Aku bangkit dari bangku taman kota yang sudah kusinggahi
sejak 15 menit yang lalu. Tangan kananku masih menggenggam segelas kopi yang
kubeli di minimarket dekat stasiun, sengaja kuhemat supaya bisa kuminum sambil berjalan
nanti. Sepertinya berjalan sambil menyeruput kopi hangat akan memberi sensasi ala-ala
winter di luar negeri, pikirku. Ah, imajinasiku jadi membayangkan kehidupan di
negeri empat musim. Andai saja aku tidak terjebak di tempat ini, andai saja
dulu aku tidak memilih keputusan itu, mungkin sekarang aku sedang berada di tempat
yang bisa membuatku bahagia- a place that
I sould be belong. Hei, memang kamu tahu kalau itu akan membuatmu bahagia? Salah
satu sisi hatiku menentang imajinasiku dengan rasionalitasnya. Lho, sepertinya
aku yang salah. Bukan imajinasiku yang terlalu liar, namun hatiku lah yang
terlalu melankolis.
U should accept who
you are now, ha. U’ve been here, there’s no a u-turn. Bibirku spontan
tertarik ke kedua arah, bukan tersenyum, melainkan meringis.
Jam tanganku sudah menunjukkan waktu pukul 07.40. kakiku
mulai menaikkan kecepatannya kala mengingat tinggal 20 menit tersisa untuk tiba
di auditorium tempat akan dimulainya kelas pagi ini. Sedangkan aku masih harus
mengejar satu bus dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Nasib memiliki rumah
dan kampus yang lintas provinsi, dan membutuhkan tiga moda transportasi
berbeda: kereta, bus, dan ojek. Sudah berkali-kali aku memohon restu untuk
mengambil kost yang lebih dekat dengan kampus, namun mamah dengan segala teorinya
tidak merestui itikadku. Baginya, selama masih bisa pulang ke rumah, itu masih
jauh lebih baik ketimbang menjadi anak kost. Begitulah, sekali mamah bertitah
akupun tidak mampu membantahnya, meskipun raga ini setiap harinya menjerit
karena tidak mendapat perlakuan manusiawi di dalam kereta lintas kota. Mau enak? Naik taksi aja sana! Begitulah
omel ibu-ibu yang tidak terima jika disalahkan atas ketidaknyamanan penumpang
lainnya. Ada benarnya, tapi tetap saja semua harus saling menghargai kan? Jaga
sikapmu, dan jaga ucapanmu.
Masih setengah jalan untuk tiba di halte bus yang akan
datang dalam waktu 3 menit lagi. Aku berlari. Kopi di tangan kananku meluap
dari tutupnya akibat goncangan yang kuberikan. Biarlah semua menumpahi tanganku,
bahkan ini masih lebih baik dibandingkan luapan emosi dari dosen yang akan
mengisi kelas pagi ini jika aku terlambat. Mau bagaimana lagi? Tamu bulananku
sedang dalam masa puncaknya, perutku nyeri tidak karuan sehingga 15 menit tadi
kuhabiskan dengan duduk di bangku taman hingga aku kuat berdiri lagi. Kalau alasan
ini sampai tidak bisa diterima, kuyakin bapak itu akan menjomblo selamanya
karena tidak bisa memahami kondisi perempuan. Kadang aku tak habis pikir dengan
orang yang terlalu emosional seperti itu. Semua mahasiswanya harus membuat
tugas dengan sempurna, jika tidak maka dia akan menggila. Pernah sekali dia
tidak masuk mengajar karena pernah ada anak yang tidur di kelasnya, dan anak
tersebut tidak diluluskan untuk satu semester di kelasnya. Benar-benar seseorang
dengan daya ingat mengagumkan. Dan pengingat yang baik dengan sifat pendendam
sungguhlah menakutkan. Mengingat hal tersebut, aku menaikkan lagi kecepatan lariku.
Dari kejauhan kulihat bus yang kutuju sudah mendekati halte.
Seluruh hasil jogging ku setiap minggu sungguh berguna di saat-saat seperti
ini. Syukurlah, tepat sebelum pintu bus ditutup aku sudah melompat ke dalamnya.
Dengan terhuyung aku melangkah menuju sudut jendela, mencari sandaran. Entah apa
yang berada di luar sana, bus yang melaju kencang tiba-tiba direm mendadak. Aku
sontak terpental hingga kepalaku membentur sandaran kursi penumpang, dan seluruh
pandanganku menjadi hitam.
Aku terbangun di tempat yang tak asing. Sebuah kasur dengan
seprei kodok, persis seperti seprei yang sudah kubuang setahun lalu karena warnanya
telah lusuh. Lho, mengapa seprei ini masih terpasang sekarang? Dan kamarku. Hei,
mengapa kamarku seperti ini? di depanku terpampang schedule board yang
berisikan berbagai kegiatanku selama sebulan ini. Mulai dari kegiatan akademis,
organisasi, dan perkumpulan lainnya. Aku terjerembab di atas kasurku. Sepertinya
jadwalku tidak sepadat ini. Aku termangu kala melihat sebuah tanggal dengan
sebuah agenda yang sangat familiar. Tanggal 20 Agustus 2013: Ospek fakultas,
kumpul jam 7 pagi. Bisakah ini kupercaya? Aku kembali ke masa di mana aku masih
menjalani orientasi mahasiswa S1. Tepatnya mundur ke 6 tahun yang lalu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar