Pages

Adventuring Jogja! #2

9 Februari 2017
Masih banyak target list spot wisata yang harus gw n ma fren rampungkan selama di Jogja, dan itu mengharuskan kami meninggalkan Bantul di hari ke-3.

Day 3
That was Friday, 20 January, we were heading to Magelang. Yep, our next target was Borobudur temple. Dari tempat sodara di Parangtritis, gw menaiki bus dari TPR dan turun di Ring Road Selatan. Tarif bus itu Rp 5k. Di ruas jalan arah barat Ring Road kami naik lagi bus menuju Terminal Jombor. Awalnya dari Ring Road ini kami bermaksud mau langsung naik bus ke Magelang, namun tempat menunggu bus yang kami datangi belum buka sehingga kami gak bisa nanya-nanya perihal bus tersebut. Beruntung lewat bus yang mau ke Jombor itu, dengan mas supir yang baik dan kami diberi banyak arahan untuk menuju Borobudur. Dia bilang kalo pagi (saat itu sekitar jam 07.30) belum banyak bus yang beroperasi sehingga bisa jadi kami harus nunggu lama lagi. Akhirnya gw naik bus doi menuju terminal Jombor yang terletak di Kabupaten Sleman (tarif bus Rp 7k). Setibanya di Jombor, naik lagi ke bus jurusan Jombor-Borobudur. Nah bus ini berhentinya di Terminal Borobudur yang kira-kira berjarak 500m dari Borobudur, bisa tinggal jalan kaki. Tarif bus ke Borobudur ini lumayan mahal karena emang cukup jauh, yaitu Rp 20k.

Setibanya di Terminal Borobudur bakal banyak tukang ojek maupun becak dan bentor yang menawarkan jasa antarnya. Saat itu gw kira jaraknya cukup jauh sehingga gw mesen ojek dengan tarif Rp 5k. Tapi ternyata ga sampe 5 menit gw berada di atas ojek itu alias deket cuyy~ ya gakpapa deh mempersingkat waktu juga.


Borobudur dilihat dari sudut 180 derajat

Tiket masuk Borobudur di awal tahun 2017 ini sebesar Rp 30k. Sayangnya saat itu cuaca tidak cerah, sering turun hujan tiba-tiba lalu berhenti, lalu hujan lagi. Karena gw n ma fren membawa tas yang cukup berat (iyalah, isinya baju-baju), kami menitipkan tas kami di loker penitipan yang berada kira-kira berjarak 50m dari pintu masuk. Oh ya sebelum masuk Borobudur pastikan mengisi perut dulu karena dilarang makan di dalam area candi ditambah kawasan Borobudur luas banget, pasti capek untuk bisa menjelajah seisi kawasan tersebut.

Kawasan Arupadhatu merupakan puncak tertinggi dari Borobudur. Dipenuhi dengan stupa-stupa yang di berisi patung Budha

Candi Borobudur merupakan candi bercorak Budha yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra (nama ini familiar banget waktu masih jaman sekolah dulu). Pertama kali candi ini ditemukan pada masa pemerintahan Sir Thomas Stanford Raffless, dan hingga kini Borobudur telah mengalami 2 kali pemugaran, yang menyebabkan kondisinya masih terjaga seperti sekarang J

Gw meninggalkan Borobudur sekitar jam 14.30 karena menargetkan mendapat penginapan di sekitar Malioboro sebelum maghrib. Dari Terminal Jombor, kami naik Transjogja dan turun di Halte Malioboro. Saat masih di Jakarta, gw udah searching mengenai Pondok 71 di daerah Pugeran yang menjadi target gw saat itu. Sayangnya untuk kamar non-AC tidak bisa dibooking, jadi ya untung-untungan aja saat sampe di sana. Ternyata dari Malioboro, tempat itu masih jauh banget T_T dan kaki gw udah lelah juga karena habis menjelajah Borobudur. Alhasil ma fren menyarankan nelpon penginapan itu dulu untuk nanya kamar yang available, dan katanya masih ada 1 kamar non-AC yang kosong. Kenapa kita ngincar kamar non-AC? Harga non-AC: 70k, harga pake AC: 100k, lumayan kan hehe. Akhirnya kami memesan gojek menju pondok tersebut karena takut kamar inceran kami ditikung orang lain. Surprisingly, i got female driver for the first time :D
setibanya di sana ternyata kamar itu (BENER KAN) udah ditikung orang sehingga tinggal tersisisa kamar AC, apa boleh buat deh daripada kita capek nyari penginapan lain lagi dan belum tentu dapet.

Penginapan ini bernama Pondok 71, beralamat di Jl. Pugeran 2 daan ternyata dekat banget dari gang penginapan ini ada halte Transjogja wkwk, jadi ga perlu jalan dari Malioboro harusnya L satu kamar berisi satu kasur berukuran 2 orang, toilet dalam, cermin, lemari, kursi, AC, hanger, dan tersedia air galon untuk refill di sepanjang koridor kamar. Saran aja sih, sebenernya ga butuh AC di sini karena kalo malem udaranya cukup sejuk jadi ujung-ujungnya AC nya kita matiin juga haha. Harga permalam 100 k dan kita harus check out keesokan harinya maksimal jam 12.00 WIB.
Tertarik? Googling aja buat dapet kontak teleponnya.

Setelah istirahat secukupnya, malam itu kami pergi ke Malioboro. Dari halte Transjogja Pugeran gw turun di halte X (lupa namanya) dan masih nyambung jalan kaki lagi beberapa ratus meter melewati dusun wisata gitu, karena kalo mau turun di Halte Malioboro justru harus ngikutin rute yang perlu muter-muter dulu. Jadi ceritanya ma fren ini first time ke Jogja dan pengen banget foto di depan papan Jl. Malioboro, okelah kita sikat. Guess what? Itu adalah pengalaman selfie paling menegangkan yg pernah gw alami. Gimana nggak? Waktu lo selfie, puluhan orang berkerumun di depan lu menungu antrian dan melihat setiap gerak-gerik gaya yang lu lakukan di depan. Hiks.
That sacred zone

Sekarang tampilan Malioboro udah meningkat pesat dan menonjolkan area pedestrian sebagai konsep utamanya. Lebar jalan untuk pejalan kaki diperlebar, diberi banyak kursi taman, dan ketika malam banyak lampu kelap-kelip serta lampion yang memberi warna keemasan.


Bagus kan? (backgroundnya)

Satu hal yang jadi favorit gw di Malioboro adalah... performance dari musisi jalanan yang memainkan alat musik tradisional dengan improvisasi semi modern! Kelompok musisi itu terdiri dari anak-anak muda yang mampu mengemas instrumen dari alat musik tradisional menjadi musik yang super cool. Banyak wisatawan akan berkerumun ketika mereka memulai penampilannya, ada yg memotret, merekam, yaa salah satunya adalah gw J
Salah satu kelompok musisi jalanan keren yang ada di Malioboro

Bagi kalian yang mau ngirit, gak disarankan untuk membeli makan di sekitar Malioboro karena harganya yang... cukup mahal dibanding kalo udah keluar area Malioboro. Alhamdulillah waktu di Bantul gw dibekali sekantong gorengan (sukun goreng) oleh my grandma sehingga bisa mengganjal perut dan menekan pengeluaran hehee. Padahal awalnya gw merasa bekal yg dibawain Mbah gw itu bikin berat, males bawa, tapi ternyata itu justru jadi penyelamat kami di kondisi yang gak disangka-sangka :’)

