Tulisan ini asli
late post banget. Gw udah nulis dari taun lalu tapi belum kelar sepenuhnya, dan
barulah gw rampungkan sekarang alih-alih ngisi waktu luang menunggu panggilan
kerja. So, kali ini gw akan bercerita tentang perjalanan menyambangi dua daerah
“Wono” yang terjadi saat gw masih berstatus mahasiswi bahagia nan mempesona
*prett*.
Let’s cekidot~
Bagi mahasiswa
Geografi, jalan-jalan adalah kebutuhan semi primer. Bukan sekadar untuk have
fun, tapi juga untuk melatih insting sebagai seorang geographer *tsah*.
Perjalanan ini dilakukan pada pertengahan Agustus 2016 (liburan semester genap)
bersama temen-temen gw. Kami menyambangi dua kabupaten di Jawa Tengah yang
memiliki awalan kata serupa, yaitu Wonogiri dan Wonosobo. fyi, kata wono
memiliki makna hutan dalam bahasa Jawa. Meskipun sama-sama berhutan, tapi
karakteristik hutan yang mereka miliki berbeda. Biar lebih enak ceritanya, gw
bakal pecah tulisan ini jadi dua sub-judul.
Wonogiri
| Lokasi Wonogiri terhadap Jawa |
Perjalanan ke
Wonogiri ini pada dasarnya dilakukan dalam rangka menjalankan penelitian
“ala-ala” dari organisasi di kampus kami. Sebut saja organisasi itu bernama
Kelompok Studi Geografi UI atau disingkat KSG UI. Penelitian itu berjudul
Potensi Ekowisata pada Wilayah Karst Gunungsewu di Kabupaten Wonogiri.
Karst? what the he** is that?
Karst adalah
bentukan muka bumi yang terbentuk dari pelarutan batu gamping atau batuan
lainnya yang mengandung CaCO3. Gampangnya sih, ketika kita liat
tanah kapur atau batuan kapur, maka wilayah itu bisa jadi merupakan bentukan
karst. Bisa jadi lho ya.. karena karst butuh proses yang lama untuk terbentuk,
jadi nggak semua wilayah dengan batuan gamping atau kapur bisa dibilang wilayah
karst. Bentukan karst contohnya adalah gua (termasuk interiornya), bukit karst,
menara karst, dolina, uvala, dsb.
Nah, Wonogiri
ini termasuk dalam wilayah karst terbesar di Pulau Jawa, yang dinamakan wilayah
karst Gunungsewu. Karst Gunungsewu merupakan bentangalam karst yang memanjang di
sebelah selatan Jawa dan meliputi 3 kabupaten, yaitu: Gunungkidul (Provinsi
DIY), Wonogiri (Provinsi Jateng), dan Pacitan (Provinsi Jatim). Gunungsewu ini
keren banget guys kalo dilihat lewat foto udara. Tapi jangan salah ya.. Gunungsewu
ini bukan nama gunung, melainkan sebutan untuk wilayah karst yang dicirikan
dengan banyaknya gugusan bukit karst di wilayah tersebut, makanya seakan-akan
kayak ada “seribu gunung” (sewu=gunung).
Melihat dari
keunikan bentangalam karst itulah, anak-anak dari organisasi gw memutuskan buat
ngadain penelitian di daerah karst. Berhubung ketua dari organisasi kami saat
itu punya sanak sodara di Wonogiri, maka jadilah kita spesifikan wilayah
penelitian kita di Wonogiri aja. Poin plusnya juga kita dapet supporting system
berupa tempat menginap dan lebih gampang juga buat berinteraksi dengan
masyarakat di sana.
Untuk mencapai
Wonogiri, kita naik kereta dan turun di Stasiun Purwosari yang berada di
Surakarta. Dari sana, kita lanjut naik bus ke Wonogiri. Perjalanan naik bus di
Wonogiri ini mantap banget. Jalurnya naik turun kayak di puncak, mana abangnya
ngebut pula. Rasa ngantuk gw gak bisa tersalurkan karena badan gw sering
terpental mengikuti alur jalan.
Survei lapang!
Hari berikutnya,
survei lapang pun dimulai. Ini nih kesukaan gw. kita dibagi perkelompok
berdasarkan geomer (wilayah penelitian) yang berbeda-beda. Waktu itu gw ber-7 dengan temen-temen gw, mendapat geomer di Kecamatan Pracimantoro, tepatnya
kebagian 3 desa, yaitu: Desa Glinggang, Desa Wonodadi dan Desa Tubokarto.
Tujuan kita adalah mencari obyek fisik karst baik yang udah dikembangkan
menjadi objek wisata maupun yang belum (atau memang tidak), dan juga mewawancarai
masyarakat setempat untuk melengkapi variabel sosial-budaya.
Sepanjang survei
berjalan, kita menemukan obyek fisik karst berupa gua, mata air, dan dolina (secara
lokal disebut dengan luweng). Meskipun kita menemui sejumlah gua, baru satu gua
yang sudah dikembangkan menjadi objek wisata. Namanya gua Kencono Putri yang
berada di Desa Wonodadi.
Sebelumnya mohon maap ya karena ada insiden hape ilang, foto-foto yang gw simpen selama penelitian jadi hilang semua :( ini sisa yang ada di kamera action dan hasil snapshot-an video
![]() |
| Di depan gua nemu ini |
![]() |
| Interior Gua Kencono Putri, ada banyak stalaktit dan stalagmit |
Sayangnya, objek wisata ini pun udah menurun
eksistensinya dan mulai kehabisan pengunjung. Padahal gua ini punya endokarst
yang lengkap dan fasilitas pendukung yang cukup memadai seperti toilet dan
akses yang dekat dengan jalan raya. Sebagaimana kepercayaan orang Indonesia pada
umumnya, sebagian dari mereka masih menganggap gua sebagai tempat yang keramat.
Banyak yang mendatangi gua untuk menyampaikan hajat, meminta kesuksesan, dll.
Pun juga di gua Kencono Putri ini. Di dalem gua ini kami menemukan beberapa
titik yang diberikan sesajen. Selain itu, di luar gua juga ada larangan bagi
perempuan haid untuk memasuki gua. Hm, apa ya alasannya?
![]() |
| Warning sign di depan pintu masuk gua |
Selama survei,
kami banyak bertanya pada warga mengenai keberadaan obyek karst di sekitar
tempat tinggal mereka. Kami juga mendatangi kantor kelurahan setempat untuk
tanya-tanya dengan aparatur desa. Di sini gw terharu banget karena di salah
satu kantor kelurahan, kami dibeliin nasi bungkus buat makan siang. Dijamu
selayaknya tamu banget deh. Mereka juga nganterin kita ke tempat sebuah luweng
yang letaknya lumayan terpencil di dalem hutan. Bahkan mereka juga minjemin
motor buat kita pake ke salah satu gua. Tapi karena motornya kurang, mereka
minta anak-anak yang lagi pada maen di kelurahan buat nganterin kita pake motor
mereka. Pengalaman gak terlupakan deh pokoknya!
Luweng
![]() |
| Susah banget buat ngambil gambar ini karena luwengya terletak di tengah-tengah hutan |
Nah, gw sebenernya
ga bisa mastiin apakah ini dolina ataukah gua vertikal. Yang jelas, lubang ini
dalem banget dan ada air di bawahnya. Masyarakat setempat cerita kalo di daerah
ini ada harimau jadi-jadian yang kadang menampakkan diri, dan luweng itu adalah
rumah harimau tersebut. Menarik kan?
Pantai
![]() |
| KSG UI's birthday celebration at Pantai Nampu |
Setelah selesai
dengan kegiatan survei, kita semua caw ke Pantai Nampu buat ngerayain ulang
taun organisasi kita tertjintah. Aksesnya harus pake kendaraan pribadi. Jalannya
bergelombang, berliku dan rada sempit semakin mendekati pantai. Pantainya
bagus, tipikal pantai terbuka yang dihiasi dengan karang landai di area
shoreline. Ada gugusan bukit juga di sebelah timurnya.
Museum Karst
Objek wisata
ketjeh terbaru abad ini: Museum Karst Indonesia!
![]() |
| Gak ada foto tersisa dari tempat ini, so gw comot gambar dari solopos.com |
Kawasan karst
Gunungsewu ini merupakan kawasan geopark yang udah diakui secara internasional,
maka penting buat kawasan ini untuk punya fasilitas penunjang yang mumpuni.
Museum karst ini berada di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri.
Didesain secara apik, pengunjung bisa memuaskan dahaga mereka tentang seluk
beluk karst. Kita bisa melihat replika, peraga, gambar, diorama, dan menikmati
pemutaran film pendek tentang kawasan karst Gunungsewu. Ini semua bisa kita
nikmati secara GRATIS! Menurut gw, Museum Karst Indonesia adalah museum terbaik
yang pernah gw kunjungi sampai saat ini. Worth to try!
