Masih banyak
target list spot wisata yang harus gw n ma fren rampungkan selama di Jogja, dan
itu mengharuskan kami meninggalkan Bantul di hari ke-3.
Day 3
That was Friday,
20 January, we were heading to Magelang. Yep, our next target was Borobudur
temple. Dari tempat sodara di Parangtritis, gw menaiki bus dari TPR dan turun
di Ring Road Selatan. Tarif bus itu Rp 5k. Di ruas jalan arah barat Ring Road
kami naik lagi bus menuju Terminal Jombor. Awalnya dari Ring Road ini kami
bermaksud mau langsung naik bus ke Magelang, namun tempat menunggu bus yang
kami datangi belum buka sehingga kami gak bisa nanya-nanya perihal bus
tersebut. Beruntung lewat bus yang mau ke Jombor itu, dengan mas supir yang
baik dan kami diberi banyak arahan untuk menuju Borobudur. Dia bilang kalo pagi
(saat itu sekitar jam 07.30) belum banyak bus yang beroperasi sehingga bisa
jadi kami harus nunggu lama lagi. Akhirnya gw naik bus doi menuju terminal
Jombor yang terletak di Kabupaten Sleman (tarif bus Rp 7k). Setibanya di
Jombor, naik lagi ke bus jurusan Jombor-Borobudur. Nah bus ini berhentinya di
Terminal Borobudur yang kira-kira berjarak 500m dari Borobudur, bisa tinggal
jalan kaki. Tarif bus ke Borobudur ini lumayan mahal karena emang cukup jauh,
yaitu Rp 20k.
Setibanya di Terminal Borobudur bakal banyak tukang ojek maupun
becak dan bentor yang menawarkan jasa antarnya. Saat itu gw kira jaraknya cukup
jauh sehingga gw mesen ojek dengan tarif Rp 5k. Tapi ternyata ga sampe 5 menit
gw berada di atas ojek itu alias deket cuyy~ ya gakpapa deh mempersingkat waktu
juga.
Tiket masuk
Borobudur di awal tahun 2017 ini sebesar Rp 30k. Sayangnya saat itu cuaca tidak
cerah, sering turun hujan tiba-tiba lalu berhenti, lalu hujan lagi. Karena gw n
ma fren membawa tas yang cukup berat (iyalah, isinya baju-baju), kami
menitipkan tas kami di loker penitipan yang berada kira-kira berjarak 50m dari
pintu masuk. Oh ya sebelum masuk Borobudur pastikan mengisi perut dulu karena
dilarang makan di dalam area candi ditambah kawasan Borobudur luas banget,
pasti capek untuk bisa menjelajah seisi kawasan tersebut.
![]() | |
|
Candi Borobudur
merupakan candi bercorak Budha yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra (nama
ini familiar banget waktu masih jaman sekolah dulu). Pertama kali candi ini
ditemukan pada masa pemerintahan Sir Thomas Stanford Raffless, dan hingga kini Borobudur
telah mengalami 2 kali pemugaran, yang menyebabkan kondisinya masih terjaga
seperti sekarang J
Gw meninggalkan
Borobudur sekitar jam 14.30 karena menargetkan mendapat penginapan di sekitar
Malioboro sebelum maghrib. Dari Terminal Jombor, kami naik Transjogja dan turun
di Halte Malioboro. Saat masih di Jakarta, gw udah searching mengenai Pondok 71
di daerah Pugeran yang menjadi target gw saat itu. Sayangnya untuk kamar non-AC
tidak bisa dibooking, jadi ya untung-untungan aja saat sampe di sana. Ternyata
dari Malioboro, tempat itu masih jauh banget T_T dan kaki gw udah lelah juga
karena habis menjelajah Borobudur. Alhasil ma fren menyarankan nelpon
penginapan itu dulu untuk nanya kamar yang available, dan katanya masih ada 1
kamar non-AC yang kosong. Kenapa kita ngincar kamar non-AC? Harga non-AC: 70k,
harga pake AC: 100k, lumayan kan hehe. Akhirnya kami memesan gojek menju pondok
tersebut karena takut kamar inceran kami ditikung orang lain. Surprisingly, i
got female driver for the first time :D
setibanya di sana ternyata kamar itu (BENER KAN) udah ditikung orang sehingga tinggal tersisisa kamar AC, apa boleh buat deh daripada kita capek nyari penginapan lain lagi dan belum tentu dapet.
setibanya di sana ternyata kamar itu (BENER KAN) udah ditikung orang sehingga tinggal tersisisa kamar AC, apa boleh buat deh daripada kita capek nyari penginapan lain lagi dan belum tentu dapet.
