Pages

Double “Wono” Experience

29 Maret 2018
Tulisan ini asli late post banget. Gw udah nulis dari taun lalu tapi belum kelar sepenuhnya, dan barulah gw rampungkan sekarang alih-alih ngisi waktu luang menunggu panggilan kerja. So, kali ini gw akan bercerita tentang perjalanan menyambangi dua daerah “Wono” yang terjadi saat gw masih berstatus mahasiswi bahagia nan mempesona *prett*.
Let’s cekidot~


Bagi mahasiswa Geografi, jalan-jalan adalah kebutuhan semi primer. Bukan sekadar untuk have fun, tapi juga untuk melatih insting sebagai seorang geographer *tsah*. Perjalanan ini dilakukan pada pertengahan Agustus 2016 (liburan semester genap) bersama temen-temen gw. Kami menyambangi dua kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki awalan kata serupa, yaitu Wonogiri dan Wonosobo. fyi, kata wono memiliki makna hutan dalam bahasa Jawa. Meskipun sama-sama berhutan, tapi karakteristik hutan yang mereka miliki berbeda. Biar lebih enak ceritanya, gw bakal pecah tulisan ini jadi dua sub-judul.


Wonogiri

Lokasi Wonogiri terhadap Jawa

Perjalanan ke Wonogiri ini pada dasarnya dilakukan dalam rangka menjalankan penelitian “ala-ala” dari organisasi di kampus kami. Sebut saja organisasi itu bernama Kelompok Studi Geografi UI atau disingkat KSG UI. Penelitian itu berjudul Potensi Ekowisata pada Wilayah Karst Gunungsewu di Kabupaten Wonogiri.

Karst? what the he** is that?

Karst adalah bentukan muka bumi yang terbentuk dari pelarutan batu gamping atau batuan lainnya yang mengandung CaCO3. Gampangnya sih, ketika kita liat tanah kapur atau batuan kapur, maka wilayah itu bisa jadi merupakan bentukan karst. Bisa jadi lho ya.. karena karst butuh proses yang lama untuk terbentuk, jadi nggak semua wilayah dengan batuan gamping atau kapur bisa dibilang wilayah karst. Bentukan karst contohnya adalah gua (termasuk interiornya), bukit karst, menara karst, dolina, uvala, dsb.

Nah, Wonogiri ini termasuk dalam wilayah karst terbesar di Pulau Jawa, yang dinamakan wilayah karst Gunungsewu. Karst Gunungsewu merupakan bentangalam karst yang memanjang di sebelah selatan Jawa dan meliputi 3 kabupaten, yaitu: Gunungkidul (Provinsi DIY), Wonogiri (Provinsi Jateng), dan Pacitan (Provinsi Jatim). Gunungsewu ini keren banget guys kalo dilihat lewat foto udara. Tapi jangan salah ya.. Gunungsewu ini bukan nama gunung, melainkan sebutan untuk wilayah karst yang dicirikan dengan banyaknya gugusan bukit karst di wilayah tersebut, makanya seakan-akan kayak ada “seribu gunung” (sewu=gunung).


Melihat dari keunikan bentangalam karst itulah, anak-anak dari organisasi gw memutuskan buat ngadain penelitian di daerah karst. Berhubung ketua dari organisasi kami saat itu punya sanak sodara di Wonogiri, maka jadilah kita spesifikan wilayah penelitian kita di Wonogiri aja. Poin plusnya juga kita dapet supporting system berupa tempat menginap dan lebih gampang juga buat berinteraksi dengan masyarakat di sana.

Untuk mencapai Wonogiri, kita naik kereta dan turun di Stasiun Purwosari yang berada di Surakarta. Dari sana, kita lanjut naik bus ke Wonogiri. Perjalanan naik bus di Wonogiri ini mantap banget. Jalurnya naik turun kayak di puncak, mana abangnya ngebut pula. Rasa ngantuk gw gak bisa tersalurkan karena badan gw sering terpental mengikuti alur jalan.


Survei lapang!

Hari berikutnya, survei lapang pun dimulai. Ini nih kesukaan gw. kita dibagi perkelompok berdasarkan geomer (wilayah penelitian) yang berbeda-beda. Waktu itu gw ber-7 dengan temen-temen gw, mendapat geomer di Kecamatan Pracimantoro, tepatnya kebagian 3 desa, yaitu: Desa Glinggang, Desa Wonodadi dan Desa Tubokarto. Tujuan kita adalah mencari obyek fisik karst baik yang udah dikembangkan menjadi objek wisata maupun yang belum (atau memang tidak), dan juga mewawancarai masyarakat setempat untuk melengkapi variabel sosial-budaya.