Petualangan gw
di Wonogiri ditutup dengan kesan yang sangat baik karena masyarakat di sana
sangat ramah. Kalo mau ke kamar mandi, tinggal dateng ke rumah siapapun dan
sang pemilik rumah akan sangat welcome. Pada malam terakhir, kita melakukan
sosialisasi kecil-kecilan yang dirangkap dengan pesta tujuh belasan masyarakat,
lalu dipererat dengan acara makan bersama. Sungguh, kehangatan masyarakat yang
kayak gini ternyata masih nyata adanya *terharu*.
Selesai kegiatan
di Wonogiri, gw dengan 5 orang temen memang udah berencana untuk mampir ke
rumah salah satu dari mereka yang orang asli Wonosobo. Jadilah kami berenam,
sekelompok wanita berhati sutra, bermental baja, berstamina kuda; bertekad
menjelajahi Wonosobo sampai dengkul tak sanggup lagi. Yuhuuuuu.
Wonoso-wow!
Target utama
kami ke Wonosobo ini adalah buat menjejakkan kaki di puncak Gunung Prau. Ya,
gunung yang menjanjikan panorama langit dan lautan awan di depan mata ini harus
kami tapaki. Bagi gw pribadi, ini adalah pertama kalinya mendaki gunung sampe
puncak. Meskipun dulu waktu masih maba ada beberapa kegiatan ekskursi ke
kawasan Gunung Salak, tapi kita cuma mendaki sampe lereng gunung. Sampe lereng
aja itu rasanya capek banget. Ya, buat ukuran pemula itu udah jadi gambaran
seberapa besar usaha yang harus dilakukan buat sampai ke puncak. Pasti
berkali-kali lipat lebih capek dari itu. Beberapa tips yang bisa gw kasih
sebelum memulai kegiatan berat (in this case, mountaineering) adalah :
- Jogging! Perbanyak olahraga sebelum memulai perjalanan berat. Biarkan otot dan tubuh kita terbiasa dengan kerja keras sehinggga nanti gak “kaget”. Nah, cara yang paling enak itu adalah jogging, baik itu pagi hari atau sore hari.
- Perlancar pencernaan. Ini penting BGT. Gak mau kan nanti di tengah gunung tiba-tiba butuh ngeluarin “itu”. Ada temen gw yang kalo bepergian ke gunung suka bawa diapet atau entrostop (obat pengeras feses), jadi buat penahan biar gak BAB. Gw kurang tau sih apakah tindakan itu aman di mata kesehatan. Tapi gw ngerasa……. Itu gak baik, karena mengganggu sistem alami tubuh. Kasian juga kalo harusnya lancar jadi dihambat. Persepsi gw aja sih hehehe.
- Baju Hangat bawa yang lengkap! Mulai dari jaket tebal, sleeping bag, sarung tangan, kaos kaki, pokoknya jangan ada yang terlewat deh. Gw pun awalnya agak menganggap enteng keperluan ini dengan alasan males bawa yang berat-berat (but seriously, kalo naik gunung harus siap ribet demi keamanan dan kenyamanan), karena di puncak, apalagi pas malem hari, bakal dingin banget. Jangan sampe kena hipotermia dan ngebahayain diri sendiri, atau malah ngerepotin orang lain.
- Bikin manajemen perjalanan. Ini adalah hal mendasar yang selalu diajarin oleh para senior gw di kampus kalo mau melakukan perjalanan ke alam liar *tsah*. Percaya deh, hal apapun kalo terarah dan termanage bakal mempermudah tujuan kita. Jadi, manajemen perjalanan yang gw maksud adalah:
- targetin jam
maksimal buat tiba di puncak. Usahain banget udah mendirikan tenda sebelum
malam, jadi begitu udara dingin bisa langsung berjubel di dalem tenda
- bikin list APA
aja yang mau dibawa dan SIAPA yang membawa, pastiin tiap barang dibawa oleh
orang yang tepat. Misal, makanan dan minuman jangan dipusatkan di tas satu
orang, melainkan setiap orang harus bawa supaya menghindari kemungkinan
terburuk: kelaparan/kehausan di tengah jalan
OTW to Prau
Jalur yang kita
gunakan adalah via Patak Banteng. Untuk menuju basecamp Patak Banteng, kami
diantar oleh sanak famili temen gw dengan mobil. Di sekitar basecamp banyak
terdapat tempat penyewaan alat-alat outdoor, kami juga menyewa tenda di sini.
Setelah memastikan semuanya siap, kami memulai pendakian sekitar jam 15.30
WIB. Trek paling awal yang kita lalui adalah jalur anak tangga yang puanjang abis. setelah itu dilanjutkan dengan tanjakan aspal yang landai-landai curam. Kemudian, trek yang sebenarnya pun dimulai. Gak ada lagi aspal ditemui, melainkan tanjakan alami dari tanah yang semakin tinggi menjadi semakin curam. Suhu pun semakin turun sehingga nafas jadi sedikit sulit. Tapi pemandangannya mantap djiwa!