Penginapan ini
bernama Pondok 71, beralamat di Jl. Pugeran 2 daan ternyata dekat banget dari
gang penginapan ini ada halte Transjogja wkwk, jadi ga perlu jalan dari
Malioboro harusnya L satu kamar berisi satu kasur berukuran 2 orang,
toilet dalam, cermin, lemari, kursi, AC, hanger, dan tersedia air galon untuk
refill di sepanjang koridor kamar. Saran aja sih, sebenernya ga butuh AC di
sini karena kalo malem udaranya cukup sejuk jadi ujung-ujungnya AC nya kita
matiin juga haha. Harga permalam 100 k dan kita harus check out keesokan
harinya maksimal jam 12.00 WIB.
Tertarik? Googling aja buat dapet kontak teleponnya.
Tertarik? Googling aja buat dapet kontak teleponnya.
Setelah istirahat
secukupnya, malam itu kami pergi ke Malioboro. Dari halte Transjogja Pugeran gw
turun di halte X (lupa namanya) dan masih nyambung jalan kaki lagi beberapa
ratus meter melewati dusun wisata gitu, karena kalo mau turun di Halte
Malioboro justru harus ngikutin rute yang perlu muter-muter dulu. Jadi
ceritanya ma fren ini first time ke Jogja dan pengen banget foto di depan papan
Jl. Malioboro, okelah kita sikat. Guess what? Itu adalah pengalaman selfie
paling menegangkan yg pernah gw alami. Gimana nggak? Waktu lo selfie, puluhan
orang berkerumun di depan lu menungu antrian dan melihat setiap gerak-gerik
gaya yang lu lakukan di depan. Hiks.
Sekarang tampilan Malioboro udah meningkat pesat dan menonjolkan area pedestrian sebagai konsep utamanya. Lebar jalan untuk pejalan kaki diperlebar, diberi banyak kursi taman, dan ketika malam banyak lampu kelap-kelip serta lampion yang memberi warna keemasan.
Satu hal yang jadi favorit gw di Malioboro adalah... performance dari musisi jalanan yang memainkan alat musik tradisional dengan improvisasi semi modern! Kelompok musisi itu terdiri dari anak-anak muda yang mampu mengemas instrumen dari alat musik tradisional menjadi musik yang super cool. Banyak wisatawan akan berkerumun ketika mereka memulai penampilannya, ada yg memotret, merekam, yaa salah satunya adalah gw J
![]() |
| That sacred zone |
Sekarang tampilan Malioboro udah meningkat pesat dan menonjolkan area pedestrian sebagai konsep utamanya. Lebar jalan untuk pejalan kaki diperlebar, diberi banyak kursi taman, dan ketika malam banyak lampu kelap-kelip serta lampion yang memberi warna keemasan.
![]() |
| Bagus kan? (backgroundnya) |
Satu hal yang jadi favorit gw di Malioboro adalah... performance dari musisi jalanan yang memainkan alat musik tradisional dengan improvisasi semi modern! Kelompok musisi itu terdiri dari anak-anak muda yang mampu mengemas instrumen dari alat musik tradisional menjadi musik yang super cool. Banyak wisatawan akan berkerumun ketika mereka memulai penampilannya, ada yg memotret, merekam, yaa salah satunya adalah gw J
Bagi kalian yang
mau ngirit, gak disarankan untuk membeli makan di sekitar Malioboro karena
harganya yang... cukup mahal dibanding kalo udah keluar area Malioboro.
Alhamdulillah waktu di Bantul gw dibekali sekantong gorengan (sukun goreng)
oleh my grandma sehingga bisa mengganjal perut dan menekan pengeluaran hehee.
Padahal awalnya gw merasa bekal yg dibawain Mbah gw itu bikin berat, males
bawa, tapi ternyata itu justru jadi penyelamat kami di kondisi yang gak
disangka-sangka :’)
Ketika mau pulang
dari Malioboro, waktu udah menunjukkan jam sekitar 23.00 sehingga udah gak bisa
lagi naik Transjogja. Akhirnya gw n ma fren memutuskan untuk naik becak sampai
ke penginapan. Sekedar pemikiran pribadi, tapi jaman sekarang sepertinya
pemasukan para bapak-bapak penarik becak ini jauh berkurang dari
sebelum-sebelumnya. Gw bilang kayak gini karena mata gw udah jarang melihat
orang yang naik becak, entah orang-orang itu beralih ke mana. Ojek online kah?