Ketika mau pulang dari Malioboro, waktu udah menunjukkan jam sekitar 23.00 sehingga udah gak bisa lagi naik Transjogja. Akhirnya gw n ma fren memutuskan untuk naik becak sampai ke penginapan. Sekedar pemikiran pribadi, tapi jaman sekarang sepertinya pemasukan para bapak-bapak penarik becak ini jauh berkurang dari sebelum-sebelumnya. Gw bilang kayak gini karena mata gw udah jarang melihat orang yang naik becak, entah orang-orang itu beralih ke mana. Ojek online kah? Gw percaya kalo setiap orang udah diatur rezekinya oleh Allah, jadi gw gak mau menyalahkan pihak manapun dalam kasus ini. Tinggal sisanya ada pada pilihan kita. pilihan buat bapak-bapak itu untuk mengikuti tuntutan zaman, ataukah pilihan kita para konsumen untuk menggunakan jasa yang mana. Nah, saat memilih itulah kita perlu kebijakan. Kalo punya rezeki yang cukup, kenapa nggak make jasa becak yang notabene bisa kita lihat dari wajah bapak-bapak itu yang penuh pengharapan dapat penumpang. Tak hentinya mereka menawarkan kepada setiap orang yang lewat, membanting harga supaya ada orang yang mau. Mungkin anak istrinya menunggu di rumah, sedang ia baru dapat uang tak seberapa. Mungkin hanya becak itulah pengharapan hidupnya, sebab ia tak punya yang lain. Saat di Malioboro ini pun gw menjumpai seorang pedagang kaos yang sehari-hari menempuh perjalanan dari rumahnya di daerah Kulonprogo dengan menggunakan sepeda ontel. Bukankah itu usaha yang patut gw hargai? Kadang diri ini masih gak bersyukur dengan menawar harga-harga semiring mungkin, padahal dompet ini masih tak apa mengeluarkan sedikit lebih. Ya, semoga hal ini menjadi pelajaran gw pribadi ke depan dan bagi agan-agan reader sekalian.


Day 4


Taman Sari, the water castle

Berkat arahan dari bapak driver becak semalam, gw n ma fren menemukan rute menuju Taman Sari dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari penginapan. Alhamdulillah cuaca hari ini paling bagus, langit biru dan cerah maksimal. Tapi bikin agak pusing karena jalan kaki haha.  So, Taman Sari ini adalah objek heritage tourism yang merupakan peninggalan jaman keraton. Dahulu ini merupakan tempat pemandian keluarga raja, makanya di dalem banyak kolam maupun bilik-bilik. Bahkan ada juga tempat semedi buat raja. Setiap area sebenernya ada nama tersendiri, tapi gw gak inget karena namanya cukup susah dan banyak juga kan.. oh ya untuk masuk ke objek ini dikenakan tarif Rp 6k. Setelah memasuki gerbang kita akan disambut oleh 2 kolam dengan air berwarna hijau, latar backgroundnya bagus kayak di istana. Spot foto yang paling hits di Taman Sari ini adalah semacam space kecil yang dikelilingi undakan tangga, di mana spot itu terkena sinar matahari dari atasnya sehingga memberikan efek lighting yang dramatis. I don’t know what’s name of this spot haha.


Banyak spot menarik buat foto

Di dalam kawasan Taman Sari ada Kampung Cyber loh. Pernah denger?


Keren yah Kampoeng Cyber

Sepulang dari Taman Sari kami melewati komplek permukiman di mana salah satunya kami nemuin rumah produksi bakpia, namanya Bakpia Pendowo. memang belum seterkenal bakpia *5 sih, tapi rasanya gak kalah enak dan yang jelas harganya jauh lebih murah hoho (ini karena kita beli langsung di pabriknya) satu box berisi 16 berharga Rp 14k. Habis beli bakpia ini kami makan siang dan buru-buru ngacir balik ke penginapan karena udah hampir jam 12, kalo lebih dari jam check out nanti dihitung nginap 2 hari.. gak lucu kan.
Pulangnya? Kami naik kereta Bengawan dari St Lempuyangan dari jam 15.30 sampai 23.58 WIB. oh ya kalo kedapetan jam tengah malem kayak gini dan mau nginap di stasiun, turun di St Jatinegara aja ya karena lebih proper buat para musafir yang mau stay sampai pagi. Ada indomaret dan alfa yang buka 24 jam kok.


Pulaaang~

Yap! Itulah perjalanan gw dan seorang temen dalam membolang-buana di tanah Yogyakarta. Salah satu pelajaran yg bisa kami ambil dari sini adalah, nikmati perjalanan lo dengan membuang sejenak hasrat selfie yang lo punya. Karena kalo lo mentingin foto hits diri lo, perjalanan itu bakal gak make sense. Foto-fotonya bisa nanti, ketika udah selesai mendapat sense of place dari tempat yang lo kunjungi.
Salam jalan-jalan!
Read more ...

Adventuring Jogja! #1

5 Februari 2017
Ini adalah catatan perjalanan gw dan seorang temen yang berencana menaklukan tempat-tempat hits di Jogja dengan bermodal dengkul (memaksimalkan apapun yg gretong), namun ternyata tidak semudah waktu searching di internet. Nginep di masjid, angkringan, sempat terlintas di benak kami untuk menekan pengeluaran, but.. my mom told me that it wasn’t proper for girls. Finally we blacklisted that option haha.

Perjalanan gw dimulai dari Stasiun Pondok Cina menuju Stasiun Pasar Senen pada tanggal 17 Januari 2017. Naik commuter line dari Pocin ke Ps Senen ada beberapa pilihan, tapi gw milih rute yang lumayan lebih cepet tapi harus transit dua kali, yaitu di Manggarai (naik lagi ke arah Jatinegara) dan dari Jatinegara naik lagi yang ke arah Bogor, nanti turun di Ps Senen. Kereta yang gw naiki adalah Bengawan dengan departure time 11.30 WIB (harga tiket: Rp 74k). saat itu ada yg bikin gw kaget, yaitu adanya “pramugari” di St Pasar Senen yang menyambut penumpang yang akan naik. Apakah itu baru atau sudah lama, yang jelas gw baru liat dan sebuah kemajuan dari KAI sih menurut gw. Kami tiba di St Lempuyangan pukul 20.00 WIB dan mencari taksi menuju Kabupaten Bantul. Jadi, berhubung gw punya saudara di Bantul dan ortu gw pun lagi di sana, alhasil gw dan ma friend bakal nginep di sana selama 3 malem (Alhamdulillah bisa ngirit T.T). rumah saudara gw berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul sehingga yaa lumayan jauh lah dari Kota Jogja sekitar 1 jam perjalanan dengan taksi. Fyi ya, begitu keluar dari Lempuyangan bakal ada banyak supir taksi atau mobil plat hitam yang menawarkan jasanya, tapi kita gak langsung memesan di situ. Kami makan dulu di jejeran warung makan di depan stasiun, barulah kami menghampiri kerumunan supir taksi yg lagi berbincang ria. We were so lucky that time, coz the driver’s home was in same area as our destination. Jadi kami kena ongkos lebih murah yaitu 100k (biasanya bokap gw kena 150k).


"To walk in nature is to witness a thousand miracles" -Mary Davis


Day 1

Cuaca di Bantul sedang tidak menentu, namun kata ibu gw lebih sering hujan dari kemarin. Gw and ma fren pun meluncur ke spot terdekat dari rumah saudara gw, yaitu Pantai Depok. Apa? Jadi di Jogja juga ada Depok? Yep, gw juga bingung dengan toponimi daerah-daerah di Indonesia yang punya banyak kembaran. Untuk mencapai Pantai Depok kami menaiki motor dengan waktu tempuh hanya @5 menit. Pantai ini punya karakteristik gelombang yang kuat dan bergulung-gulung. Material pasirnya berwarna hitam, sepertinya dipengaruhi oleh batuan vulkanik dari Gn Merapi. Karena pasirnya hitam, air pantainya pun cukup keruh. Pantai ini kurang terkenal dengan atraksi keindahan alamnya, namun lebih dikenal akan kuliner lautnya karena di pantai ini banyak nelayan yang melaut mencari ikan dan langsung diolah di tempat makan yang banyak berdiri di kawasan pantai ini. Emak gw bahkan selalu mempromosikan ikan bawal bakar Pantai Depok kalo doi habis pulkam ckck. Untuk masuk ke pantai ini hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp 3k. Satu hal yang selalu jadi permasalahan dan sangat disayangkan dari kawasan wisata pantai adalah banyaknya sampah di atas pasir. Sampah dari laut diperparah oleh wisatawan atau mungkin juga warga lokal (?) yang masih luput akan sampahnya sendiri. So please, people. Watch your waste. Kan jadi ga ada indah-indahnya pantai kalo tiap jengkal mata memandang ketemu sampah melulu L

karena kepagian, pengunjungnya cuma kita

Seiring matahari mulai meninggi, ternyata hari ini cukup cerah tjoy! Gw n ma fren gak menyia-nyiakan waktu ini untuk pergi ke spot idaman utama kita yaitu Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus yang berlokasi di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul. Namun, alamat yang lebih sering digunakan adalah Imogiri, sehingga kita dapat mengikuti arah menuju kawasan Imogiri. Kedua objek wisata ini terbilang baru dan hits sebagai spot foto yang kece gile. Kami pun menerjang jalan yang begelombang menuju Mangunan dengan si motor bebek sewaan (fyi, nyewa motor di sini Rp 25k/hari), dengan modal peta handmade yang dibuat oleh kakak sepupu gw. Namun nyatanya kami masih butuh bertanya kepada warga sekitar karena jalannya cukup jauh dan membingungkan. Perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan dari rumah sodara gw (Parangtritis) sekitar 1 jam. Jalan yang kami lewati saat berangkat bener-bener keren! Backgroundnya berupa gugusan bukit hijau dengan langit biru bersih, ditambah jalanan aspal yang mulus lebar dan lengang (namun bergelombang dan banyak tikungan tajam). Begitu sampai di kawasan Imogiri suasananya sejuk dan hijau-hijau seger seperti di dalam hutan. Tiket masuk Kebun Buah Mangunan adalah Rp 5k. Untuk sebuah kawasan wisata yang baru, ini sudah cukup lengkap. Ada landmark (papan nama besar), tempat makan, toilet, parkir, dan banyak tempat duduk untuk wisatawan yang lelah karena di dalam kawasan ini kita seperti trekking. Untuk mendapat spot foto yang bagus, kita harus mencapai tempat yang sesuai dan disitulah usaha kita semakin besar.



Pemandangan dari puncak ini keren banget. Perbukitan membentang seluas memata memandang, dengan kanopi hijau tua yang saling merapat. Sungai Oyo membelah perbukitan dengan warnanya yang coklat, kontras, seakan memberi nadi kehidupan bagi dua ekosistem terestrial dan akuatik yang hidup saling berdampingan. Gw membayangkan khidmatnya tempat ini di kala subuh atau malam, ketika tak banyak interupsi suara manusia. Pasti bakal tenang banget kalo kita mendengarkan suara alam itu sendiri, yang disampaikan melalui banyak cara, contohnya gesekan daun, hembusan angin, dsb.
sebaik-baik pemandangan adalah yang dilihat langsung oleh mata

Kawasan Imogiri ini merupakan kawasan wisata yang terdiri dari beberapa objek wisata, di antaranya ada Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus yang menjadi target kita selanjutnya. Dari Kebun Buah Mangunan, kita naik motor lagi @5 menit dan tibalah di area hutan pinus berstatus lindung dengan tegakan pohon yang i bet it about more than 20 m. Untuk masuk, kita bayar parkir lagi sebesar Rp 3k. Untuk make toilet bayar lagi sayangnya huhu (Rp 2k). Dalam area ini ada tempat parkir, tempat makan, toilet, mushola, dan hutan pinus tentunya. Di dalam area hutan terdapat cukup banyak tempat duduk dari kayu. Gw pribadi merekomendasikan kalian untuk menggunakan kamera yang punya angle luas (fish eye) atau pro kamera sekalipun, karena kalo pake kamera biasa (apalagi kalo skill fotografinya juga biasa, macem gw ini) hasil fotonya akan biasa-biasa aja. Objek pohon pinus ini bagus banget kalo bisa dapet sudut yang pas, sayang kan kalo cuma dapet foto sama batangnya doang.

setinggi langit

Day 2

It seemed like would be rainy all day. Alhamdulillah kemarin kita udah kesampean ke spot hits yang jauh pas cuacanya cerah. Alhasil hari ini kita main ke spot yang cukup dekat dari rumah sodara gw juga, yaitu Pantai Parangtritis dkk. Jalanan menuju pantai parangtritis ini ketje parah. Pohon cemara pantai yang lagi menghijau karena di musim hujan ternyata menghasilkan view artsy kayak di luar negeri, beda banget waktu gw ke sini pas musim kemarau yang mana cuma ada ranting gundul macem di padang pasir. Tempat ini juga jadi spot foto loh, apalagi jalanan aspal ini kalo lagi pagi masih lengang jadi bisa foto-foto sepuasnya. Mau tiduran di tengah jalan juga bisa. Kalo lagi rame, wah jangan harap bisa foto di tengah jalannya deh :’)

