Pages

Cerita Akhir Tahun

28 Desember 2019
Aku baru sadar kalau tahun 2019 ini belum pernah buat tulisan lagi :')
entahlah, kalau dibilang gak punya waktu, sebenernya ada juga sih waktu luang untuk bisa mneghasilkan tulisan. tapi sekalinya punya waktu, rasanya aku mau melakukan hal-hal yang gak perlu bikin aku mikir, huehehe. karena di kerjaan udah mikir terus, aku merasa kalau otakku sudah mulai jompo, jadi harus di treatment biar kembali remaja lagi hehehe. caranya ya itu, kalau istirahat paling nonton youtube, film, paling bener ya baca buku tapi ga ditulis ulasannya. beda kalo dulu masih ada kemauan nulis poin-poin penting dari buku yang dibaca, sekarang cuma dibaca aja sambil berdoa supaya bisa diinget terus hikmahnya hahaha #sebuahkemunduran.

Soooo, how was this year?
Aku mencoba menyimpulkan tahun ini dengan sebuah kata yang bisa mewakili mostly part of the year: STRUGGLING YEAR
begitu baanyak kejadian yang bisa dikategorikan sebagai cobaan dan ujian yang memicu tumpahnya air mata, tapi sekaligus sebagai penempa diri ini menjadi sosok yang lebih kuat. aku belajar banyak dari ketidakpuasan, penolakan, kehilangan, dan hal-hal sendu lainnya. Tahun ini memberikanku masa di mana aku berada di titik terbawah dalam hidupku, namun ketika aku menengok kembali ke masa itu, aku menjadi lebih mengenal diriku sendiri #ceileeh. Ketika kamu jatuh, kamu bisa tahu seberapa tangguhnya dirimu. begitulah kira-kira. dan aku sekarang tahu kalau aku begitu tangguh.. wkwkwk .. luph luph myself deh pokoknya. I would like to give myself a standing applause :)

Oh ya, tahun ini juga menjadi sebuah turning point buatku, karena aku banyak berkontemplasi dan merenungi (ya kan emang kontemplasi itu artinya merenungi) hal-hal yang sebenernya aku mau dan aku gak mau. batasan-batasan apa aja yang boleh aku peduliin, karena selama ini aku terlalu banyak peduli sama banyak hal. harus bisa measure your ability dan bisa ngomong "cukup" atau "tidak" pada hal-hal yang membebani.. kesimpulannya sih, aku mau mulai nerapin minimalist lifestyle. dan aku mau mulai nerapin ke mindset aku dulu. mulai membuang hal-hal gak penting yang ada di pikiran. membuang sampah-sampah yang menumpuk di hati dan tubuh. hidup lebih sederhana tapi berarti.. untuk lifestyle yang lebih ke kelihatan dari luar, sementara belum diterapin, karena gaya hidup ini sangat sulit untuk diubah, gak papa perlahan yang penting berproses.

Salah satu langkah lainnya yang aku terapin adalah aku berhenti main instagram, facebook dan twitter. untuk IG, akunnya aku deactivated jadi gak bisa kubuka sama sekali. sementara fb dan twitter, akunnya masih aktif tapi hampir sama sekali gak pernah aku buka kecuali ada hal penting yang cuma bisa dicari tau lewat dua socmed itu. keputusan ini muncul karena aku cukup terganggu dengan ramainya netijen yang memperlihatkan kehidupannya, dan aku mulai membanding-bandingkan. padahal aku juga tau sih kalo yang mereka posting pasti cuma bagian happy-happy nya aja. yah, daripada aku ngabisin waktu buat liatin idup orang, atau malah mempublikasi hidup sendiri, mending waktunya buat yang lain aja~ eh tapi aku masih suka bikin WA story sih, hahaha, ini juga mau mulai aku kurangin deh. kalo bisa sih keep my live just for myself aja, dan gak semua hal harus diketahuin orang kan ;)

Semoga tahun depan bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, dan bisa lebih sering nulis di dini lagi. Aamiin.
Read more ...

Future

28 Desember 2019

Aku bangkit dari bangku taman kota yang sudah kusinggahi sejak 15 menit yang lalu. Tangan kananku masih menggenggam segelas kopi yang kubeli di minimarket dekat stasiun, sengaja kuhemat supaya bisa kuminum sambil berjalan nanti. Sepertinya berjalan sambil menyeruput kopi hangat akan memberi sensasi ala-ala winter di luar negeri, pikirku. Ah, imajinasiku jadi membayangkan kehidupan di negeri empat musim. Andai saja aku tidak terjebak di tempat ini, andai saja dulu aku tidak memilih keputusan itu, mungkin sekarang aku sedang berada di tempat yang bisa membuatku bahagia- a place that I sould be belong. Hei, memang kamu tahu kalau itu akan membuatmu bahagia? Salah satu sisi hatiku menentang imajinasiku dengan rasionalitasnya. Lho, sepertinya aku yang salah. Bukan imajinasiku yang terlalu liar, namun hatiku lah yang terlalu melankolis.
U should accept who you are now, ha. U’ve been here, there’s no a u-turn. Bibirku spontan tertarik ke kedua arah, bukan tersenyum, melainkan meringis.