Sepanjang survei berjalan, kita menemukan obyek fisik karst berupa gua, mata air, dan dolina (secara lokal disebut dengan luweng). Meskipun kita menemui sejumlah gua, baru satu gua yang sudah dikembangkan menjadi objek wisata. Namanya gua Kencono Putri yang berada di Desa Wonodadi.
Sebelumnya mohon maap ya karena ada insiden hape ilang, foto-foto yang gw simpen selama penelitian jadi hilang semua :( ini sisa yang ada di kamera action dan hasil snapshot-an video


Di depan gua nemu ini


Interior Gua Kencono Putri, ada banyak stalaktit dan stalagmit

Sayangnya, objek wisata ini pun udah menurun eksistensinya dan mulai kehabisan pengunjung. Padahal gua ini punya endokarst yang lengkap dan fasilitas pendukung yang cukup memadai seperti toilet dan akses yang dekat dengan jalan raya. Sebagaimana kepercayaan orang Indonesia pada umumnya, sebagian dari mereka masih menganggap gua sebagai tempat yang keramat. Banyak yang mendatangi gua untuk menyampaikan hajat, meminta kesuksesan, dll. Pun juga di gua Kencono Putri ini. Di dalem gua ini kami menemukan beberapa titik yang diberikan sesajen. Selain itu, di luar gua juga ada larangan bagi perempuan haid untuk memasuki gua. Hm, apa ya alasannya?

Warning sign di depan pintu masuk gua


Selama survei, kami banyak bertanya pada warga mengenai keberadaan obyek karst di sekitar tempat tinggal mereka. Kami juga mendatangi kantor kelurahan setempat untuk tanya-tanya dengan aparatur desa. Di sini gw terharu banget karena di salah satu kantor kelurahan, kami dibeliin nasi bungkus buat makan siang. Dijamu selayaknya tamu banget deh. Mereka juga nganterin kita ke tempat sebuah luweng yang letaknya lumayan terpencil di dalem hutan. Bahkan mereka juga minjemin motor buat kita pake ke salah satu gua. Tapi karena motornya kurang, mereka minta anak-anak yang lagi pada maen di kelurahan buat nganterin kita pake motor mereka. Pengalaman gak terlupakan deh pokoknya!


Luweng

Susah banget buat ngambil gambar ini karena luwengya terletak di tengah-tengah hutan

Nah, gw sebenernya ga bisa mastiin apakah ini dolina ataukah gua vertikal. Yang jelas, lubang ini dalem banget dan ada air di bawahnya. Masyarakat setempat cerita kalo di daerah ini ada harimau jadi-jadian yang kadang menampakkan diri, dan luweng itu adalah rumah harimau tersebut. Menarik kan?

Pantai

KSG UI's birthday celebration at Pantai Nampu

Setelah selesai dengan kegiatan survei, kita semua caw ke Pantai Nampu buat ngerayain ulang taun organisasi kita tertjintah. Aksesnya harus pake kendaraan pribadi. Jalannya bergelombang, berliku dan rada sempit semakin mendekati pantai. Pantainya bagus, tipikal pantai terbuka yang dihiasi dengan karang landai di area shoreline. Ada gugusan bukit juga di sebelah timurnya.


Museum Karst

Objek wisata ketjeh terbaru abad ini: Museum Karst Indonesia!
Gak ada foto tersisa dari tempat ini, so gw comot gambar dari solopos.com

Kawasan karst Gunungsewu ini merupakan kawasan geopark yang udah diakui secara internasional, maka penting buat kawasan ini untuk punya fasilitas penunjang yang mumpuni. Museum karst ini berada di Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. Didesain secara apik, pengunjung bisa memuaskan dahaga mereka tentang seluk beluk karst. Kita bisa melihat replika, peraga, gambar, diorama, dan menikmati pemutaran film pendek tentang kawasan karst Gunungsewu. Ini semua bisa kita nikmati secara GRATIS! Menurut gw, Museum Karst Indonesia adalah museum terbaik yang pernah gw kunjungi sampai saat ini. Worth to try!

Petualangan gw di Wonogiri ditutup dengan kesan yang sangat baik karena masyarakat di sana sangat ramah. Kalo mau ke kamar mandi, tinggal dateng ke rumah siapapun dan sang pemilik rumah akan sangat welcome. Pada malam terakhir, kita melakukan sosialisasi kecil-kecilan yang dirangkap dengan pesta tujuh belasan masyarakat, lalu dipererat dengan acara makan bersama. Sungguh, kehangatan masyarakat yang kayak gini ternyata masih nyata adanya *terharu*.

