Beberapa minggu belakangan ini, aku merasakan beban berat di kepalaku. Beban yang terakumulasi dari masalah personal dan tekanan pekerjaan yang sedang gila-gilanya di awal tahun. Berbarengan dengan itu, kondisi lelah fisik akibat working from 7-9 (yes, I spend 13 hours a day to work in average) membuatku akhirnya terkonfirmasi positif terpapar Covid-19. Singkat cerita, situasi ini membawaku menghabiskan 10 hari isolasi mandiri di sebuah tempat. Mengurung diri dari lingkungan luar, mengubah pola rutinitas yang sudah terbiasa, bukan hal mudah. Meskipun terdengar sebagai hal yang cukup menyenangkan, istirahat dalam waktu isolasi mandiri ini perlahan membuatku bosan setengah mati. sudah 2 season drama korea kulumat dalam 5 hari pertama, selebihnya aku bingung ingin berbuat apa lagi. Kata mereka, lakukanlah hal yang bisa membuat bahagia sehingga imunitas tubuh meningkat. Tapi kalau aku menuruti itu, waktu isoman ku hanya akan diisi untuk menontoni drama yang kadang bikin stress juga karena tokoh-tokohnya yang bikin geram, haha.
Until one day my mind turn to its sanity. Aku berpikir kenapa
nggak aku manfaatkan waktu luang ini untuk melakukan hal-hal yang selama ini
aku ingin lakukan tapi selalu tertunda karena alasan tidak ada waktu. That Aha
moment drove myself to start opening laptop which I didn’t think to open it
before, except if there’s emergency work. Kala aku menekan tombol power,
berbagai hal langsung terlintas di benakku: membenahi file-file di storage ku,
menginstall software penting yang belum ada di laptop, belajar untuk persiapan
TOEFL, dan sebagainya. Ah, ternyata banyak sekali hal yang bisa kulakukan, dan itupun
bukan hal yang memberatkan pikiranku. Justru aku senang melakukannya, tapi
tidak terpikirkan karena aku terlalu dimabukkan oleh drama yang sebenarnya… apa
ya manfaatnya? Ternyata benar bahwa waktu luang itu merupakan salah satu bentuk
ujian, tidak mudah ternyata untuk bisa mengatur waktu luang. Ada kemungkinan
bahwa justru diri kita yang akan diatur oleh waktu luang.
Di sela-sela waktu yang terlalu luang ini, kusempatkan diri
untuk berkontemplasi akan hal-hal yang telah kulalui belakangan ini. Mencoba
untuk menggali lebih dalam, mencari akar dari setiap cabang permasalahan.
Teringat Kembali akan salah satu episode dari channel YouTube Greatmind dalam
seri Weak Ties-nya, yang berjudul Burnout. Rasanya, apa-apa yang kualami sama
persis dengan kondisi yang dijelaskan dalam video tersebut, dan aku menyadari
bahwa penyebab kepalaku “sakit” akhir-akhir ini adalah karena aku mengalami
burnout. Singkatnya, pikiran dan fisik yang terlalu diforsir melebihi
kapasitasnya. Mungkin bagi orang workaholic, overwork bisa dianggap sebagai
rutinitas yang bisa ia nikmati. Tapi tidak semua orang menganggap work time
se-joyful itu. Ada api semangat yang bisa memantik potensi seseorang, namun ada
juga yang justru bisa membakar orang lain. Ditambah lagi dengan tempo fast-living
dan multi-tasking yang diterapkan, aku merasa semakin tercekik dalam lingkungan
keseharianku. Betapa sedihnya Ketika ada seseorang yang berkata kepadaku suatu
hari “jangan kerja terus, hidup bukan Cuma buat di kantor doang” hell yeah I
agree with that but…. i trapped in that condition and currently still looking
for the way out.
So, how to get out of it?
1.
Identify things you should say “No” for
Sadar bahwa aku adalah tipikal
people-pleaser dan ga enakan, kerap kali hal apapun yang diminta orang lain ku
“iya”-kan semua. Sebenarnya ide ini sejalan dengan keyakinanku bahwa hidup
adalah proses pembelajaran, sehingga setiap hal yang datang adalah challenge
untuk mengupgrade diri. Tapi kini aku sadar bahwa ide itu tetap harus di-adjust
dengan kondisi masing-masing individu. Jika kamu orang yang capable untuk
handle many things at once, dan memang se-powerful itu, ga ada masalah untuk
meng-iyakan banyak hal. Karena nyatanya memang ada orang yang tidak bisa “tidak
sibuk” karena itulah yang membuatnya happy. Namun kalau diri kita adalah tipe
yang mencari balance untuk hal-hal lain, harus lebih pintar mengatur mana porsi
yang bisa kita sediakan untuk setiap kegiatan. I choose to make things balance,
so I should prioritize what really matters. Lantas, gimana cara untuk mengatakan
“tidak” bagi orang yang ga enakan? Coba untuk menolak dengan yakin, sertakan
alasan dengan cara yang baik tanpa menyinggung atau terkesan eksklusif.
Semangat mencoba, lama-lama akan terbiasa 😊
2. Create your own rules/ life commandments
Aku menyadari bahwa memegang prinsip hidup
itu sangat penting, karena hidup di antara masyarakat yang memiliki beragam
cara pandang bisa mengikis value yang sudah kita pegang sebelumnya. Ini berarti
harus diawali terlebih dahulu dengan membangun “values” atau nilai-nilai hidup
yang menjadi landasan kita dalam menjalani kehidupan, yang bisa menjadi guide saat
kita kehilangan arah. Seperti misalnya, aku mempelajari ilmu finansial dari
buku maupun video serta membaca pengalaman-pengalaman hidup orang lain tentang manajemen
keuangan, dampaknya adalah aku memahami value penting tentang finansial
sehingga aku berprinsip bahwa aku tidak akan berhutang demi gaya hidup semata. Nah,
hal-hal seperti ini tentunya ada banyak sekali seiring pengalaman hidup kita
yang bertambah setiap harinya. Supaya nggak lupa, ada baiknya values hidup yang
kita temukan di setiap perjalanan itu ditulis menjadi semacam your own rules lists.
Dengan prinsip yang kita pegang teguh, maka karakter diri akan semakin kuat dan
tidak mudah “diapusi”.
Dalam hal pekerjaan, value yang aku pegang
adalah bahwa aku bekerja untuk penghidupan, bukan hidup untuk bekerja. Sehingga
dalam 24 dalam sehari, aku tidak akan membiarkan semua waktuku tersita untuk memikirkan
pekerjaan. Tentunya itu di luar tanggung jawab yang harus diselesaikan ya. Selain
itu, Kembali kepada filosofi apa yang bisa aku lakukan dalam posisiku ini? Tentunya
melakukan tugas sebaik-baiknya, tanpa motif tertentu. Fokuslah kepada apa manfaat
yang bisa aku beri, bukan apa yang akan aku terima dari pekerjaan ini.
Sementara dua poin itu dulu, sebetulnya ada
lagi sih, tapi karena suatu hal tertentu, aku akan lanjutkan nanti ya 😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar