafat, Logika, dan Etika” ini sudah membuat gw terlampau jenuh dalam menyerap esensi yang amat sangat tersirat di dalamnya. Hahah apalah ._.  oleh karena udah males baca lagi, maka kali ini saya akan menulisnya dalam bentuk rangkuman semi acak-acakan. Well, sebenernya itulah gaya belajar saya  selama ini. kalo Cuma baca dan ngapalin itu susah buat diingat jangka panjang, jadi harus ditulis dulu O:)

Buat apa sih kita sekolah? Sering banget dulu diri sendiri nanya kaya gitu—ke diri sendiri juga—dan biasanya diri sendiri cuma jawab, ‘biar dapet kerja yang bagus dan jadi orang sukses’. Alhasil sekolah isinya Cuma gitu-gitu aja. Orientasi kita seakan-akan Cuma buat mencetak angka di atas kertas. Yang dimana angka itu nantinya—bisa jadi—merupakan penentu harga diri kita di mata orang lain. Bergaul sih tetep, berorganisasi juga tetep. Tapi yang jadi momok menakutkan bagi gw selama sekolah ya itu, apabila gw ga dapat nilai yang bagus dan dianggap ‘bodoh’. Ya, betapa para siswa di negeri ini kebanyakan masih jadi korban kurikulum. Termasuk gw sendiri. Oke, dan waktu pun pada akhirnya terus bergulir. Gw bukan lagi seorang siswa, tapi udah setingkat lebih atas dari itu. Udah bebas dari belenggu ‘bagus-bagusan nilai’ kah sekarang? Nyatanya belum. Lantas gw kembali ke pertanyaan awal, apa Cuma ini, tujuan kita belajar (read: apa Cuma sebatas ini tujuan pendidikan)?
Setelah gw dapet Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi A (Sosial Humaniora) di kampus, gw menemukan hal yang menarik. Ternyata sudah banyak tokoh yang membahas tentang esensi dari pendidikan. Kita ambil satu contoh, yaitu Ki Hadjar Dewantara. Beliau mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia merdeka. Pada pembahasan awal buku ini juga menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses menjadi dan menentukan diri sebagai pribadi. 

Dari sini sudah dapat ditarik bahwa subjektivitas manusia merupakan target utama dari pendidikan. Dengan pendidikan, diharapkan dapat terbentuk karakter yang kuat pada diri tiap individu, dimana karakter itu menentukan sikap, pola pikir, dan cara dia menjalani hidup dengan kemandiriannya.
Nah, terus persoalannya meluas lagi nih. Lalu, karakter yang kuat itu gimana cara membangunnya? Oke, perlu kalian tahu dulu. Bahwa karakter itu adalah kepribadian yang udah diproses sama diri sendiri sebelum ditampilkan keluar. Kepribadian bukan karakter. Begitupun sebaliknya. Kepribadian itu kaya what u described ur own self, sedangkan karakter itu what people described u. Yah kurang lebihnya gitu. Coba perhatikan diri kalian baik-baik, apa yang menjadikan kalian unik? Ada lagi nih tokoh Peterson dan Seligman yang mengurutkan tahap dalam mencari keutamaan pada diri seseorang. Yang pertama itu Tema Situasional. Bisa dibilang ini adalah pandangan pertama yang dilihat orang lain pada si orang tsb.. atau maksudnya karakter seseorang yang nampak pada situasi tertentu. Contoh : si A terlihat jalan sambil menunduk. Yang kedua itu Kekuatan Karakter. Disini karakter seseorang tsb sudah cukup sering ditampilkan pada beberapa situasi yg berbeda. Contoh : setiap ngobrol dgn orang lain si A lebih banyak nunduk, saat di kelas juga nunduk. Yang terakhir yaitu Keutamaan. Udah terbukti bahwa karakter tsb merupakan keunikan si individu tsb. Contoh : si A emang orang yg sangat pemalu. So.. penting banget buat ngenalin apa keutamaan yang ada pada diri kita, lalu seleksi mana keutamaan yang memberi manfaat pada diri sendiri & orang lain.

Read more ...

My 4th blog, hello!

2 April 2014
Pertama-tama aku pengen minta maaf buat Blogger karena udah nyampah terlalu banyak di blog-blog sebelumnya ._.v tapi insya Allah ini yang terakhir kok heheheh. kenapa bikin lagi? soalnya akun google di laptop udah kesetel yg ini, terus ribet deh mau masukin akun yg diblog lama lagi. males, ribet. yep, u know that i'm pleghmatic. padahal salah sendiri kenapa bikin email baru mulu -_-

pengen mulai nulis lagi, gara2 pas itu ngepo blog orang, terus seakan dapet ilham gitu buat bikin jejak rekam sendiri. kali ini aku akan ngepost sesuatu yg lebih berguna dibanding blog yg kemaren, malu juga ternyata kalo curhatan gitu dibaca orang. oke, bismillaah.
Read more ...