Jam tanganku sudah menunjukkan waktu pukul 07.40. kakiku mulai menaikkan kecepatannya kala mengingat tinggal 20 menit tersisa untuk tiba di auditorium tempat akan dimulainya kelas pagi ini. Sedangkan aku masih harus mengejar satu bus dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Nasib memiliki rumah dan kampus yang lintas provinsi, dan membutuhkan tiga moda transportasi berbeda: kereta, bus, dan ojek. Sudah berkali-kali aku memohon restu untuk mengambil kost yang lebih dekat dengan kampus, namun mamah dengan segala teorinya tidak merestui itikadku. Baginya, selama masih bisa pulang ke rumah, itu masih jauh lebih baik ketimbang menjadi anak kost. Begitulah, sekali mamah bertitah akupun tidak mampu membantahnya, meskipun raga ini setiap harinya menjerit karena tidak mendapat perlakuan manusiawi di dalam kereta lintas kota. Mau enak? Naik taksi aja sana! Begitulah omel ibu-ibu yang tidak terima jika disalahkan atas ketidaknyamanan penumpang lainnya. Ada benarnya, tapi tetap saja semua harus saling menghargai kan? Jaga sikapmu, dan jaga ucapanmu.


Masih setengah jalan untuk tiba di halte bus yang akan datang dalam waktu 3 menit lagi. Aku berlari. Kopi di tangan kananku meluap dari tutupnya akibat goncangan yang kuberikan. Biarlah semua menumpahi tanganku, bahkan ini masih lebih baik dibandingkan luapan emosi dari dosen yang akan mengisi kelas pagi ini jika aku terlambat. Mau bagaimana lagi? Tamu bulananku sedang dalam masa puncaknya, perutku nyeri tidak karuan sehingga 15 menit tadi kuhabiskan dengan duduk di bangku taman hingga aku kuat berdiri lagi. Kalau alasan ini sampai tidak bisa diterima, kuyakin bapak itu akan menjomblo selamanya karena tidak bisa memahami kondisi perempuan. Kadang aku tak habis pikir dengan orang yang terlalu emosional seperti itu. Semua mahasiswanya harus membuat tugas dengan sempurna, jika tidak maka dia akan menggila. Pernah sekali dia tidak masuk mengajar karena pernah ada anak yang tidur di kelasnya, dan anak tersebut tidak diluluskan untuk satu semester di kelasnya. Benar-benar seseorang dengan daya ingat mengagumkan. Dan pengingat yang baik dengan sifat pendendam sungguhlah menakutkan. Mengingat hal tersebut, aku menaikkan lagi kecepatan lariku.


Dari kejauhan kulihat bus yang kutuju sudah mendekati halte. Seluruh hasil jogging ku setiap minggu sungguh berguna di saat-saat seperti ini. Syukurlah, tepat sebelum pintu bus ditutup aku sudah melompat ke dalamnya. Dengan terhuyung aku melangkah menuju sudut jendela, mencari sandaran. Entah apa yang berada di luar sana, bus yang melaju kencang tiba-tiba direm mendadak. Aku sontak terpental hingga kepalaku membentur sandaran kursi penumpang, dan seluruh pandanganku menjadi hitam.


Aku terbangun di tempat yang tak asing. Sebuah kasur dengan seprei kodok, persis seperti seprei yang sudah kubuang setahun lalu karena warnanya telah lusuh. Lho, mengapa seprei ini masih terpasang sekarang? Dan kamarku. Hei, mengapa kamarku seperti ini? di depanku terpampang schedule board yang berisikan berbagai kegiatanku selama sebulan ini. Mulai dari kegiatan akademis, organisasi, dan perkumpulan lainnya. Aku terjerembab di atas kasurku. Sepertinya jadwalku tidak sepadat ini. Aku termangu kala melihat sebuah tanggal dengan sebuah agenda yang sangat familiar. Tanggal 20 Agustus 2013: Ospek fakultas, kumpul jam 7 pagi. Bisakah ini kupercaya? Aku kembali ke masa di mana aku masih menjalani orientasi mahasiswa S1. Tepatnya mundur ke 6 tahun yang lalu…

Read more ...