Selesai kegiatan di Wonogiri, gw dengan 5 orang temen memang udah berencana untuk mampir ke rumah salah satu dari mereka yang orang asli Wonosobo. Jadilah kami berenam, sekelompok wanita berhati sutra, bermental baja, berstamina kuda; bertekad menjelajahi Wonosobo sampai dengkul tak sanggup lagi. Yuhuuuuu.


Wonoso-wow!

Target utama kami ke Wonosobo ini adalah buat menjejakkan kaki di puncak Gunung Prau. Ya, gunung yang menjanjikan panorama langit dan lautan awan di depan mata ini harus kami tapaki. Bagi gw pribadi, ini adalah pertama kalinya mendaki gunung sampe puncak. Meskipun dulu waktu masih maba ada beberapa kegiatan ekskursi ke kawasan Gunung Salak, tapi kita cuma mendaki sampe lereng gunung. Sampe lereng aja itu rasanya capek banget. Ya, buat ukuran pemula itu udah jadi gambaran seberapa besar usaha yang harus dilakukan buat sampai ke puncak. Pasti berkali-kali lipat lebih capek dari itu. Beberapa tips yang bisa gw kasih sebelum memulai kegiatan berat (in this case, mountaineering) adalah :

  1. Jogging! Perbanyak olahraga sebelum memulai perjalanan berat. Biarkan otot dan tubuh kita terbiasa dengan kerja keras sehinggga nanti gak “kaget”. Nah, cara yang paling enak itu adalah jogging, baik itu pagi hari atau sore hari.
  2. Perlancar pencernaan. Ini penting BGT. Gak mau kan nanti di tengah gunung tiba-tiba butuh ngeluarin “itu”. Ada temen gw yang kalo bepergian ke gunung suka bawa diapet atau entrostop (obat pengeras feses), jadi buat penahan biar gak BAB. Gw kurang tau sih apakah tindakan itu aman di mata kesehatan. Tapi gw ngerasa……. Itu gak baik, karena mengganggu sistem alami tubuh. Kasian juga kalo harusnya lancar jadi dihambat. Persepsi gw aja sih hehehe.
  3. Baju Hangat bawa yang lengkap! Mulai dari jaket tebal, sleeping bag, sarung tangan, kaos kaki, pokoknya jangan ada yang terlewat deh. Gw pun awalnya agak menganggap enteng keperluan ini dengan alasan males bawa yang berat-berat (but seriously, kalo naik gunung harus siap ribet demi keamanan dan kenyamanan), karena di puncak, apalagi pas malem hari, bakal dingin banget. Jangan sampe kena hipotermia dan ngebahayain diri sendiri, atau malah ngerepotin orang lain.
  4. Bikin manajemen perjalanan. Ini adalah hal mendasar yang selalu diajarin oleh para senior gw di kampus kalo mau melakukan perjalanan ke alam liar *tsah*. Percaya deh, hal apapun kalo terarah dan termanage bakal mempermudah tujuan kita. Jadi, manajemen perjalanan yang gw maksud adalah:
- bikin target mau ke mana aja dan kapan, atau bisa dibilang rundown kasar perjalanan
- targetin jam maksimal buat tiba di puncak. Usahain banget udah mendirikan tenda sebelum malam, jadi begitu udara dingin bisa langsung berjubel di dalem tenda
- bikin list APA aja yang mau dibawa dan SIAPA yang membawa, pastiin tiap barang dibawa oleh orang yang tepat. Misal, makanan dan minuman jangan dipusatkan di tas satu orang, melainkan setiap orang harus bawa supaya menghindari kemungkinan terburuk: kelaparan/kehausan di tengah jalan


OTW to Prau

Jalur yang kita gunakan adalah via Patak Banteng. Untuk menuju basecamp Patak Banteng, kami diantar oleh sanak famili temen gw dengan mobil. Di sekitar basecamp banyak terdapat tempat penyewaan alat-alat outdoor, kami juga menyewa tenda di sini. Setelah memastikan semuanya siap, kami memulai pendakian sekitar jam 15.30 WIB. Trek paling awal yang kita lalui adalah jalur anak tangga yang puanjang abis. setelah itu dilanjutkan dengan tanjakan aspal yang landai-landai curam. Kemudian, trek yang sebenarnya pun dimulai. Gak ada lagi aspal ditemui, melainkan tanjakan alami dari tanah yang semakin tinggi menjadi semakin curam. Suhu pun semakin turun sehingga nafas jadi sedikit sulit. Tapi pemandangannya mantap djiwa!