yg lebih bagus masih beberapa meter setelah ini

Pertama kita main dulu di Gumuk Pasir Parangkusumo. Parkir as always sebesar Rp 3k. Jadi kalo lewat jalan ini kita bakal melewati gumuk pasir dulu, baru tiba di pantai. Sebenernya gumuk pasir di kawasan Parangtritis ini luas banget, dan salah satunya adalah yang dijadikan objek wisata ini. Inilah yg gw suka dari jalan-jalan ke objek wisata alam, kita bisa menyaksikan kebesaran dari Yang Maha Kuasa melalui proses-proses yang gak bisa dimanipulasi oleh manusia. Contohnya gumuk pasir ini, hanya ada dua yang seperti ini di dunia, yaitu di Meksiko dan Parangtritis. Gumuk pasir Parangkusumo ini merupakan bentuk lahan aeolian (terbentuk dari proses-proses oleh angin). As we know, di selatan Jogja merupakan pantai selatan yang menghadap ke Samudera Hindia, with no barrier at all. Pantai ini juga menjadi muara dari sejumlah sungai besar yang ada di Jogja yang mengangkut sedimen-sedimen dari hulunya (termasuk sedimen dari Gn Merapi). Angin kuat yang berhembus ke arah utara selama jangka waktu yang sangat lama membuat sedimen-sedimen yang berada di pinggiran pantai ini berpindah. Bisa dibilang mereka loncat, menggelinding, atau terbang, mengikuti arah angin tersebut semakin masuk ke daratan. Pergerakan tersebut akhirnya terhenti ketika terdapat barrier (penghalang) berupa pepohonan, perbukitan, dsb yang menyebabkan area sepanjang barrier tersebut hingga ke pantai menjadi area perpindahan material pasir oleh angin. Setelahnya, angin “memahat” tumpukan pasir yang telah terakmulasi tersebut menjadi bentuk-bentuk tertentu. Di Parangkusumo ini, bentuk gumuk pasirnya adalah barchan (sabit) di mana terdapat dua sisi curam yang dipisahkan oleh satu puncak lengkung.

gak keliatan bentuk barchannya

Tempat ini pun menjual spot foto yang dramatis, seakan-akan berada di padang pasir tropis. Terdapat berbagai atribut foto, seperti simbol love raksasa yang dirangkai dari bunga artificial. Yang unik juga ada semacam telaga yang berada di tengah-tengah padang pasir. Entah air apa itu.

Selang beberapa ratus meter dari sini, kami telah tiba di Pantai Parangtritis. Pantai yang sudah sangat terkenal dan sepuh di deretan objek wisata jogja. Bayar lagi parkir Rp 3k (murah meriah yeayy). Pantai dengan gelombang kuat, slope pantai yang landai, tebing yang membingkai di sebelah timur, dan pasir hitam halus mirip seperti di Pantai Depok. Jika kamu mencari pantai yang bagus, meluncurlah lebih jauh yaitu ke daerah Gunung Kidul. Pantai di Bantul cenderung “tidak begitu indah” karena jenisnya merupakan pantai terbuka (menghadap samudera, tanpa barrier) ditambah sedimen vulkanik Gn Merapi yang menjadi materi utama penyusun pasir pantainya sehingga memberi warna yang gelap pada pasir dan pantai.

walking through the sandy beach

Namun hal baiknya adalah Parangtritis memiliki area backshore (area pasir) yang luas untuk beraneka ragam aktivitas seperti olahraga pantai, jelajah pantai dengan delman, dsb. Meskipun ada pos pengamatan penjaga pantai, namun saat itu  gw mendapati gak ada orang yang menjaganya. Sayang banget, padahal Parangtritis tergolong pantai rawan kecelakaan hanyut dan butuh pengawasan dari yang berwenang. Setau gw ada fenomena rip current di pantai ini, yang mana dapat menyebabkan orang terbawa arus ke arah laut dalam radius beberapa meter. Fenomena ini banyak ditemukan kok di pantai-pantai terbuka, dan bukan berkaitan dengan mitos nyai selatan :’)



Yap, jadi ceritanya besok gw n ma fren akan caw dari Bantul menuju Kota Jogja. so.... bersambung di post berikutnya ya :D
Read more ...