Gw percaya kalo setiap orang udah diatur rezekinya oleh Allah, jadi gw gak mau
menyalahkan pihak manapun dalam kasus ini. Tinggal sisanya ada pada pilihan
kita. pilihan buat bapak-bapak itu untuk mengikuti tuntutan zaman, ataukah
pilihan kita para konsumen untuk menggunakan jasa yang mana. Nah, saat memilih
itulah kita perlu kebijakan. Kalo punya rezeki yang cukup, kenapa nggak make
jasa becak yang notabene bisa kita lihat dari wajah bapak-bapak itu yang penuh
pengharapan dapat penumpang. Tak hentinya mereka menawarkan kepada setiap orang
yang lewat, membanting harga supaya ada orang yang mau. Mungkin anak istrinya
menunggu di rumah, sedang ia baru dapat uang tak seberapa. Mungkin hanya becak
itulah pengharapan hidupnya, sebab ia tak punya yang lain. Saat di Malioboro
ini pun gw menjumpai seorang pedagang kaos yang sehari-hari menempuh perjalanan
dari rumahnya di daerah Kulonprogo dengan menggunakan sepeda ontel. Bukankah
itu usaha yang patut gw hargai? Kadang diri ini masih gak bersyukur dengan
menawar harga-harga semiring mungkin, padahal dompet ini masih tak apa
mengeluarkan sedikit lebih. Ya, semoga hal ini menjadi pelajaran gw pribadi ke
depan dan bagi agan-agan reader sekalian.
Day 4
![]() |
| Taman Sari, the water castle |
Berkat arahan dari bapak driver becak semalam, gw n ma fren menemukan rute menuju Taman Sari dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari penginapan. Alhamdulillah cuaca hari ini paling bagus, langit biru dan cerah maksimal. Tapi bikin agak pusing karena jalan kaki haha. So, Taman Sari ini adalah objek heritage tourism yang merupakan peninggalan jaman keraton. Dahulu ini merupakan tempat pemandian keluarga raja, makanya di dalem banyak kolam maupun bilik-bilik. Bahkan ada juga tempat semedi buat raja. Setiap area sebenernya ada nama tersendiri, tapi gw gak inget karena namanya cukup susah dan banyak juga kan.. oh ya untuk masuk ke objek ini dikenakan tarif Rp 6k. Setelah memasuki gerbang kita akan disambut oleh 2 kolam dengan air berwarna hijau, latar backgroundnya bagus kayak di istana. Spot foto yang paling hits di Taman Sari ini adalah semacam space kecil yang dikelilingi undakan tangga, di mana spot itu terkena sinar matahari dari atasnya sehingga memberikan efek lighting yang dramatis. I don’t know what’s name of this spot haha.
![]() |
| Banyak spot menarik buat foto |
Di dalam kawasan Taman Sari ada Kampung Cyber loh. Pernah denger?
Sepulang dari Taman Sari kami melewati komplek permukiman di mana salah satunya kami nemuin rumah produksi bakpia, namanya Bakpia Pendowo. memang belum seterkenal bakpia *5 sih, tapi rasanya gak kalah enak dan yang jelas harganya jauh lebih murah hoho (ini karena kita beli langsung di pabriknya) satu box berisi 16 berharga Rp 14k. Habis beli bakpia ini kami makan siang dan buru-buru ngacir balik ke penginapan karena udah hampir jam 12, kalo lebih dari jam check out nanti dihitung nginap 2 hari.. gak lucu kan.
Pulangnya? Kami naik kereta Bengawan dari St Lempuyangan dari jam 15.30 sampai 23.58 WIB. oh ya kalo kedapetan jam tengah malem kayak gini dan mau nginap di stasiun, turun di St Jatinegara aja ya karena lebih proper buat para musafir yang mau stay sampai pagi. Ada indomaret dan alfa yang buka 24 jam kok.
![]() |
| Keren yah Kampoeng Cyber |
Sepulang dari Taman Sari kami melewati komplek permukiman di mana salah satunya kami nemuin rumah produksi bakpia, namanya Bakpia Pendowo. memang belum seterkenal bakpia *5 sih, tapi rasanya gak kalah enak dan yang jelas harganya jauh lebih murah hoho (ini karena kita beli langsung di pabriknya) satu box berisi 16 berharga Rp 14k. Habis beli bakpia ini kami makan siang dan buru-buru ngacir balik ke penginapan karena udah hampir jam 12, kalo lebih dari jam check out nanti dihitung nginap 2 hari.. gak lucu kan.
Pulangnya? Kami naik kereta Bengawan dari St Lempuyangan dari jam 15.30 sampai 23.58 WIB. oh ya kalo kedapetan jam tengah malem kayak gini dan mau nginap di stasiun, turun di St Jatinegara aja ya karena lebih proper buat para musafir yang mau stay sampai pagi. Ada indomaret dan alfa yang buka 24 jam kok.
![]() |
| Pulaaang~ |
Yap! Itulah
perjalanan gw dan seorang temen dalam membolang-buana
di tanah Yogyakarta. Salah satu pelajaran yg bisa kami ambil dari sini adalah,
nikmati perjalanan lo dengan membuang sejenak hasrat selfie yang lo punya.
Karena kalo lo mentingin foto hits diri lo, perjalanan itu bakal gak make
sense. Foto-fotonya bisa nanti, ketika udah selesai mendapat sense of place
dari tempat yang lo kunjungi.
Salam jalan-jalan!
Salam jalan-jalan!