![]() |
| Up up |
Waktu itu, jadi kita secara gak
sengaja “mencar” jadi dua grup, yaitu grup pendiri tenda dan grup jalan santai
(wkwk). Bukan santai juga sih, tapi meyesuaikan kemampuan trekking temen yang
lain. Kalo grup pendiri tenda ini punya misi buat sampe ke puncak sebelum
matahari terbenam, maka diutuslah gw dan seorang temen buat mengemban tugas
suci tersebut. sedangkan yang lain jalan lebih lama, yang penting semua tetap
kuat dan sampe puncak bareng-bareng. Waktu itu gw dan satu temen gw udah
berhasil diriin tenda, tapi temen-temen yang lain belum sampe juga.
Malem pun
tiba, kita gak punya modal penerangan apapun selain hape temen gw. Fyi, hape gw
hilang waktu perjalanan dari Wonogiri ke Wonosobo *hiks*. Pikiran gw udah gak
tenang, apalagi trekking di saat malam itu berkali-kali lipat tantangannya.
Capek, ditambah gelap dan dingin. Tapi kekhawatiran gw seketika berubah jadi
bahagia dan haru ketika mereka tiba. Kalo gak salah waktu itu udah di atas jam
19.00 WIB. Salah satu dari mereka tadinya udah nyerah dan minta ditinggal aja,
tapi the power of friendship bisa bikin mereka sampe di puncak bareng-bareng.
Dan kocaknya mereka cuma bawa satu headlamp buat dipake berempat. Salute for
you guys!
![]() |
| Maafkan kamera yang tidak pro. aslinya bagus banget! |
Kita pun
menikmati suasana malam yang super romantis di puncak Prau. Beneran, saat itu
cuacanya lagi bagus banget. Bulan terpahat bulat sempurna, bergantung tepat di
atas lautan awan. Kerlip bintang menjadi atap kami semua. Di sebelah bulan,
Gunung Sindoro-Sumbing berdiri dengan perkasa. Ah, aku bahkan betah menatap
pemandangan itu hingga pagi –jika saja udaranya tak sedingin suhu dalam kulkas
–sambil berbincang ria bersama para sahabat. Bagi orang yang biasa hidup di
dataran rendah tanpa AC *kayak gw*, suhu udara malam itu membuat ingin masuk
saja ke dalam tenda dan berkemul sleeping bag. Ekspektasi awal yang mau
begadang sambil ngeliat pemandangan akhirnya dikubur dalam-dalam. Ketika kami
tidur (berjubel) di dalam tenda, gw ngerasa angin di puncak gunung bener-bener
kenceng saat tengah malam. Tenda kita serasa dihantam buat dirobohin, padahal
ternyata itu ulah angin.
Then the sun
rise! Hati gw gak henti-henti berdecak kagum liat sunrise ini. Subhanallah.
Mulai dari semburat jingga yang muncul secara halus, perlahan menyinari lautan
awan. Kemudian, sinar terang mentari mulai muncul ke permukaan, yang tiap
detiknya sangat berharga bahkan untuk ditinggal menoleh barang sebentar. Langit
jingga perlahan bertransformasi menjadi biru jernih, menciptakan penerangan
sempurna untuk berswafoto-ria. Suhu udara mulai naik hingga memberi sensasi
hangat-hangat sejuk.
![]() |
| Indescribable view |
![]() |
| Foto pake bendera biar kek anak-anak now |
Setelah puas foto-foto, kita masak sarapan. Kala itu kita
bikin nasi goreng ala anak gunung yang kemudian kita beri nama “nasi goreng
berdebu”. Karena emang di sini banyak angin dan debu-debu pegunungan pada masuk
ke nasi goreng kita, katanya sih memberi rasa petualangan.
![]() |
| Fried rice with dust sauce |
Kita melihat
penghuni tenda sebelah, kayaknya kok gak serempong kita. Wkwk, diketawain aja
deh. Mereka ngasih sejumlah bacang (makanan sejenis lontong) ke kita, padahal
makanan kita juga udah bejibun. Kita kira bakal banyak makan di sini, nyatanya
kaga. Tapi… pengalaman masak di pagi itu adalah pengalaman masak terindah buat
gw :’) kapan lagi ya bisa kayak gitu?