Up up

Waktu itu, jadi kita secara gak sengaja “mencar” jadi dua grup, yaitu grup pendiri tenda dan grup jalan santai (wkwk). Bukan santai juga sih, tapi meyesuaikan kemampuan trekking temen yang lain. Kalo grup pendiri tenda ini punya misi buat sampe ke puncak sebelum matahari terbenam, maka diutuslah gw dan seorang temen buat mengemban tugas suci tersebut. sedangkan yang lain jalan lebih lama, yang penting semua tetap kuat dan sampe puncak bareng-bareng. Waktu itu gw dan satu temen gw udah berhasil diriin tenda, tapi temen-temen yang lain belum sampe juga.

Malem pun tiba, kita gak punya modal penerangan apapun selain hape temen gw. Fyi, hape gw hilang waktu perjalanan dari Wonogiri ke Wonosobo *hiks*. Pikiran gw udah gak tenang, apalagi trekking di saat malam itu berkali-kali lipat tantangannya. Capek, ditambah gelap dan dingin. Tapi kekhawatiran gw seketika berubah jadi bahagia dan haru ketika mereka tiba. Kalo gak salah waktu itu udah di atas jam 19.00 WIB. Salah satu dari mereka tadinya udah nyerah dan minta ditinggal aja, tapi the power of friendship bisa bikin mereka sampe di puncak bareng-bareng. Dan kocaknya mereka cuma bawa satu headlamp buat dipake berempat. Salute for you guys!

Maafkan kamera yang tidak pro. aslinya bagus banget!

Kita pun menikmati suasana malam yang super romantis di puncak Prau. Beneran, saat itu cuacanya lagi bagus banget. Bulan terpahat bulat sempurna, bergantung tepat di atas lautan awan. Kerlip bintang menjadi atap kami semua. Di sebelah bulan, Gunung Sindoro-Sumbing berdiri dengan perkasa. Ah, aku bahkan betah menatap pemandangan itu hingga pagi –jika saja udaranya tak sedingin suhu dalam kulkas –sambil berbincang ria bersama para sahabat. Bagi orang yang biasa hidup di dataran rendah tanpa AC *kayak gw*, suhu udara malam itu membuat ingin masuk saja ke dalam tenda dan berkemul sleeping bag. Ekspektasi awal yang mau begadang sambil ngeliat pemandangan akhirnya dikubur dalam-dalam. Ketika kami tidur (berjubel) di dalam tenda, gw ngerasa angin di puncak gunung bener-bener kenceng saat tengah malam. Tenda kita serasa dihantam buat dirobohin, padahal ternyata itu ulah angin.

Then the sun rise! Hati gw gak henti-henti berdecak kagum liat sunrise ini. Subhanallah. Mulai dari semburat jingga yang muncul secara halus, perlahan menyinari lautan awan. Kemudian, sinar terang mentari mulai muncul ke permukaan, yang tiap detiknya sangat berharga bahkan untuk ditinggal menoleh barang sebentar. Langit jingga perlahan bertransformasi menjadi biru jernih, menciptakan penerangan sempurna untuk berswafoto-ria. Suhu udara mulai naik hingga memberi sensasi hangat-hangat sejuk.
Indescribable view


Foto pake bendera biar kek anak-anak now

Setelah puas foto-foto, kita masak sarapan. Kala itu kita bikin nasi goreng ala anak gunung yang kemudian kita beri nama “nasi goreng berdebu”. Karena emang di sini banyak angin dan debu-debu pegunungan pada masuk ke nasi goreng kita, katanya sih memberi rasa petualangan.

Fried rice with dust sauce
Kita melihat penghuni tenda sebelah, kayaknya kok gak serempong kita. Wkwk, diketawain aja deh. Mereka ngasih sejumlah bacang (makanan sejenis lontong) ke kita, padahal makanan kita juga udah bejibun. Kita kira bakal banyak makan di sini, nyatanya kaga. Tapi… pengalaman masak di pagi itu adalah pengalaman masak terindah buat gw :’) kapan lagi ya bisa kayak gitu?