![]() |
| Sayonara, Prau |
Kemudian kita
turun gunung sekitar jam 08.30 WIB. Emang dasar cewe-cewe (sok) strong, setelah
itu kita berencana langsung caw jalan-jalan lagi ke Dieng. Kita dijemput lagi
sama sodara temen gw dan dianterin ke Dieng. Kok gak ngebolang aja? Menurut
temen gw, akses kendaraan di daerah sana cukup sulit jadi mobilitas kami lebih
baik dianter-jemput oleh sodara dia aja. Hehehe, jadi enak. Akhirnya tanpa
mandi dan masih dengan baju yang sama dengan kemarin, kita menyusuri spot-spot
asik di kawasan wisata Dieng. Ternyata di kawasan Dieng ini ada banyak atraksi
berbeda, dan beberapa berbayar-beberapa gratis. Kita sebagai mahasiswa yang
menjunjung tinggi sikap hemat maka dengan pasti hanya akan memasuki spot-spot
wisata yang gretong.
Telaga Warna
Awalnya gw
berekspektasi kalo telaga ini bakal berwarna hijau tosca bergradasi biru
seperti gambar-gambar yang muncul di google, tapi ternyata kalau diliat dari
dekat justru gak terlihat gradasi warnanya. Seharusnya kita liat dari tempat
yang tinggi. Karena kita udah kepalang turun ke tepi danau, yaudahlah kita
menyusuri danau aja. Jadilah kita jalan-jalan mengitari hampir setengah putaran
danau, karena gak tau lagi mau kemana wkwk.
![]() |
| Yuhu |
Di sekitar danau, ada area rawa
yang terlihat seperti daratan berumput. Namun ketika diinjak, kita bisa
tenggelam. Temen gw kemarin jadi korbannya. Kocak banget deh. Karena dia
petakilan, dia loncat-loncat ke daerah rawa yang dia kira itu daratan padat. Eh
ternyata dia gak bisa balik lagi karena terkepung sama tanah rawa. Kita udah
panik mau minta tolong orang, terus udah nyari-nyari kayu gede buat dijadiin
jembatan. Akhirnya, dia bisa loncat lagi ke tempat daratan setelah memberanikan
diri masuk ke dalam rawa. Hasilnya adalah celana dia terendam rawa hingga
selutut lebih. Ngeri juga kan, gw udah mikir aneh-aneh “jangan-jangan itu
lumpur hidup?” tapi gw masih ga tau seperti apakah sebenarnya lumpur hidup itu.
Kawah Sikidang
Spot lain yang
kita sambangi adalah Kawah Sikidang. Untuk mencapainya, kita perlu menuruni
sebuah lereng yang tidak terlalu terjal. Begitu tiba, kita akan menemui daratan
yang cukup luas dan landai. Kolam kawahnya dipagari. Kawah ini aktif
mengeluarkan gas belerang sehingga gw perlu menahan napas ketika mendekati area
ini.
Penyebab kemacetan
Telah
terpenuhinya target-target wisata kami menandakan kami harus pulang ke habitat
masing-masing. Kami menumpang bus jurusan Wonosobo-Jakarta untuk pulang.
Ternyata oh ternyata… banyaak jalanan di sepanjang Jawa Tengah sedang dipenuhi
rombongan arak-arakan 17 Agustus-an. Sebenernya sewaktu perjalanan
Wonogiri-Wonosobo juga kami menemui banyak arak-arakan di jalan, jadi ini
semacam parade anak-anak sekolah yang memakai kostum unik dan membawa berbagai
properti sambil diarak. Mereka kreatif banget, tema yang diusung macem-macem. Sepanjang
perjalanan sih gw terhibur karena bisa ngeledekin anak-anak yang kalo
di-dadah-in dari jendela jadi salting gitu. Wkwk. Tapi… ini bikin jalanan macet
parah. Well, ternyata masih ada imbasnya dengan perjalanan pulang kita ke
Jakarta. Yasudahlah hanya bisa bersabar.
Pulang
Akhirnya bus pun
sampai. Kita memilih turun di Terminal Bogor karena kita berencana naik
commuter line dari Stasiun Bogor. Dari Terminal kita naik angkot menuju Stasiun
Bogor. Saat itu dini hari, dan kaki kita semua pada tremor. Ngakak parah. Saat
menaiki JPO di depan St Bogor, kita kayak orang mabok yang gak bisa jalan. Dengan
susah payah, kita akhirnya bisa rebahan di lantai St Bogor. First time, gw
ngerasain nginep ala backpacker di St Bogor bareng temen-temen. Haha gak bisa
dilupain deh pokoknya! Capek, tapi kita semua bahagia :D
Oh iya, makasih banyak buat Mbak Melin dan keluarga yang udah mensponsori petualangan Wonosobo ini~
![]() |
| Bersama Nenek-nya Mba Mels di kebun salak |