Sayonara, Prau

Kemudian kita turun gunung sekitar jam 08.30 WIB. Emang dasar cewe-cewe (sok) strong, setelah itu kita berencana langsung caw jalan-jalan lagi ke Dieng. Kita dijemput lagi sama sodara temen gw dan dianterin ke Dieng. Kok gak ngebolang aja? Menurut temen gw, akses kendaraan di daerah sana cukup sulit jadi mobilitas kami lebih baik dianter-jemput oleh sodara dia aja. Hehehe, jadi enak. Akhirnya tanpa mandi dan masih dengan baju yang sama dengan kemarin, kita menyusuri spot-spot asik di kawasan wisata Dieng. Ternyata di kawasan Dieng ini ada banyak atraksi berbeda, dan beberapa berbayar-beberapa gratis. Kita sebagai mahasiswa yang menjunjung tinggi sikap hemat maka dengan pasti hanya akan memasuki spot-spot wisata yang gretong.

Telaga Warna

Awalnya gw berekspektasi kalo telaga ini bakal berwarna hijau tosca bergradasi biru seperti gambar-gambar yang muncul di google, tapi ternyata kalau diliat dari dekat justru gak terlihat gradasi warnanya. Seharusnya kita liat dari tempat yang tinggi. Karena kita udah kepalang turun ke tepi danau, yaudahlah kita menyusuri danau aja. Jadilah kita jalan-jalan mengitari hampir setengah putaran danau, karena gak tau lagi mau kemana wkwk.

Yuhu


Di sekitar danau, ada area rawa yang terlihat seperti daratan berumput. Namun ketika diinjak, kita bisa tenggelam. Temen gw kemarin jadi korbannya. Kocak banget deh. Karena dia petakilan, dia loncat-loncat ke daerah rawa yang dia kira itu daratan padat. Eh ternyata dia gak bisa balik lagi karena terkepung sama tanah rawa. Kita udah panik mau minta tolong orang, terus udah nyari-nyari kayu gede buat dijadiin jembatan. Akhirnya, dia bisa loncat lagi ke tempat daratan setelah memberanikan diri masuk ke dalam rawa. Hasilnya adalah celana dia terendam rawa hingga selutut lebih. Ngeri juga kan, gw udah mikir aneh-aneh “jangan-jangan itu lumpur hidup?” tapi gw masih ga tau seperti apakah sebenarnya lumpur hidup itu.


Kawah Sikidang

Spot lain yang kita sambangi adalah Kawah Sikidang. Untuk mencapainya, kita perlu menuruni sebuah lereng yang tidak terlalu terjal. Begitu tiba, kita akan menemui daratan yang cukup luas dan landai. Kolam kawahnya dipagari. Kawah ini aktif mengeluarkan gas belerang sehingga gw perlu menahan napas ketika mendekati area ini.

Penyebab kemacetan

Telah terpenuhinya target-target wisata kami menandakan kami harus pulang ke habitat masing-masing. Kami menumpang bus jurusan Wonosobo-Jakarta untuk pulang. Ternyata oh ternyata… banyaak jalanan di sepanjang Jawa Tengah sedang dipenuhi rombongan arak-arakan 17 Agustus-an. Sebenernya sewaktu perjalanan Wonogiri-Wonosobo juga kami menemui banyak arak-arakan di jalan, jadi ini semacam parade anak-anak sekolah yang memakai kostum unik dan membawa berbagai properti sambil diarak. Mereka kreatif banget, tema yang diusung macem-macem. Sepanjang perjalanan sih gw terhibur karena bisa ngeledekin anak-anak yang kalo di-dadah-in dari jendela jadi salting gitu. Wkwk. Tapi… ini bikin jalanan macet parah. Well, ternyata masih ada imbasnya dengan perjalanan pulang kita ke Jakarta. Yasudahlah hanya bisa bersabar.

Pulang


Akhirnya bus pun sampai. Kita memilih turun di Terminal Bogor karena kita berencana naik commuter line dari Stasiun Bogor. Dari Terminal kita naik angkot menuju Stasiun Bogor. Saat itu dini hari, dan kaki kita semua pada tremor. Ngakak parah. Saat menaiki JPO di depan St Bogor, kita kayak orang mabok yang gak bisa jalan. Dengan susah payah, kita akhirnya bisa rebahan di lantai St Bogor. First time, gw ngerasain nginep ala backpacker di St Bogor bareng temen-temen. Haha gak bisa dilupain deh pokoknya! Capek, tapi kita semua bahagia :D
Oh iya, makasih banyak buat Mbak Melin dan keluarga yang udah mensponsori petualangan Wonosobo ini~
Bersama Nenek-nya Mba Mels di kebun salak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar